Rabu, 29 Mei 2013

ASFIKSIA


1.      Afiksia Bayi Baru Lahir
a.    Pengertian
Asfiksia bayi baru lahir adalah dimana bayi tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan factor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan atau segera setelah bayi ahir (Wiknjosastro, 2007)
b.    Penyebab asfiksia
Menurut Proverawati (2010) beberapa faktor  yang menyebabkan asfiksia pada bayi adalah
1.      Faktor ibu
Oksignasi  darah ibu yang tidak mncukupi akibat hipoventilasi selama anestesi, penyakit jantung, gagal pernafasan, keracunan karbon monoksida, dan tekanan darah ibu yang rendah akan menyebabkan asfiksia pada janin. Gangguan aliran darah uterus dapat menyebabkan berkurangnya pengaliran oksigen ke plasenta dan janin. Hal ini sering ditemukan pada gangguan kontraksi uterus, misalnya hipertoni, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat,hipotensi mendadak pada ibu karena pendarahan ,hipertensi pada penyakit akiomsia dan lain-lain.
2.      Faktor plasenta
 Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta Asfiksia janin dapat terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya: plasenta tipis, plasenta kecil, plasenta tak menempel, solusio plasenta, dan perdarahan pasenta.
3.      Faktor  tali pusat
Kompresi umbikus dapat mengakibatkan tergantungnya aliran darah dalam pembuluh dalah umbilicus dan menghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan pada keadaaan : tali pusat pendek, simpul tali pusat, prolapsus tali pusat, tali pusat menumbung, tali pusat melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, dan lain-lain.
4.      Factor neonatus
Depresi pusat pernafasan pada bayi baru lahir dapat terjadi oleh karena pemakaian obat anesthesia/analgetika yang berlebihan pada ibu secara langsung dapat menimbulkan depresi pusat pernafasan janin, maupun karena trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya hernia intracranial. Kelainan congenital pada bayi, misalnya hernia diafrakmatika atresia atau stenosis saluran pernafasan, hipoplasia paru dan lain-lain.
5.      Persalinan dan kelahiran
a.  Narcosis akibat pemberiaan analgesic dan anastesi yang berlebihan;
b.  Hipotensi Anoksia akibat kontraksi uterus yang terlampau kuat dan berlangsung lama;
c.  Maternal akibat anstesi spinal;
d. Obstruksi saluran nafas akibat aspirasi darah, lender dan debris vaginal;
e.  Partus lama
f.   Kelahiran yang sukar (dengan atau tanpa forcep/vakum ekstraksi) sehingga menyebabkan perdarahan cerebral atau kekurangan pada system syaraf pusat.
c.         Penilaian  Bayi baru lahir
          Penilaian  Bayi baru lahir dengan menjawab prtanyaan mengenai Bayi baru lahir; apakah cukup bulan? Apakah bayi bersih dari mekonium? Bernafas dan menangis? Tonus otot baik? Apabila jawabannya ya, lakukan perawatan rutin; member kehangatan, membersihkan jalan nafas dan mengeringkan bayi. Apabila jawabannya tidak, harus melanjutkan kelangkah awal resusitas baru lahir (Saifudin, 2002)


Langkah Resusitasi (Depkes RI. 2008)
Tahap I: Langkah awal
1. Jaga bayi tetap hangat
-        Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas perut ibu atau sekitar 45 cm dari perineum
-        Selimuti bayi dengan kain tersebut, wajah, dada dan perut tetap terbuka, potong tali pusat
-        Pindahkan bayi yang telah diselimuti kain ke-1 ke atas kain ke-2 yang telah digelar di tempat resusitasi
-        Jaga bayi tetap diselimuti wajah dan dada terbuka di bawah pemancar panas.
2. Atur posisi bayi
-        Letakkan bayi di atas kain ke-1 yang ada di atas ibu atau sekitar 45 cm dari perineum
-        Posisikan kepala bayi pada posisi menghidu yaitu kepala sedikit ekstensi dengan mengganjal bahu.
3. Isap lendir
Gunakan alat penghidap DeLee dengan cara sebagai berikut:
-        Isap lendir mulai dari mulut dahulu, kemudian hidung
-        Lakukan pengisapan saat alat pengisap ditarik keluar, tidak pada waktu dimasukkan
-        Jangan lakukan pengisapan terlalu dalam yaitu jangan lebih dari 5 cm ke dalam mulut karena dapat menyebabkan denyut jantung bayi menjadi lambat atau bayi tiba-tiba berhenti bernapas. Untuk hidung jangan melewati cuping hidung.
Jika dengan balon karet penghisap lakukan dengan cara sebagai berikut:
-        Tekan bola di luar mulut dan hidung
-        Masukkan ujung pengisap di mulut dan lepaskan tekanan pada bola (lendir akan terisap)
-        Untuk hidung, masukkan di lubang hidup sampai cuping hidung dan lepaskan.
4. Keringkan dan rangsang bayi
-        Keringkan bayi dengan kain ke-1 mulai dari muka, kepala dan bagian tubuh lainnya dengan sedikit tekanan. Tekanan ini dapat merangsang BBL mulai menangis
-        Rangsangan taktil berikut dapat juga dilakukan untuk merangsang BBL mulai bernapas:
a.       Menepuk/ menyentil telapak kaki; atau
b.      Menggosok punggung/ perut/ dada/ tungkai bayi dengan telapak tangan
-        Ganti kain ke-1 yang telah basah dengan kain ke-2 yang kering dibawahnya
-        Selimuti bayi dengan kain kering tersebut, jangan menutupi muka dan dada agar bisa memantau pernapasan bayi.
5. Atur kembali posisi kepala bayi
-        Atur kembali posisi kepala bayi sehingga kepala sedikit ekstensi
Langkah penilaian bayi
-        Lakukan penilaian apakah bayi bernapas normal, tidak bernapas atau megap-megap
a.       Bila bayi bernapas normal: lakukan asuhan pasca resusitasi
b.      Bila bayi megap-megap atau tidak bernapas: mulai lakukan ventilasi bayi.
Tahap II: Ventilasi
Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukkan sejumlah volume udara ke dalam paru dengan tekanan positif untuk membuka alveoli paru agar bayi bisa bernapas spontan dan teratur.
Langkah-langkah:
1. Pasang sungkup
Pasang dan pegang sungkup agar menutupi dagu, mulut dan hidung.


2. Ventilasi 2 kali
-        Lakukan tiupan atau remasan dengan tekanan 30 cm air.
Tiupan awal tabung-sungkup atau remasan awal balon-sungkup sangat penting untuk menguji apakah jalan napas bayi terbuka dan membuka alveoli paru agar bayi bisa mulai bernapas.
-        Lihat apakah dada bayi mengembang
Saat melakukan tiupan atau remasan perhatikan apakah dada bayi mengembang.
Jika tidak mengembang:
-        Periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara yang bocor
-        Periksa posisi kepala, pastikan posisi sudah menghidu
-        Periksa cairan atau lendir di mulut. Bila ada lendir atau cairan lakukan pengisapan
-        Lakukan tiupan atau remasan 2 kali dengan tekanan 30 cm air, jika dada mengembang lakukan tahap berikutnya.
3. Ventilasi 20 kali dalam 30 detik
-        Tiup tabung atau remas balon resusitasi sebanyak 20 kali dalam 30 detik dengan tekanan 20 cm air sampai bayi mulai bernapas spontan dan menangis
-        Pastikan dada mengembang saat dilakukan tiupan atau peremasan, setelah 30 detik lakukan penilaian ulang napas.
Jika bayi mulai bernapas/ tidak megap-megap dan atau menangis, hentikan ventilasi bertahap.
a.       Lihat dada apakah ada retraksi
b.      Hitung frekuensi napas per menit
Jika bernapas >40 per menit dan tidak ada retraksi berat:
-        Jangan ventilasi lagi
-        Letakkan bayi dengan kontak kulit ke kulit dada ibu dan lanjutkan asuhan BBL
-        Pantau setiap 15 menit untuk pernapasan dan kehangatan
-        Jangan tinggalkan bayi sendiri.
Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, lanjutkan ventilasi.
4. Ventilasi, setiap 30 detik hentikan dan lakukan penilaian ulang napas:
a.       Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air)
b.      Setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan penilaian ulang bayi, apakah bernapas, tidak bernapas atau megap-megap
-        Jika bayi mulai bernapas normal/ tidak megap-megap dan atau menangis, hentikan ventilasi bertahap dan lakukan asuhan pasca resusitasi.
-        Jika bayi megap-megap atau tidak bernapas, teruskan ventilasi 20 kali dalam 30 detik kemudian lakukan penilaian ulang napas setiap 30 detik.
5. Siapkan rujukan jika bayi belum bernapas spontan sesudah 2 menit resusitasi
-        Jelaskan kepada ibu apa yang terjadi, apa yang Anda lakukan dan mengapa
-        Mintalah keluarga untuk mempersiapkan rujukan
-        Teruskan ventilasi selama mempersiapkan rujukan
-        Catat keadaan bayi pada formulir rujukan dan rekam medik persalinan
6. Lanjutkan ventilasi, nilai ulang napas dan nilai denyut jantung
-        Lanjutkan ventilasi 20 kali dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air) setiap 30 detik, hentikan ventilasi, kemudian lakukan nilai ulang napas dan nilai jantung.
-        Jika dipastikan denyut jantung bayi tidak terdengar, ventilasi 10 menit. Hentikan resusitasi jika denyut jantung tetap tidak terdengar, jelaskan kepada ibu dan berilah dukungan kepadanya serta lakukan pencatatan.
-        Bayi yang mengalami henti jantung 10 menit kemungkinan besar mengalami kerusakan otak yang permanen.


d.        Penilaian dengan nilai APGAR (Appereance, Pulse, Grimace, activity, respiratory)
Nilai APGAR merupakan metode obyektif untuk menilai kondisi bayi baru lahir dan berguna untuk memberikan informasi mngenai keadaan bayi secara keseluruhan dan keberhasilan tindakan resusitasi. Walaupun demikian tindakan resusitasi harus dimulai sebelum perhitungan APGAR. Jadi niai APGAR tidak digunakan untuk menentukan apakah seorang bayi memerlukan resusitasi.
Tabel 2.1 Nilai APGAR
KLINIS
0
1
2
Detak Jantung
Tidak Ada
< 100x/menit
>100 x/menit
Pernafasan
Tidak Ada
Tak teratur
Tangis kuat
Refreks saat jalan nafas dibersihkan
Tidak Ada
Menyeringai
Batuk/bersin
Tonus Otot
Lunglai
Fleksi ekstrimitas (lemah)
Fleksi kuat gerak aktif
Warna Kulit
Biru pucat
Tubuh merah ekstrimitas biru
merah seluruh tubuh
                            Sumber : Varney (2007)
Keterangan :
Nilai 0-3        : Asfiksia berat
Nilai  4-6       : Asfiksia sedang
Nilai 7-9        : Bayi normal atau asfiksia ringan
Nilai 10         : Bayi normal
Dilakukan pemantauan nilai APGAR pada menit ke-1 dan menit ke-5, Bila nilai APGAR 5 menit masih kurang dari 7 penilaian dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor mencapai 7. Nilai APGAR berguna untuk meniai keberhasilan resusitasi bayi baru lahir dan menentukan prognosis, bukan untuk memulai resusitasi karena resusitasi dimulai 30 detik setelah lahir bila bayi tidak menangis.(bukan 1 menit seperti penilaian skor APGAR).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar