Kamis, 30 Mei 2013

ASKEB NIFAS PATOLOGI DENGAN BENDUNGAN ASI


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1.    Nifas
A. Definisi
Masa nifas atau masa yang disebut juga masa post partum atau puerperium adalah dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil yang berlangsung selama enam minggu (Suherni, 2008). Masa puerperium atau masa nifas dimulai setelah satu jam lahirnya plasenta sampai dengan enam minggu atau 42 hari (Saifuddin, 2008).
B.     Klasifikasi Masa Nifas
Nifas dapat dibagi kedalam 3 periode :
a.       Puerperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan.
b.      Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat – alat genetalia yang lamanya 6 – 8 minggu.
c.       Remote puerperium yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan sehat sempurnah baik selama hamil atau sempurna berminggu – minggu, berbulan – bulan atau tahunan.

C.  Tujuan Asuhan Nifas
Asuhan nifas bertujuan untuk :
1.      Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologiknya.
2.      Melaksanakan skrining yang komprehensip, mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
3.      Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi yang sehat.
4.      Memberikan pelayanan KB.
5.      Mempercepat involusi alat kandung.
6.      Melancarkan pengeluaran lochea, mengurangi infeksi puerperium.
7.      Melancarkan fungsi alat gastro intestinal atau perkamihan
8.      Meningkatkan kelancaran peredarahan darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.

D.  Perubahan–Perubahan Yang Terjadi Pada Masa Nifas
1.      Perubahan Fisiologi Masa Nifas Pada Sistem Reproduksi
Pada masa nifas ini akan terjadi perubahan fisiologi, yaitu :
a.       Alat genitalia
Alat-alat genitalia interna maupun eksterna akan berangsur-angsur pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil atau sering disebut involusi,selain itu juga perubahan-perubahan penting lain,yakni hemokonsentrasi dan timbulnya laktasi karena laktogenik hormone dari kelenjar hipofisis terhadap kelenjar mammae.
b.      Fundus Uteri
Setelah plasenta lahir, TFU setinggi pusat, beratnya mencapai 1000 gr, diameter 12,5 cm.Setelah 1 minggu, TFU ½ pstsymphisis, beratnya 500 gr, diameter 7,5 cm.
Setelah 14 hari TFU tidak teraba, beratnya 350 gr, 5 cm
6 minggu post partum, TFU Normal, beratnya 60 gr, diameter 2,5 cm.
c.       Serviks
Segera setelah post partum bentuk servik agak menganga seperti corong. Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan servik uteri tidak berkontraksi, sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks uteri terbentuk semacam cincin.
d.      Ligamen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang selama kehamilan dan partus, setelah jalan lahir, berangsur-angsur ciut kembali seperti sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan uterus jatuh ke belakang. Tidak jarang pula wanita mengeluh “kandungannya turun” setelah melahirkan karena ligamenta, fasia, jaringan alat penunjang genetalia menjadi menjadi agak kendor. Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang alat genitalia tersebut, juga otot-otot dinding perut dan dasar panggul dianjurkan untuk melakukan latihan-latihan tertentu. Pada 2 hari post partum sudah dapat diberikan fisioterapi. Keuntungan lain adalah dicegahnya pula statis darah yang dapat mengakibatkan thrombosis masa nifas.

2.      Perubahan Psikologis Dalam Masa Nifas
Periode masa nifas merupakan suatu waktu yang sangat rentan untuk terjadinya stress, terutama pada ibu primipara sehingga dapat membuat perubahan psikologis yang berat. Periode adaptasi psikologi masa nifas, dideskripsikan oleh Reva Rubin ada 3, yaitu:
a.       Taking in Period
1.      Terjadi pada hari 1-2 setelah persalinan, ibu umumnya menjadi pasif dan sangat tergantung dan fokus perhatian terhadap tubuhnya.
2.      Ibu lebih mengingat pengalaman melahirkan dan persalinan yang dialami
3.      Tidur yang tidak terganggu sangat penting buat ibu untuk mencegah efek kurang baik yaitu kurang tidur, kelemahan fisik, gelisah, gangguan proses pemulihan kesehatan.
4.      Tambahan makanan kaya gizi sangat penting dibutuhkan sebab nafsu makan biasanya akan meningkat. Kurang nafsu makan memberi indikasi bahwa proses pemulihan kesehatan tidak berlangsumg normal.

b.      Taking Hold Period
1.      Periode ini berlangsung pada 3-4 hari setelah persalinan, ibu menjadi berkonsentrasi pada kemampuannya menjadi ibu yang sukses, dan menerima tanggung jawab sepenuhnya terhadap perawatan bayinya
2.      Fokus perhatiannya pada kontrol fungsi tubuh misalnya proses defekasi dan miks, kekuatan, dan daya tahan tubuh ibu
3.      Ibu mulai merasa sanggup dan terampil merawat bayinya seperti menggendong, memandikan, menyusui bayinya dan mengganti popok
4.      Ibu menjadi sangat sensitif pada masa ini sehingga mungkin membutuhkan bimbingan dan dorongan perawat untuk mengatasi kritikan yang dialami ibu
Bidan sebaiknya memberikan penyuluhan dan support emosional pada ibu
e.       Letting go Period
1.      Periode ini umumnya dialami oleh ibu setelah ibu tiba dirumah dan secara penuh merupakan waktu pengaturan
2.      Kumpul bersama keluarga
3.      Ibu telah menerima tanggung jawab sebagai ibu dan ibu merasa menyadari kebutuhan bayinya sangat tergantung kesiapannya sendiri sebagai ibu, ketergantungannya kepada orang lain, serta dipengaruhi oleh interaksi sosial budaya keluarga.

E.     Tujuan Kunjungan Masa Nifas
Kunjungan masa nifas terdiri dari :
1.      Kunjungan I
6- 8 jam setelah persalinan :
Tujuannya :
a.       Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri.
b.      Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, merujuk bila perdarahan berlanjut
c.       Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
d.      Pemberian ASI awal.
e.       Melakukan hubungan antara ibu dan bayi.
f.       Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi
2.      Kunjungan II
6   hari setelah persalinan :
Tujuannya: :
a.       Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada perdarahan abnormal, tidak ada bau.
b.      Menilai adanya tanda–tanda demam infeksi atau perdarahan abnormal.
c.       Memastikan ibu mendapat cukup makanan, minuman dan istirahat
d.      Memastikan ibu menyusui dengan dan memperhatikan tanda – tanda penyakit.
e.       Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari– hari.
3.      Kunjungan III
2 minggu setelah persalinan
Tujuannya :
Sama dengan di atas ( 6 hari setelah persalinan )
4.      Kunjungan IV
6  minggu setelah persalinan
Tujuannya
a.       Menanyakan ibu tentang penyakit – penyakit yang dialami
b.      Memberikan konseling untuk KB secara dini (Mochtar, 1998)

Tujuan kunjungan masa nifas antara lain yaitu :
a.       Menilai kondisi kesehatan ibu dan bayi
b.      Melakukan pencegahan terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya gangguan kesehatan ibu nifas dan bayinya
c.       Mendeteksi adanya komplikasi atau masalah yang terjadi pada masa nifas
d.      Menangani komplikasi atau masalah yang timbul dan mengganggu kesehatan ibu nifas maupun bayinya

F.      Perawatan Masa Puerperium
            Perawatan pueperium lebih aktif dengan dianjurkan untuk melakukan “ mobilisasi dini ”( early mobilization). Perawatan mobilisasi mempunya keuntungan :
a.       Melancarkan pengeluaran lokia, mengurangi infeksi pueperium
b.      Memperlancar involusi alat kandungan
c.       Melancarkan fungsi alat gastrointestinal dan alat perkemihan
d.      Menigkatkan kelancaran peredaran darah, sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme.

2.    BENDUNGAN ASI
A.      Definisi
Bendungan air susu adalah terjadinya pembengkakan pada payudara karena peningkatan aliran vena dan limfe sehingga menyebabkan bendungan ASI dan rasa nyeri disertai kenaikan suhu badan. (Prawirohardjo, 2005:700).
Pada hari-hari pertama, payudara sering terasa penuh dan nyeri disebabkan bertambahnya aliran darah ke payudara bersamaan dengan ASI mulai di produksi di dalam jumlah banyak (Ambarwati,2008)
Bila ibu menyusui bayinya :
Susukan sesering mungkin
  Kedua payudara disusukan
Ø  Kompres hangat payudara sebelum disusukan
Ø  Bantu dengan memijat payudara untuk pemulaan menyusui
Ø  Sangga payudara
Ø  Kompres dingin pada payudara di antara permulaan waktu menyusui
Ø  Bila demem tinggi berikan PCT 500 mg per Oral setiap 4 jam
Ø  Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk mengetahui hasilnya

Bila ibu  tidak menyusui :
Ø  Sangga payudara
Ø  Kompres dingin payudara untuk mengurangi pembengkakan dan rasa sakit
Ø  Bila di perlukan berikan PCT 500 mg per Oral setiap 4 jam
Ø  Jagan di pijat atau memakai kompres hangat payudara
Ø  Pompa dan kosongkan payudara

B.       Etiologi
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan bendungan ASI, yaitu:
1.    Pengosongan mamae yang tidak sempurna (Dalam masa laktasi, terjadi peningkatan produksi ASI pada Ibu yang produksi ASI-nya berlebihan. apabila bayi sudah kenyang dan selesai menyusu, & payudara tidak dikosongkan, maka masih terdapat sisa ASI di dalam payudara. Sisa ASI tersebut jika tidak dikeluarkan dapat menimbulkan bendungan ASI).
2.    Faktor hisapan bayi yang tidak aktif (Pada masa laktasi, bila Ibu tidak menyusukan bayinya sesering mungkin atau jika bayi tidak aktif mengisap, maka akan menimbulkan bendungan ASI).
3.    Faktor posisi menyusui bayi yang tidak benar (Teknik yang salah dalam menyusui dapat mengakibatkan puting susu menjadi lecet dan menimbulkan rasa nyeri pada saat bayi menyusu. Akibatnya Ibu tidak mau menyusui bayinya dan terjadi bendungan ASI).
4.    Puting susu terbenam (Puting susu yang terbenam akan menyulitkan bayi dalam menyusu. Karena bayi tidak dapat menghisap puting dan areola, bayi tidak mau menyusu dan akibatnya terjadi bendungan ASI).
5.    Puting susu terlalu panjang (Puting susu yang panjang menimbulkan kesulitan pada saat bayi menyusu karena bayi tidak dapat menghisap areola dan merangsang sinus laktiferus untuk mengeluarkan ASI. Akibatnya ASI tertahan dan menimbulkan bendungan ASI).

C.      Patofisiologi
Sesudah bayi lahir dan plasenta keluar, kadar estrogen dan progesteron turun dalam 2-3 hari. Dengan ini faktor dari hipotalamus yang menghalangi prolaktin waktu hamil, dan sangat di pengaruhi oleh estrogen tidak dikeluarkan lagi, dan terjadi sekresi prolaktin oleh hipofisis. Hormon ini menyebabkan alveolus-alveolus kelenjar mammae terisi dengan air susu, tetapi untuk mengeluarkan dibutuhkan refleks yang menyebabkan kontraksi sel-sel mioepitel yang mengelilingi alveolus dan duktus kecil kelenjar-kelenjar tersebut. Refleks ini timbul bila bayi menyusui. Apabila bayi tidak menyusu dengan baik, atau jika tidak dikosongkan dengan sempurna, maka terjadi bendungan air susu. Gejala yang biasa terjadi pada bendungan ASI antara lain payudara penuh terasa panas, berat dan keras, terlihat mengkilat meski tidak kemerahan. ASI biasanya mengalir tidak lancar, namun ada pula payudara yang terbendung membesar, membengkak dan sangat nyeri, puting susu teregang menjadi rata. ASI tidak mengalir dengan mudah dan bayi sulit mengenyut untuk menghisap ASI. Ibu kadang-kadang menjadi demam, tapi biasanya akan hilang dalam 24 jam (wiknjosastro,2005)

D.      Penatalaksanaan
a.       Upaya pencegahan untuk bendungan ASI adalah :
b.      Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah dilahirkan
c.       Susui bayi tanpa jadwal atau ondemand
d.      Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi
e.       Perawatan payudara pasca persalinan

Upaya pengobatan untuk bendungan ASI adalah :
a.       Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek
b.      Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap oleh bayi.
c.       Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI
d.      Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin
5.    Untuk mengurangi statis di vena dan pembuluh getah bening lakukan pengurutan (masase) payudara yang dimulai dari putin kearah korpus. (Sastrawinata, 2004)

B.Tinjauan asuhan kebidanan
Konsep asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI menurut manajemen kebidanan Varney.
1.                   Manajemen Kebidanan
a.        Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (PP IBI, 2006).
b.       Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan, ketrampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien (PPKC, 2002).
2.                   Langkah-langkah Manajemen Kebidanan menurut Varney
Menurut Varney (1997), proses manajemen kebidanan terdiri dari 7 (tujuh) langkah yang berurutan dimana setiap langkah disempurnakan secara periodik. Proses dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Ketujuh langkah tersebut membentuk suatu kerangka lengkap yang dapat diaplikasikan dalam situasi apapun. Ketujuh langkah manajemen kebidanan menurut Varney adalah sebagai berikut :
a.  Langkah I : Pengumpulan Data Dasar
Pada langkah pertama ini dilakukan pengkajian dengan pengumpulan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan klien secara lengkap, yaitu riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan, meninjau catatan terbaru atau catatan sebelumnya, meninjau data laboratorium dan membandingkan dengan hasil studi. Pada langkah ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dari sumber yang berkaitan dengan kondisi klien, bidan mengumpulkan data dasar awal yang lengkap.
b.       Langkah II : Interpetasi Data Dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan, sehingga ditemukan masalah atau diagnosis yang spesifik. Kata masalah atau diagnosa keduanya digunakan, karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnosa tetapi sungguh membutuhkan penanganan yang dituangkan ke dalam rencana asuhan kebidanan terhadap klien. Masalah yang berkaitan dengan wanita yang diidentifikasikan oleh bidan sesuai dengan pengarahan masalah ini sering menyertai diagnosa.
c.        Langkah III : Mengidentifikasi diagnosa atau masalah potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasikan masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasikan. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila kemungkinan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah potensial ini benar-benar terjadi. Pada langkah ini penting sekali melakukan asuhan  yang aman.
d.       Langkah IV : Identifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan atau untuk dikonsulkan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi. Langkah keempat ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodik atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus-menerus, misalnya pada waktu wanita tersebut dalam persalinan.
e.        Langkah V : Merencanakan asuhan yang menyeluruh
Pada langkah ini direncanakan asuhan yang menyeluruh, ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasikan atau antisipasi. Pada langkah ini informasi/data dasar yang tidak lengkap dapat dilengkapi rencana asuhan yang menyeluruh tidak hanya meliputi apa yang sudah diidentifikasi dan kondisi klien atau setiap masalah yang berkaitan tetapi juga dari kerangka pedoman antisipasi terhadap wanita tersebut seperti apa yang diperkirakan akan terjadi berikutnya
f.        Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan
Pada langkah keenam ini rencana asuhan menyeluruh seperti yang telah diuraikan pada langkah kesehatan dilaksanakan secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian oleh klien atau anggota tim kesehatan lainnya, jika bidan tidak melakukannya sendiri ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. Misalnya memastikan agar langkah-langkah tersebut benar-benar terlaksana dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan menyingkat waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dari asuhan klien.
g.       Langkah VII : Evaluasi
Pada langkah ketujuh ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasikan didalam masalah dan diagnosa rencana tersebut dapat dianggap efektif jika memang benar efektif pelaksanaannya, ada kemungkinan bahwa bagian sebagian rencana tersebut telah efektif sedang sebagian belum efektif (PPKC, 2002).
B.      Penerapan Manajemen Kebidanan pada kasus ibu nifas dengan mastitis
1.        Langkah I : Pengkajian
a.        Data Subyektif
1)       Identitas pasien
a)       Nama
Dimaksudkan untuk lebih mengenal pasien, memanggil pasien dan menghindari kekeliruan dengan pasien lain.
b)       Umur
Menurut Manuaba (1998), untuk mengetahui apakah ibu termasuk resiko tinggi atau tidak (umur reproduksi sehat adalah 20 – 35 tahun) selain itu dapat digunakan untuk menilai keadaan emosional ibu yang mana umur yang kurang dari 20 tahun pada sebagian ibu keadaan emosionalnya belum siap untuk mengalami kehamilan sedangkan kesiapan psikologi seseorang adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi dalam perawatan bayinya
c)       Pendidikan
Dimaksudkan untuk memudahkan petugas memperoleh keterangan ataupun sebaiknya memberikan penjelasan mengenai sesuatu hal, menggunakan metode penyampaian yang tepat sesuai dengan tingkat pendidikan pasien (Mochtar, 1998).
d)      Pekerjaan
Dimaksudkan untuk mengetahui taraf hidup dan tingkat sosial ekonomi pasien. Agar pasien atau anjuran yang disampaikan sesuai dengan tingkat sosial ekonomi pasien. (Mochtar, 1998).
e)       Alamat
Menurut Manuaba (1998), dikaji untuk mengetahui tempat tinggal pasien, menghindari kekeliruan bila ada dua pasien yang namanya sama, maka dapat dibedakan dengan alamatnya serta diperlukan untuk keperluan kunjungan rumah.
f)        Penanggung jawab
Menurut Mochtar (1998), dikaji untuk mengetahui siapa yang bertanggung jawab terhadap perawatan pasien di rumah sakit dan bila diperlukan komunikasi dengan penanggung jawab sehingga tidak mengganggu pasien.
2)       Keluhan pasien
Manuaba (1998) mengemukakan bahwa dalam hiperemesis gravidarum perlu dikaji yang paling utama yang dirasakan pasien, keluhan yang timbul pada pasien hiperemesis gravidarum adalah mual muntah dan nafsu makan berkurang.
3)       Riwayat kesehatan
Menurut Wiknjosastro (2002), riwayat kesehatan perlu dikaji antara lain sebagai berikut :
a)       Riwayat kesehatan sekarang
Secara umum perlu dikaji untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu. Dalam hiperemesis gravidarum gastritis merupakan salah satu faktor pencetus dimana hal ini dapat mempengaruhi keadaan ibu.
b)       Riwayat kesehatan terdahulu
Secara umum perlu dikaji untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu yang lalu. Apakah ibu pernah mempunyai gangguan lambung yang dapat mempercepat terjadinya hiperemesis gravidarum.
c)       Riwayat kesehatan keluarga
Pada hiperemesis gravidarum perlu dikaji keturunan kembar dalam keluarga karena keadaan tersebut akan terjadi peningkatan kadar HCG yang berlebihan, dimana hal ini merupakan salah satu pencetus terjadinya hiperemesis gravidarum.
d)      Riwayat obstetri
(1)     Riwayat haid
HPHT perlu dikaji berkaitan dengan umur kehamilan, karena hiperemesis gravidarum terjadi pada trimester I (Mochtar, 1998).

(2)     Riwayat kehamilan yang lalu
Pada hiperemesis gravidarum perlu dikaji apakah ibu pernah mengalami kehamilan molahidatidosa yang mungkin terulang (Wiknjosastro, 2002).
(3)     Riwayat kehamilan sekarang
Pada hiperemesis gravidarum perlu dikaji untuk mengetahui jumlah kehamilan atau kehamilan yang ke berapa karena bila ini kehamilan yang pertama atau primigravida maka merupakan salah satu pencetus hiperemesis gravidarum (Wiknjosastro, 2002).
4)       Riwayat perkawinan
Menurut Manuaba (1998), pada hiperemesis gravidarum perlu dikaji karena dengan status perkawinan yang tidak jelas atau belum menikah akan berdampak pada psikologis ibu. Dimana pada ibu hamil dengan status perkawinan yang jelas sekalipun atau pada kehamilan yang normal, psikologis ibu akan mengalami perubahan, apalagi pada ibu hamil yang bermasalah sudah tentu akan memperberat beban psikologis ibu sehingga ibu akan mengalami gangguan kejiwaan berat.
5)       Riwayat psikologis dan ekonomi
Pada hiperemesis gravidarum perlu dikaji untuk mengetahui bagaimana respon atau adaptasi ibu terhadap masalah-masalah tersebut di atas apakah ibu mampu beradaptasi dengan baik atau sebaliknya sehingga akan berdampak pada psikologis ibu yang akhirnya akan mempengaruhi peningkatan asam lambung sehingga merangsang mual dan muntah (Wiknjosastro, 2002).
6)       Pola kehidupan sehari-hari
Menurut Wiknjosastro (2002), pola kehidupan sehari-hari perlu dikaji yaitu sebelum dan waktu hamil.
a)       Pola nutrisi
Pada hiperemesis gravidarum perlu dikaji bagaimana pola makan ibu apakah suka mengkonsumsi makanan yang berlemak yang dapat merangsang mual dan muntah, nafsu makan apakah berkurang karena merupakan pencetus hiperemesis gravidarum.
b)       Minum
Kaitannya dengan hiperemesis gravidarum perlu dikaji berapa banyak air dalam gelas diminum ibu per hari, apakah cukup untuk mengganti cairan yang keluar dan hilang.
c)       Pola istirahat dan tidur
Pada hiperemesis gravidarum perlu dikaji pasien cukup istirahat, kebiasaan pasien saat bangun tidur, langsung turun dari tempat tidur dan beraktivitas karena hal ini dapat menyebabkan mual dan muntah.
d)      Pola eliminasi
Secara umum perlu dikaji untuk mengetahui apakah pada BAB dan BAK ibu tertur baik sebelum hamil dan waktu hamil, karena pada hiperemesis gravidarum pasien akan mengalami konstipasi dan diguria.
e)       Pola aktivitas
Pada hiperemesis gravidarum aktivitas tinggi dan berlebihan sehingga menyebabkan hiperemesis gravidarum.
b.       Data Obyektif
1)       Pemeriksaan umum
a)       Keadaan umum
Dikaji untuk mengetahui keadaan ibu saat datang, apakah terlihat pucat, lemah, karena terjadi mual-muntah sehingga keadaan umum menjadi buruk (Mochtar, 1998).
b)       Tanda-tanda vital
Dikaji tekanan darah, suhu, nadi dan pernafasan pada hiperemesis gravidarum berat sebagian besar jaringan mengalami hipoksia, maka sebagai kompensasinya pernafasan cepat, nadi pun cepat juga karena berusaha untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan tubuh (Wiknjosastro, 2002).
(1)     Tekanan darah
Dikaji pasien mengalami penurunan tekanan darah, ini merupakan salah satu tanda gejala dari hiperemesis gravidarum (Manuaba, 1998).
(2)     Nadi
Dikaji denyut nadi teraba cepat, ini merupakan salah satu tanda gejala dari hiperemesis gravidarum (Manuaba, 1998).
(3)     Berat badan
Pada ibu hamil dengan hiperemesis gravidarum berat badan ibu turun karena nafsu makan berkurang, hal ini merupakan salah satu tanda gejala hiperemesis gravidarum (Manuaba, 1998).
(4)     Lingkar lengan
Pada hiperemesis gravidarum nafus makan berkurang maka berat badan menurun sehingga lila kurang dari normal (Wiknjosastro, 2002).
2)       Pemeriksaan fisik
Menurut Manuaba (1998), pemeriksaan fisik perlu dikaji antara lain :
a)       Mata
Dikaji mata tampak cekung karena hal ini merupakan tanda dan gejala hiperemesis gravidarum.
b)       Mulut
Dikaji lidah kering atau kotor, tercium bau acetone dalam nafasnya karena keadaan-keadaan tersebut merupakan tanda dan gejala hiperemesis gravidarum pada stadium lanjut.
c)       Turgor kulit
Dikaji turgor kulit kurang, untuk mengetahui distribusi cairan ke kulit, merupakan salah satu tanda dan gejala hiperemesis gravidarum.
3)       Pemeriksaan obstetri
Menurut Wiknjosastro (2002), pemeriksaan obsteri perlu dikaji antara lain :
Palpasi
Perut
LI : Dikaji apakan TFU lebih tinggi dari umur kehamilan.
Bila TFU lebih tinggi dari umur kehamilan normal kemungkinan terjadi molahidatidosa, hal ini merupakan faktor predisposisi hiperemesis gravidarum.
2.        Langkah II : Interpretasi Data
Data dasar yang diperoleh dari pengkajian diinterpretasikan sehingga dapat merumuskan diagnosa masalah dan kebutuhan.
a.        Diagnosa Kebidanan
Berkaitan dengan  para, abortus, umur ibu, umur kehamilan dengan hiperemesis gravidarum tingkat I dasar dari diagnosa.
1)       Pernyataan ibu tentang melahirkan anak ke berapa
2)       Pernyataan ibu tentang riwayat keguguran
3)       Pernyataan ibu tentang umur
4)       Pernyataan ibu tentang haid pertama haid terakhir
5)       Pernyataan ibu tentang keluhan yang dirasakannya
6)       Hasil pemeriksaan umum tentang keadaan umum, pemeriksaan tanda-tanda vital, BB, pemeriksaan fisik tentang mata, mulut, abdomen, turgor kulit.
7)       Hasil pemeriksaan Leopold
b.       Masalah
Permasalahan yang sering muncul pada ibu nifas bendungan ASI adalah :
1)       Kecemasan pasien karena keadaan yang dialaminya.
2)       Ketidaknyamanan pasien dengan lingkungan tempat ia berada atau bahwa dia harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Permasalahan tersebut didasari kurangnya informasi yang diterima pasien didukung dengan kecemasan pasien sehingga timbul gangguan psikologis. Dukungan support mental atas apa yang dialaminya dari orang-orang yang dekat dengannya (terutama suami dan keluarga).
3.        Langkah III : Diagnosa Potensial
Mansjoer (1999), mengemukakan bahwa diagnosa potensial pada kasus ini adalah mastitis
4.        Langkah IV : Indentifikasi kebutuhan yang memerlukan penanganan antisipasi segera
Tindakan segera pada diagnosa potensial di atas adalah dengan memberikan Penanganan mastitis, KIE tentang mastitis, KIE tentang menyusui (Wiknjosastro, 2002).
5.        Langkah V : Perencanaan
f.       Wiknjosastro (2002), mengemukakan perencanaan yang dilakukan sesuai dengan kewenangan kompetensi bidan. Berkaitan dengan masalah dan diagnosa. Pencegahan terhadap bendungan ASI yaitu Menyusui dini, susui bayi sesegera mungkin (setelah 30 menit) setelah dilahirkan,Susui bayi tanpa jadwal atau ondemand, Keluarkan ASI dengan tangan atau pompa, bila produksi melebihi kebutuhan bayi, Perawatan payudara pasca persalinan.
6.        Langkah VI : Pelaksanaan
Menurut Wiknjosastro (2002), pelaksanaan untuk mengantisipasi diagnosa masalah dan kebutuhan pasien sesuai dengan rencana yang telah dibuat berkaitan dengan diagnosa maka rencana dilaksanakan dengan memberikan informasi keadaan ibu.
Berkaitan dengan permasalahan makan kecemasan pasien, sesuai dengan perencanaan maka dilaksanakan penyuluhan dan konseling untuk Kompres hangat payudara agar menjadi lebih lembek. Keluarkan sedikit ASI sehingga puting lebih mudah ditangkap dan dihisap oleh bayi. Sesudah bayi kenyang keluarkan sisa ASI, Untuk mengurangi rasa sakit pada payudara, berikan kompres dingin.
7.        Langkah VII : Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui apakah asuhan yang diberikan telah sesuai dengan hasil yang diharapkan serta apakah asuhan yang diberikan telah benar-benar efektif dalam pelaksanaannya sesuai dengan masalah dan diagnosa yang diidentifikasikan (Pusdiknakes, 2003).

C.     Landasan Hukum
Landasan hukum tentang kehamilan dengan hiperemesis gravidarum tingkat I terdapat dalam KEP MENKES No. 900/MENKES/VII/2002, tentang registrasi dan praktek bidan, wewenang bidan yaitu sebagai berikut :
1.    Permenkes No. 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang ijin penyelenggara praktik Bidanbidan dapat memberikan pelayanan kegawatdaruratan dan rujukan.
2.    KepMenKes RI No.369/MENKES/SK/III/2007 tentang standar Profesi Bidan pada kompetensi ke-5 yaitu Bidan memberikan asuhan nifas bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama masa nifas yang meliputi, deteksi dini,pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.































BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS PADA IBU NIFAS DENGAN BENDUNGAN ASI  TERHADAP NY. A DI RSUD WONOSARI


Oleh    : Sulastri Ningsih
Waktu : 4 Maret 2013, pukul 21.00 wib
I.     PENGKAJIAN
A.      Identitas
                     Istri                                                         suami
Nama               : Ny. A                                                            Tn. A
Umur               : 31 tahun                                            37 tahun
Suku                : Jawa                                                  Jawa
Agama             : Islam                                                 Islam
Pendidikan      : SMU                                                 SMP
Pekerjaan         : IRT                                                    karyawan
Alamat            : karang mojo I, wonosari

1.    Keluhan utama
Ibu mengatakan terasa bengkak dan nyeri pada payudaranya sejak tadi pagi tanggal 4 Maret 2013.
2.    Riwayat kehamilan ini
a.       Riwayat menstruasi
1)      Menarche : 12 tahun
2)      Siklus        : 28 hari
3)      Lama                    : 7 hari
4)      Dismenorhea        : tidak ada
5)      Sifat darah            : encer,sedikit menggumpal
6)      Banyaknya           : 3 kali ganti pembalut
7)      HPHT                   : 76 – 2012
8)      HPL                      : 14 – 03 – 2013 
9)      G.P.A                   : G1P0A0

b.      Riwayat perkawinan
Sah, kawin 1 kali pada umur 29 tahun, dengan suami pertamanya umur 35  tahun, lama perkawinan 2 tahun.

c.       Riwayat KB
Ibu mengatakan dia belum pernah menggunakan alat kontrasepsi.

d.      Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.
No
Tahun partus
Tempat partus
Usia kehamilan
Jenis partus
Penolong
Kelainan
anak
ket
hml
prts
nfs
JK
BB
PB
1.

2013

RS
Aterm
SC
Dokter
-
-
-
Lk
3,5
48

-

e.       Riwayat imunisasi
Imunisasi TT1 dilakukan pada saat usia kehamilan 20 minggu dan TT2 pada usia kehamilan 24 minggu, ibu tidak mengalami penyulit dalam kehamilannya.
f.       Bayi
Jenis kelamin laki - laki, berat badan 3500 gram, panjang badan 48 cm, lingkar kepala 33 cm, lingkar dada 33 cm,LLA 12 cm, jam partus 11.10 wib, 2 maret  2013.





DATA OBJEKTIF
B.     Pemeriksaan umum
1.      Keadaan umum                : Baik
2.      Keadaan emosional          : Cemas
3.      Kesadaran                                    : Composmentis
4.      TB                                    : 140 cm
5.      BB                                    : 81 kg , sebelum hamil : 68 kg
6.      LILA                                : 25 cm
7.      Tanda-tanda vital :TD      : 120/80 mmHg           N         : 84x/mnt
R       : 18x/mnt                     T          : 36,0 °C
C.     Pemeriksaan fisik
Inspeksi
1.      Kepala
a.       Rambut         :Kebersihan     : Bersih, tidak berketombe
 Warna             : Hitam
 Kekuatan        : Kuat, tidak rontok
b.      Mata              :Kelopak mata : Tidak oedema
 Konjungtiva   : Tidak anemis
Sclera              : Tidak ikterik
c.       Hidung          : Bersih
d.      Telinga          : Bersih, tidak ada pengeluaran
e.       Mulut dan gigi: Bibir            : Normal
 Lidah            : Bersih
Gigi               : ada caries
Gusi               : Tidak ada stomatitis

2.      Leher        : Kelenjar Thyroid       : Tidak ada pembengkakan
  Kelenjar Limfe          : Tidak ada pembengkakan


3.      Dada
a.       Payudara      
1)      Pembesaran                    : Ada
2)      Putting susu                   : Menonjol
3)      Pengeluaran ASI            : Sudah ada berupa colostrum 
4)      Simetris                          : Ya
5)      Benjolan                         :  ada
6)      Rasa nyeri                      : ada
7)      Hyperpigmentasi            : Ada
b.      Abdomen                              :ada bekas operasi, TFU 3 jari bawah pusat.
c.       Ekstermitas atas                    : lengkap kiri dan akanan, fungsi pergerakan baik, tidak ada oedema, keadaan bersih.
d.      Ekstermitas bawah                : tungkai tidak ada oedema, fungsi pergerakan baik, tidak ada cacat, tidak ada varises, lengkap kanan kiri, reflek patella baik.
e.       Genetalia                               : tidak ada oedema dan varises pada vulva, ada pengeluaran darah nifas warna merah.
f.       Punggung                              : tulang sedikit lordosis.
g.      Rectum                                  : tidak ada hemoroid.
h.      Anogenital                            : perineum normal tidak ada laserasi jalan lahir, tidak ada pembengkakan pada vulva, anus normal

II.  IDENTIFIKASI MASALAH, DIAGNOSA, DAN KEBUTUHAN
A.    Diagnosa         : Ibu  ny.AP1A0 AH1 post partum hari ke 2 dengan bendungan ASI
B.     Dasar               :
1.      Ibu mengatakan payudara terasa nyeri, dan bengkak,
2.      Ibu mengatakan melahirkan anaknya 2 hari yang lalu  pada tanggal 2 maret 2013.
3.      Ibu mengatakan belum pernah keguguran
4.      Pengeluarah pervaginam berupa lochea rubra
5.      Kontraksi uterus baik
C.     Masalah           : Payudara nyeri dan bengkak
D.    Kebutuhan       : Penanganan bendungan ASI, KIE tentang menyusui

III.   ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL
Mastitis
IV.   TINDAKAN SEGERA
Penanganan bendungan ASI,KIE tentang menyusui.
V.      PERENCANAAN
Tanggal/pukul : 4 maret 2013, 21.10 wib
1.      Jelaskan pada ibu tentang kondisinya berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan
3.      jelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami
4.      beritahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini
5.      Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan,
6.      Ajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara,
7.      Ajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik
8.      Ajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara
9.      Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau
10.  Anjurkan ibu banyak beristirahat

VI.   PELAKSANAAN
Tanggal/pukul : 4 maret 2013, 21.25 wib

1.      Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa ibu mengalami bendungan ASI
2.      Menjelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami yaitu ASI yang tidak keluar karena adanya sumbatan saluran ASI sehingga kelenjar ASI membesar/membengkak dan menyebabkan rasa nyeri serta ASI tidak keluar
3.      Memberitahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini adalah pengaruh dari sumbatan ASI tersebut dan ibu akan diberikan pengobatan untuk megurangi keluhan yang ibu rasakan.
4.      Memberitahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan, yaitu:
Sebelum menyusui, pijat payudara dengan lembut, mulailah dari luar kemudian perlahan-lahan bergerak ke arah puting susu dan lebih berhati-hati pada area yang mengeras.
5.      Menyusui sesering mungkin dengan jangka waktu selama mungkin, susui bayi dengan payudara yang sakit jika ibu kuat menahannya, karena bayi akan menyusui dengan penuh semangat pada awal sesi menyususi, sehingga bisa mengeringkannya dengan efektif
- Lanjutkan dengan mengeluarkan ASI dari payudara itu setiap kali selesai menyusui jika bayi belum benar-benar menghabiskan isi payudara yang sakit tersebut.
- Tempelkan handuk halus yang sudah dibasahi dengan air hangat pada payudara yang sakit beberapa kali dalam sehari (atau mandi dengan air hangat beberapa kali), lakukan pemijatan dengan lembut di sekitar area yang mengalami penyumbatan kelenjar susu dan secara perlahan-lahan turun ke arah puting susu.
- Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui.
- Pakai bra yang dapat menyangga payudara
6.      Mengajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara, yaitu:
Dengan tangan yang sudah dilicinkan dengan minyak lakukan pengurutan 3 macam cara :
- Tempatkan kedua telapak tangan diantara ke 2 payudara kemudian urut keatas, terus kesamping, kebawah dan melintang hingga tangan menyangga payudara, kemudian lepaskan tangan dari payudara.
- Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan saling dirapatkan, kemudian sisi kelingking tangan kanan mengurut payudara dari pangkal ke arah puting, demikian pula payudara kanan.
- Telapak tangan menopang payudara pada cara ke-2 kemudian jari tangan kanan dikepalkan kemudian buku-buku jari tangan kanan mengurut dari pangkal ke arah puting.
7.      Mengajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik, yaitu:
- Usahakan pada saat menyusui ibu dalam keadaan tenang. Hindari menyusui pada saat keadaan haus dan lapar oleh karena itu dianjurkan untuk minum segelas air /secukupnya sebelum menyusui
- Memasukkan semua areola mamae kedalam mulut bayi
- Ibu dapat menyusui dengan cara duduk atau berbaring dengan santai dan dapat menggunakan sandaran pada punggung
- Sebelum menyusui usahakan tangan dan payudara dalam keadaan bersih
- Payudara dipegang dengan ibu jari di atas, jari yang lain menopang di bawah (bentuk C) atau dengan menjepit payudara dengan jari telunjuk dan jari tengah (bentuk gunting) dibelakang areola
- Berikan ASI pada bayi secara teratur dengan selang waktu 2-3 jam atau tanpa jadwal (on demand) selama 15 menit. Setelah salah satu payudara mulai terasa kosong, sebaiknya ganti menyusui pada payudara yang satunya
- Setelah selesai menyusui oleskan ASI ke payudara, biarkan kering sebelum kembali memakai bra, langkah ini berguna untuk mencegah lecet pada puting
- Sendawakan bayi tiap kali habis menyusui untuk mengeluarkan udara dari lambung bayi supaya bayi tidak kembung dan muntah
8.      Mengajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara, yaitu :
- Ibu mencuci tangan hingga bersih
- Duduk atau berdiri dengan nyaman dan pegang cangkir atau mangkok bersih dan dekatkan pada payudara
- Letakan ibu jari diatas puting dan areola dan jari telunjuk pada bagian bawah puting dan areola bersamaan dengan ibu jari dan jari lain menopang payudara
- Tekan ibu jari dan telunjuk sedikit ke arah dada, jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu
- Kemudain tekan sampai berada di sinus laktiferus yaitu tenpat tampungan ASI dibawah areola
- Tekan dan lepas, kemudian tekan dan lepas kembali. Kalau teraba sakit berarti tekniknya salah. ASI akan mengalir terutama bila refleks oksitosinnya aktif.
9.      Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau dan makanan yang bergizi untuk memperbanyak dan memperlancar ASI, misalnya daun katuk, bayam dan lain-lain
10.  Menganjurkan ibu banyak beristirahat, ibu dapat beristirahat dan tidur pada saat bayi tidur. Selain itu ibu juga jangan terlalu bekerja berat. Serta, mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri, terutama di daerah payudara.

VII.          EVALUASI
Tanggal/pukul : 4 maret 2013, pukul 21.45 wib
1.      Ibu mengerti dirinya sedang mengalami bendungan asi
2.      Jelaskan pada ibu tentang kondisinya berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan
3.      Ibu mengerti tentang bendungan ASI yang ibu alami
4.      Ibu mengerti bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini
5.      Ibu mengerti cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan,
6.      Ibu mengerti cara perawatan/masase payudara,
7.      Ibu mengerti  dan dapat mmpratkan teknik dan posisi menyusui yang baik
8.      Ibu mengerti dan dapat  memeras ASI untuk mengosongkan payudara
9.      Ibu bersedia untuk mengkonsumsi sayuran hijau
10.  Ibu bersedia untuk  beristirahat

BAB IV
PEMBAHASAN

Pada pembahasan dalam asuhan kebidanan ibu nifas patologis ini dilakukan setelah penerapan asuhan kebidanan yang terkait dengan teori-teori yang ada. Selain itu untuk memperoleh gambaran secara nyata tentang sejauh mana kesulitan serta upaya penempuhan dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan bendungan ASI.
Dalam bab ini akan mengurai sesuai dengan manajemen kebidanan menurut Varney yang terdiri dari 7 langkah, yaitu :
1.      Pengkajian  data
      Pengkajian data merupakan langkah awal yang menentukan langkah selanjutnya. Langkah ini dilakukan dengan mengumpulkan semua data yang diperlukan untuk mengevaluasi keadaan ibu. Data ini diperoleh melalui wawancara, observasi, serta pemeriksaan fisik. Data yang diperoleh berupa data subyektif dan obyektif. Data subyektif yaitu ibu mengeluh tersa bengkak dan merasa nyeri pada payudara.. Data objektif yaitu wajah ibu terlihat cemas, dan hasil pemeriksaan dalam diperoleh hasil bahwa ibu mengalami bendungan ASI. Apabila data yang diperoleh secara akurat maka akan diinterpretasikan data-data tersebut. Pada tahap ini tidak terlalu mengalami hambatan atau kesulitan karena adanya sifat kooperatif dari keluarga dan ibu sendiri memberikan informasi serta adanya kerjasama antara bidan di ruangan yang membantu dalam mengumpulkan data.
2.       Interpretasi Data
Interpretasi data dengan melakukan observasi, wawancara dan pemeriksaan fisik pada ibu, maka pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap diagnosa dan masalah yang aktual berdasarkan interpretasi data yang benar. Dalam studi kasus terhadap ibu yang dimulai dengan pengkajian data sampai dengan dilakukan pemeriksaan fisik, ditemukan ibu nifas dengan kecemasan  yang berhubungan dengan bendungan ASI yang dialaminya. Adapun yang  mendasari diagnosa bendungan ASI pada ibu nifas adalah dengan data dasar yakni ibu mengatakan merasa bengkak dan nyeri pada payudara. Pada langkah ini, tidak terdapat kesenjangan antara diagnosa yang dibuat dengan teori yang sudah ada.
3.       Diagnosa Potensial
Identifikasi diagnosa potensial. Berdasarkan diagnosa masalah yang telah diidentifikasikan, sehingga pada langkah ini memerlukan antisipasi bila memungkinkan dilakukan pemecahan sambil melakukan pengamatan terhadap ibu nifas dan diharapkan dapat bersiap-siap bila memang diagnosa dan masalah potensial ini benar-benar akan terjadi.
Pada kasus Ny.A dengan bendungan ASI dengan diagnosa potensialnya mastitis karena ibu mengeluh terasa bengkak dan nyeri pada payudara.
4.       Antisipasi Tindakan Segera
Tindakan segera atau kolaborasi. Pada langkah ini bidan diharapkan melakukan tindakan segera berdasarkan data yang telah diidentifikasi, menetapkan kebutuhan terhadap masalah. Pada tahap ini, perlu menjelaskan tentang antisipasi tindakan terhadap diagnosa potensial. Kerjasama antar ibu dan bidan melalui pendekatan dan perhatian serta simpati semuanya berjalan dengan lancar melalui penerapan konseling yang diberikan.
Berdasarkan teori tersebut diatas maka tindakan yang telah dilakukan penulis tidak mempunyai kesenjangan dengan teori.
5.       Perencanaan
Dalam menyusun rencana asuhan yang menyeluruh sebagai kelanjutan dari diagnosa atau masalah yang telah diidentifikasi, maka pada langkah ini bidan melakukan asuhan secara menyeluruh. Tujuan perencanaan untuk mengurangi dan mencegah masalah pada ibu nifas dengan sepsis puerperium. Masalah dalam kasus ini adalah gangguan aktivitas sehubungan dengan nyeri pada luka jahitan yang dialaminya. Rencana tindakan yang dilakukan oleh bidan adalah memberikan konseling mengenai keadaan yang dialami oleh diri ibu sesuai dengan keluhan yang disampaikan oleh ibu, disamping itu juga memberikan motivasi dan dorongan. Adapun rencana asuhan yang akan diberikan adalah sebagai berikut :
1.      Jelaskan pada ibu tentang kondisinya berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan
2.      Jelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami
3.      Beritahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini
4.      Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan,
5.      Ajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara,
6.      Ajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik
7.      Ajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara
8.      Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau
9.      Anjurkan ibu banyak beristirahat
6.       Pelaksanaan
Pelaksanaan merupakan rangkaian perencanaan yang telah diuraikan pada langkah sebelumnya secara efisien. Perencanaan ini dilakukan oleh penulis dan bidan jaga. Untuk mengatasi rasa cemas yaitu penulis memberikan penjelasan tentang ketidaknyamanan yang dialaminya ,melalui konseling, sehingga ibu dapat memahami serta melaksanakannya secara kooperatif. Penulis melakukan kegiatan sesuai dengan rencana yang sudah dibuat.
Dalam kasus ini pelaksanaan yang dilakukan oleh penulis telah sesuai dengan perencanaan seperti :
1.      Menjelaskan pada ibu tentang kondisinya berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan bahwa ibu mengalami bendungan ASI
2.      Menjelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami yaitu ASI yang tidak keluar karena adanya sumbatan saluran ASI sehingga kelenjar ASI membesar/membengkak dan menyebabkan rasa nyeri serta ASI tidak keluar
3.      Memberitahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini adalah pengaruh dari sumbatan ASI tersebut dan ibu akan diberikan pengobatan untuk megurangi keluhan yang ibu rasakan.
4.      Memberitahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan, yaitu:
Sebelum menyusui, pijat payudara dengan lembut, mulailah dari luar kemudian perlahan-lahan bergerak ke arah puting susu dan lebih berhati-hati pada area yang mengeras.
5.      Menyusui sesering mungkin dengan jangka waktu selama mungkin, susui bayi dengan payudara yang sakit jika ibu kuat menahannya, karena bayi akan menyusui dengan penuh semangat pada awal sesi menyususi, sehingga bisa mengeringkannya dengan efektif
a.       Lanjutkan dengan mengeluarkan ASI dari payudara itu setiap kali selesai menyusui jika bayi belum benar-benar menghabiskan isi payudara yang sakit tersebut.
b.      Tempelkan handuk halus yang sudah dibasahi dengan air hangat pada payudara yang sakit beberapa kali dalam sehari (atau mandi dengan air hangat beberapa kali), lakukan pemijatan dengan lembut di sekitar area yang mengalami penyumbatan kelenjar susu dan secara perlahan-lahan turun ke arah puting susu.
c.       Kompres dingin pada payudara di antara waktu menyusui.
- Pakai bra yang dapat menyangga payudara
6.      Mengajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara, yaitu:
Dengan tangan yang sudah dilicinkan dengan minyak lakukan pengurutan 3 macam cara :
a.       Tempatkan kedua telapak tangan diantara ke 2 payudara kemudian urut keatas, terus kesamping, kebawah dan melintang hingga tangan menyangga payudara, kemudian lepaskan tangan dari payudara.
- Telapak tangan kiri menopang payudara kiri dan jari-jari tangan saling dirapatkan, kemudian sisi kelingking tangan kanan mengurut payudara dari pangkal ke arah puting, demikian pula payudara kanan.
- Telapak tangan menopang payudara pada cara ke-2 kemudian jari tangan kanan dikepalkan kemudian buku-buku jari tangan kanan mengurut dari pangkal ke arah puting.
7.      Mengajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik, yaitu:
- Usahakan pada saat menyusui ibu dalam keadaan tenang. Hindari menyusui pada saat keadaan haus dan lapar oleh karena itu dianjurkan untuk minum segelas air /secukupnya sebelum menyusui
- Memasukkan semua areola mamae kedalam mulut bayi
- Ibu dapat menyusui dengan cara duduk atau berbaring dengan santai dan dapat menggunakan sandaran pada punggung
- Sebelum menyusui usahakan tangan dan payudara dalam keadaan bersih
- Payudara dipegang dengan ibu jari di atas, jari yang lain menopang di bawah (bentuk C) atau dengan menjepit payudara dengan jari telunjuk dan jari tengah (bentuk gunting) dibelakang areola
a.       Berikan ASI pada bayi secara teratur dengan selang waktu 2-3 jam atau tanpa jadwal (on demand) selama 15 menit. Setelah salah satu payudara mulai terasa kosong, sebaiknya ganti menyusui pada payudara yang satunya
- Setelah selesai menyusui oleskan ASI ke payudara, biarkan kering sebelum kembali memakai bra, langkah ini berguna untuk mencegah lecet pada puting
b.      Sendawakan bayi tiap kali habis menyusui untuk mengeluarkan udara dari lambung bayi supaya bayi tidak kembung dan muntah
8.      Mengajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara, yaitu :
a.       Ibu mencuci tangan hingga bersih
b.      Duduk atau berdiri dengan nyaman dan pegang cangkir atau mangkok bersih dan dekatkan pada payudara
c.       Letakan ibu jari diatas puting dan areola dan jari telunjuk pada bagian bawah puting dan areola bersamaan dengan ibu jari dan jari lain menopang payudara
d.      Tekan ibu jari dan telunjuk sedikit ke arah dada, jangan terlalu kuat agar tidak menyumbat aliran susu
e.       Kemudain tekan sampai berada di sinus laktiferus yaitu tenpat tampungan ASI dibawah areola
f.       Tekan dan lepas, kemudian tekan dan lepas kembali. Kalau teraba sakit berarti tekniknya salah. ASI akan mengalir terutama bila refleks oksitosinnya aktif.
9.      Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau dan makanan yang bergizi untuk memperbanyak dan memperlancar ASI, misalnya daun katuk, bayam dan lain-lain
10.  Menganjurkan ibu banyak beristirahat, ibu dapat beristirahat dan tidur pada saat bayi tidur. Selain itu ibu juga jangan terlalu bekerja berat. Serta, mengingatkan ibu untuk selalu menjaga kebersihan diri, terutama di daerah payudara.
7.       Evaluasi
Langkah terakhir yang diambil dalam melaksanakan asuhan kebidanan dalam manajemen kebidanan menurut varney, adalah evaluasi. Dalam mengevaluasi hasil tindakan, penulis melaksanakan dengan cara mengevaluasi apakah pasien sudah merasa jelas dengan apa yang sudah di sampaikan oleh nakes dan bersedia melakukan apa yang dianjurkan oleh nakes.Pada saat di RSUD Wonosari Gunung Kidul pasien menunjukkan kepatuhan klien terhadap advis yang telah diberikan oleh bidan dan bersedia untuk melakukan anjuran yang telah diberikan.
      Tindakan penulis diatas sudah sesuai dengan langkah varney yang ketujuh yaitu mengevaluasi tahap asuhan yang telah diberikan, apa benar-benar sudah terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifikasikan dalam diagnosa dan masalah. Langkah ini bertujuan mengevaluasi dan mengetahui sejauh mana manajemen kebidanan yang sudah dilakukan oleh peneliti pada pasien.



BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN


Setelah mempelajari tentang konsep selama pembuatan laporan magang  ini maka pada bab ini penulis akan mengungkap kesimpulan dan saran yang bisa diterima sebagai bahan penngkatan mutu dan pelayanan kebidanan

A.    Kesimpulan

1.       Manajemen kebidanan varney dapat digunakan pada asuhan kebidanan pada ibu nifas dengan sepsis puerperium. Manajemen kebidanan varney sangat efektif untuk mengatasi masalah yang ada.   
Data subjektif : Ibu mengeluh terasa bengkak dan nyeri pada payudara. Data objektif : Setelah dilakukan pemeriksaan. Didapatkan suhu ibu 36,0 C. Interpretasi data dasar yaitu seorang Ibu Ny “A” P1A0 H1 umur 31 tahun dengan bendungan ASI.
2.       Diagnosa potensial yang timbul berdasarkan data yang diperoleh dalam studi kasus ini adalah mastitis.  
Antisipasi tindakan segera dalam kasus ini adalah Penanganan bendungan ASI,KIE tentang menyusui.
3.      Menyusun rencana asuhan yang menyeluruh yaitu : Jelaskan kepada ibu hasil pemeriksaan yang dilakukan
1.      Jelaskan tentang bendungan ASI yang ibu alami
2.      Beritahu ibu bahwa keluhan yang ibu rasakan sekarang ini
3.      Beritahu ibu cara mengatasi keluhan yang ibu rasakan,
4.      Ajarkan kepada ibu cara perawatan/masase payudara,
5.      Ajarkan ibu teknik dan posisi menyusui yang baik
6.      Ajarkan ibu cara memeras ASI untuk mengosongkan payudara
7.      Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi sayuran hijau,
8.      Anjurkan ibu banyak beristirahat

3.       Pelaksanaan yang dilakukan oleh penulis telah sesuai dengan rencana asuhan yang akan diberikan pada pasien. Dan telah terlaksana secara efektif

B.     Saran
1.      Bagi Mahasiswa
Mahasiswa diharapkan dapat lebih meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya mengenai sepsis puerperium yang terjadi di masyarakat dengan cara sering melakukan latihan pelaksanaan bendungan ASI.
2.      Bagi bidan
Hendaknya bagi bidan diharapkan sering mengikuti pelatihan penanganan dan deteksi dini infeksi nifas.
3.      Bagi Institusi Pendidikan
Kepada pihak akademik, agar terus mempertahankan dan meningkatkan mutu pembelajaran khususnya untuk pembelajaran mengenai infeki nifas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar