Rabu, 29 Mei 2013

BBLR


1.      Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
a.       Pengertian BBLR
Defenisi bayi berat lahir rendah (BBLR) yang dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu:
     BBLR didefenisikan oleh internasional  classification of dieses dari Word Health Organization (1961) sebagai kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram. BBLR adalah bayi baru lahir yang berat badannya saat ahir kurang dari 2500 gram ( sampai dengan 2499 gram), (Saifuddin, 2001).
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah neonates dngan berat lahir pada saat keahiran kurang dari 2500 gram. WHO menyebutkan bahwa semua bayi yang baru lahir dengan berat lahir kurang dari 2500 gram disebut low birth weight infants atau disebut dengan BBLR. Istilah prematuritas telah diganti dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) karena terdapat 2 bentuk penyebab kelahiran bayi dngan berat badan kurang dari 2500 gram yaitu karena umur kehamilan kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari semestinya, sekalipun umur cukup atau kombinasi dari keduanya (Manuaba, 2010).
     Dari beberapa defenisi bayi berat lahir rendah (BBLR) tersebut dapat disimpulkan bahwa bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat kurang dari 2500 gram tanpa memandang masa gestasinya.
b.      Klasifikasi BBLR
Berdasarkan Penanganan dan harapan hidupnya, (1) bayi berat lahir rendah (BBLR), berat lahir 1500- 2500 gram; (2) bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR), berat lahir <1500 gram; dan (3) bayi berat lahir ekstrem rendah (BBLER), berat lahir <1000 gram (Saifuddin, 2007). Bayi dengan berat lahir rendah mungkin premature (kurang bulan) dan juga mungkin cukup bulan (dismatur). Kategori BBLR adalah (Wiknjosastro, 2007)
1)      Prematurita murni
Prematurita murni adalah masa gestasinya kurang dari 37 minggu dan berat badannya sesuai dengan berat badan untuk masa gestasi itu. Prematurutas murni biasa disebut neonatus kurang bulan sesuai untuk  masa kehamilan (NKB SMK). Pada bayi prematur mempunyai cirri-ciri antara lain: (1) berat lahir sama dengan atau kurang dari 2500 gram; (2) panjang badan kurang atau sama dngan 45 cm; (3) lingkar dada kurang dari 30 cm; (4) lingkar kepala kurang dari 33 cm; (5) umur kehamilan kurang dari 37 minggu; (6) kulit tipis ; (7) lanugo banyak; (8) lemak subkutan kurang; (9) sering tampak peristaltic usus; (10) tangisan lemah dan jarang; (11) pernafasan tidak teratur dan sering terjadi apnea; (12) reflek tonik leher lemah dan reflek moro positif; dan (13) gerakan otot jarang tetapi lebih dari bayi cukup bulan.
2)      Dismaturitas
Dismaturitas adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari seharusnya untuk masa gestasi itu. Berarti bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterine dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK) (Manuaba, 2007). Dismatur dapat terjadi dalam 3 kemungkinan, yaitu preterm (neonatus kurang bulan-kecil masa kehamilan), term (neonatus cukup bulan-kecil masa kehamilan), dan postterm (neonatus lebih bulan-kecil masa kehamilan).
Ciri-ciri bayi dismaturitas antara lain: (1) berat kurang dari berat badan untuk masa gestasinya; (2) umur kehamilan lebih kecil atau sama dengan 37 minggu; (3) kulit kering keriput dan mudah diangkat; (4) lanugo sedikit; (5) lemak subkutan kurang atau sedikit (6) panjang badan dan lingkar kepala normal pada umur kehamilan lebih dari 37 minggu; (7) bayi kelihatan kurun dan lebih panjang. Hasil penelitian menemukan berat otak, jantung, paru dan ginjal bertambah sedangkan berat hati, limpa berkurang dibanding bayi premature dengan berat yang sama ( Wiknjosastro, 2007).
c.       Faktor-faktor predisposisi terjadinya BBLR
 Faktor-faktor yang mempengaruhi BBLR yaitu: faktor ibu, factor uterus dan plasenta, faktor janin, faktor kebiasaan, faktor tidak diketahui (Manuaba, 2010).
1)      Faktor ibu;
a)      Malnutrisi
Kehamilan menyebabkan meningkatkan metabolisme energi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin, pertambahan besarnya organ kandungan, perubahan metabolisme ibu. Kekurangan zat gizi tertentu yang diperlukan saat hamil dapat menyebabkan janin tumbuh tidak sempurna dan BBLR.
b)      Umur
Usia reproduksi sehat bagi wanita adalah usia 20-35 tahun, karena pada usia tersebut sudah mengalami kamatangan fungsi organ reproduksi. Ibu hamil dengan usia kurang dari 20 tahun organ reproduksinya belum matang dan belum berfungsi secara optimal untuk hamil sehingga dapat merugikan kesehatan ibu maupun pertumbuhan janin. Sedangkan pada usia lebih dari 35 tahun organ-organ tubuh sudah mengalami penurunan fungsi sehingga ibu hamil pada usia tersebut dapat melahirkan bayi dngan BBLR. Hasil penelitian mendapatkan 64% peningkatan kejadian persalinan premature pada populasi wanita italia berusia 35 tahun atau lebih terutama pada primitua (Krisnadi, 2009).
c)      Anemia
Anemia dalam kehamilan akan menyebabkan resiko keguguran, persalinan premature, hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim, mudah terjadi infeksi, hiperemesis gravidarum, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini dan pada saat persalinan dapat mengakibatkan gangguan his-kekuatan mengejan, partus lama, retensio pasenta, perdarahan post partum primer maupun sekunder (Wiknjosastro, 2008).
 Sedangkan pengaruh anemia terhadap janin dapat terjadi gangguan seperti: abortus, kematian intrauterine, persalinan prematuritas tinggi, berat badan ahir rendah, kelahiran dengan anemia, dapat terjadi cacat bawaan. Sekalipunn tampaknya janin mampu menyerap berbagai kebutuhan dari ibunya tetapi dengan anemia dapat mengurangi kemampuan metabolisme tubuh sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin  dalam rahim (Wiknjosastro, 2007).
Suplai zat-zat gizi ke janin yang sedang tumbuh tergantung pada jumlah darah ibu yang mengalir keplasenta dan zat-zat makanan yang diangkutnya. Efisiensi plasenta dalam mengkonsentrasikan, mensintesis dan transport zat-zat makanan menentukan suplai makanan ke janin. Pada ibu hamil yang anemia, pasikan oksigen, masukan nutrisi berkurang sehingga akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan janin (Manuaba,2010).
d)     Jarak kehamilan terlalu dekat
Seorang ibu memerlukan waktu 2-3 tahun antara kehamilan agar pulih secara fisologik dari persalinan dan mempersiapkan diri untuk hamil berikutnya. Semakin pendek jarak kehamilan antara dua kahiran semakin besar resiko melahirkan BBLR akibat komplikasi dari perdarahan antpartum, dan anemia berat. Jarak kehamilan panjang berhubungan dengan berkurangnya fungsi organ reproduksi ibu dan keelastisan otot-otot (Manuaba,2010).
e)      Penyakit menahun ibu
Penyakit menahun ibu seprti hipertensi, hipotensi, pre eklampsia, gangguan pembuluh darah, toksemia gravidarum, penyakit ginjal, DM, penyakit paru, gizi buruk, penyakit jantung. Penyakit tersebut bisa mengakibatkan BBLR karena fungsi jaringan plasenta sering mengalami gangguan dan hambatan sehingga aliran darah ke spatium intervillosum akan berkurang. Akibatnya suplai gizi untuk kebutuhab janin akan terhambat dan terjadilah janin tumbuh lambat. Pada pre eklampsia dan klampsia spasmus pembuluh darah yang mnyuplai ke uterus menyebabkan menurunnya aliran darah dan oksigenasi ke plasenta mengakibatkan  gangguan fungsi plasenta dan pertumbuhan janin terganggu sehingga memudahkan terjadinya partus premature (Wiknjosastro, 2007).
f)       Pendarahan antepartum
Kurangnya suplay darah dari ibu ke janin meenyebabkan kebutuhan oksigen dan nutrisi janin tidak terpengaruhi. Oleh karena itu janin yang dilahirkan akan mengalami berat badan rendah (Wiknjosastro,2007)
g)      Pre eklampsia-eklampsia
Salah satu perubahan fisioogi-patoligi pada kehamilan dengan pre eklampsia-eklampsia adaah spasmus pembuluh darah yang meyuplai ke uterus. Ini menyebabkan menurunnya aliran darah ke plasenta mengakibatkan pertumbuhan janin terganggu. Kepekaan terhadap perangsangan pada pre eklampsia dan eklampsia, memudahkan terjadinya partus premature (Wiknjosastro, 2007).
2)      Faktor janin
Factor dari janin yang dapat mempengaruhi terjadinya BBLR yaitu: cacat bawaan, kehamilan ganda, hidramnion, ketuban pecah dini, kelainan kromosom.
a)      Cacat bawaan
Bayi dengan keainan congenital yang berat sering mengaami retardasi pertumbuhan sehingga berat badan lahirnya rendah. Kelainan congenital lebih sering terjadi di antara bayi-bayi yang tumbuh lambat dan pada bayi yang tumbuh sesuai umur kehamilan (Wiknjosastro, 2007)
b)      Kehamilan ganda
Berat badan janin pada kehamilan kembar lebih ringan dari pada janin pada kehamilan tunggal pada umur kehamilan yang sama. Sampai kehamilan 30 minggu kenaikan berat badan janin kembar sama dengan janin kehamilan tunggal. Setelah itu kenaikan berat badan lebih kecil, mungkin karena regangan yang berebihan menyebabkan peredaran darah pasenta kurang. Umumnya berat badan bayi yang baru lahir pada kehamilan kembar kurang dari 2500 gram (wiknjosastro, 2007).
c)      Ketuban pecah dini
Ketuban pecah dini yaitu ketuban pecah sebelum dalam persalinan yaitu pembukaan 3 cm pada primipara dan 5 cm pada multipara, walaupun ibu belum menunjukan gejala infeksi intrauterine lebih dulu terjadi (amnionitis, vaskilitis) sehingga gejala ibu baru dirasakan. Janin yang terinfeksi akan lahir tidak sempurna dengan berat bayi lahir rendah (wiknjosastro,2007)
d)     Kelainan kromosom
Keainan kromosom akan menyebabkan gangguan pada muskulus arterioli sehingga menimbulkan gangguan sirkulasi darah retroplasenter dan janin tumbuh dalam bentuk kcil masa kehamilan (KMK) (Manuaba, 2010)
3)      Faktor uterus dan plasenta
Hal ini berkaitan dengan faktor-faktor lain yang dapat terjadi pada kondisi tersebut seperti kecenderungan untuk hamil pada usia muda, tidak menikah, mengaami lebih banyak stress, nutrisi yang kurang, tidak dapat memanfaatkan pelayanan kesehatan, merokok atau pemakaian obat-obatan dan kekerasan fisik. (Manuaba, 2010)
Faktor uterus dan plasenta
a)      Kelainan pembuluh darah
Kelainan pembuuh darah menyebabkan terjadi gangguan sirkuasi retroplasenter shingga menimbulkan kekurangan nutrisi, oksigen dan lainnya. Akibatnya dapat menimbulkan tumbuh kembang terhambat dan terjadi BBLR (Manuaba, 2010).
b)      Insersi tali pusat tidak normal
Insersi tali pusat berada di luar pasenta, dan hubungan plasnta melalui selaput janin disebut insersi velamentosa. Jika tali pusat berinsensi di luar plasenta, setiap gerakan janin intrauterine dapat menimbulkan gangguan aliran darah menuju janin. Sehingga plasenta tidak bisa mengusahakan janin tumbuh dengan baik, dan berdampak bayi BBLR (Manuaba, 2010).
c)      Uterus bikornus
Ibu yang mempunyai kelainan uterus bikornus akan menyebabkan pertumbuhan janin tidak maksimal di rahim, dikarenakan uterus yang kecil sehingga pertumbuhan janin terganggu dan mnyebabkan BBLR (Wiknjosastro, 2007)
d)     Infark plasenta
Kematian jaringan pada plasenta menyebabkan sirkulasi sari-sari makanan ke janin terganggu. Oleh karena itu pertumbuhan janin tidak sempurna (Wiknjosastro,2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar