Kamis, 30 Mei 2013

ASKEB INC PATOLOGI DENGAN PRESBO


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Mortalitas dan morbilitas pada wanita hamil dan bersalin adalah besar di Negara berkembang, di Negara miskin sekitar 25 - 50% kematian wanita subur disebabkan hal yang berkaitan dengan assessment safe mother hood tahun 1990 – 1991, suatu hasil kegiatan ini adalah rekomendasi rencana kegiatan 5 tahun dalam bentuk strategi rasional untuk mempercepat penurunan angka kematian ibu (AKI), sedangkan penyebab tak langsung kematian ibu antara lain anemia, Kurang Energi Kronis (KEK) dan keadaan “4 terlalu” (terlalu tua, muda, dan banyak). (Sarwono, 2008).
Persalinan adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi cukup bulan atau hampir cukup bulan, disusul dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu. Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37- 42 minggu), lahir dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam, tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Saifuddin, 2008, p.100).
 Beberapa faktor yang mempengaruhi dalam persalinan antara lain,  faktor passage, faktor pasasnger, faktor power, faktor penolong dan faktor psikis ibu. Faktor  passage meliputi jenis panggul, ukuran panggul, CPD /  chepalo pelvic disproposional, kelainan jalan lahir lunak, perut gantung. Faktor  passanger meliputi janin besar, berat badan janin, kelainan letak, presentasi atau posisi janin. Faktor  power meliputi his, umur, paritas. Faktor penolong meliputi analgesi epidural, posisi meneran. Faktor psikis meliputi kecemasan, kelelahan, kehabisan tenaga, dan kekhawatiran.
Letak sunggang terdiri dalam 3-4% dari persalinan yang ada. Terjadinya letak sunggang berkurang dengan bertambahnya umur kehamilan. Letak sungsang terjadi pada 25% dari persalinan terjadi sebelum umur kehamilan 28 minggu, terjadi  pada 7% persalinan yang terjadi pada minggu ke 32 terjadi pada 1-3% persalinan yang terjadi pada kehamilan aterm (Yatinem, 2009).
Kejadian presentasi bokong ditemukan sekitar 3-4% dari seluruh persalinan tunggal. Presentasi bokong adalah suatu keadaan pada letak janin memanjang dimana prsentasi bokong dengan atau tanpa kaki merupakan bagian terendahnya.
 Beberapa peneliti lain  seperti greenhill melaporkan sebesar kejadian persalinan presentasi bokong sebanyak 4-4,5%. Sedangkan di RSUP Dr. Mohammad husen palembang sendiri pada taun 2003 sampai 2007 didapatkan persalinan presentasi bokong 8,63%. Angka morfdibitas dan mortalitas perinatal pada presentasi bokong masih cukup tinggi. Angka kematian neonatal dini berkisar 9-25%, lebih tinggi dibandingakan pada presentasi kepala yang hanya 2,6% atau 3-5 kali dibandingkan janin presentasi kepala cukup bulan.
Dengan meningkatknya morbiditas dan mortalitas, baik pada ibu maupun bayi dengan kehamilan presentasi bokong, maka diupayakan beberapa usaha untuk menghindari terjadinya persalinan dengan bayi presentasi bokong, salah satu diantaranya adalah dengan knee-chest posotion.
Insidens presentasi bokong meningkat pada kehamilan ganda 25 % pada gemeli janin pertama, dan 50 % pada janin kedua. Kehamilan muda juga berhubungan dengan meningkatnya kasus ini, 35 % pada kehamilan kurang dari 28 minggu, 25 % pada kehamilan 28 – 32 minggu, 20 % pada kehamilan 32 – 34 minggu, 8 % pada kehamilan 34 – 35 minggu, dan 2 – 3 % setelah kehamilan 36 minggu.
Adanya kehamilan presentasi bokong sering dihubungkan dengan meningkatnya kejadian beberapa komplikasi sebagai berikut : kesulitan yang meningkat dalam persalinan akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas perinatal, mengakibatkan persalinan prematur, sehingga kejadian berat badan lahir rendah (BBLR) meningkat, pertumbuhan janin terhambat (PJT), tali pusat pusat menumbung, plasenta previa, anomali janin (mioma uteri), kehamilan ganda, panggul sempit (contracted pelvis ), multiparitas, hidramnion atau oligohidramnion, presentasi bokong sebelumnya.


B.     Tujuan
1.   Tujuan Umum
Melakukan asuhan kebidanan pada ibu bersalin patologis dengan presentasi bokong menggunakan menajemen menurut Varney.
2.    Tujuan Khusus
a)   Melakukan pengkajian dan pengumpulan data pada ibu bersalin patologis dengan presentasi bokong
b)   Menentukan interpretasi data dasar pada ibu bersalin patologis dengan presentasi bokong
c)   Menentukan diagnosa potensial pada bersalin patologis dengan presentasi bokong
d)   Menentukan antisipasi tindakan segera pada ibu bersalin patologis dengan presentasi bokong.
e)   Menentukan perencanaan asuhan kebidanan secara menyeluruh yang akan dilakukan pada ibu bersalin patologis dengan presentasi bokong.
f)    Melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan sebelumnya pada ibu bersalin patologis dengan presentasi bokong
g)   Melakukan evaluasi atas tindakan yang sudah dilakukan pada ibu bersalin patologis dengan presentasi bokong
h)   Menilai kesenjangan asuhan yang dilakukan dilapangan dengan teori
C.    Manfaat
1.      Manfaat teoritik
Memberikan sumbangan teoritik bagi ilmu kebidanan terutama dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin patologis.
2.    Manfaat praktik
A.      Bagi RSUD Wonosari
Sebagai masukan dalam memberikan pelayanan kepada ibu bersalin patologis di RSUD Wonosari.
B.     Bagi pasien
Memberikan tambahan pengetahuan lebih jauh tentang persalinan patologis.
C.     Bagi penulis
Diharapkan dapat menambah pengalaman, pengetahuan dan melaksanakan asuhan pada ibu bersalin patologi di tingkat dasar pelayanan.
D.    Pembatasan Kasus
Sasaran            : Ibu bersalin patologis dengan presentasi bokong
Tempat            : RSUD Wonosari
Waktu             : 16 Februari 2012       Pukul  12.25 wib
E.     Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk pengumpulan data pada kasus ini adalah:
1.         Wawancara yaitu dengan mewawancarai klien atau keluarga secara langsung melalui lisan.
2.         Dokumentasi yaitu teknik pencatatan dari data yang sudah dikumpulkan untuk dijadikan bahan pendukung dalam menganalisa data.
3.         Observasi yaitu dengan pengamatan langsung terhadap objek penelitian.
4.         Studi kepustakaan yaitu referensi dari berbagai buku dan internet sebagai bahan acuan.














BAB II
2.1.1  Definisi Presentasi Bokong
Kehamilan pada bayi dengan presentasi bokong (sungsang) dimana bayi letaknya sesuai dengan sumbu badan ibu, kepala berada pada fundus uteri, sedangkan bokong merupakan bagian terbawah di daerah pintu atas panggul atau simfisis (Manuab,1998).
Pada letak kepala, kepala yang merupakan bagian terbesar lahir terlebih dahulu, sedangkan pesalinan letak sungsang justru kepala yang merupakan bagian terbesar bayi akan lahir terakhir. Persalinan kepala pada letak sungsang tidak mempunyai mekanisme “Maulage” karena susunan tulang dasar kepala yang rapat dan padat, sehingga hanya mempunyai waktu 8 menit, setelah badan bayi lahir. Keterbatasan waktu persalinan kepala dan tidak mempunyai mekanisme maulage dapat menimbulkan kematian bayi yang besar (Manuaba,1998).

2.1.2  Klasifikasi Presentasi Bokong                    
         Berdasarkan komposisi dari bokong dan kaki menurut Manuaba,1998 dapat ditentukan bentuk letak sungsang sebagai berikut :

A. Letak Bokong Murni
1.      Teraba bokong
2.      Kedua kaki menjungkit ke atas sampai kepala bayi
3.      Kedua kaki bertindak sebagai spalk

B. Letak Bokong Kaki Sempurna
1. Teraba bokong
2. Kedua kaki berada di samping bokong

C. Letak Bokong Tak Sempurna
1.Teraba bokong
2.Disamping bokong teraba satu kaki

D. Letak Kaki
1.Bila bagian terendah teraba salah satu dan atau kedua kaki atau lutut
2. Dapat dibedakan letak kaki bila kaki terendah ; letak lutut bila lutut terendah

2.1.3  Etiologi Presentasi Bokong
Menurut Winkjosastro (2007) penyebab terjadinya presentasi bokong adalah:
1.      Dari Faktor Ibu
Presentasi bokong disebabkan oleh multiparitas, plasenta previa dan panggul sempit.
2.      Dari faktor Janin
a.      Hidrosefalus atau anensefalus
b.      Gemelli
c.       Hidramnion atau Oligohidramnion
d.      Prematuritas
Menurut Manuaba (2008) penyebab terjadinya presentasi bokong adalah:
1.      Panggul sempit
2.      Lilitan tali pusat atau tali pusat pendek
3.      Kelainan uterus (uterus arkuatus, uterus duktus, uterus dupleks)
4.      Terdapat tumor di pelvis yang mengganggu masuknya kepala janin ke PAP,
5.      Plasenta previa
6.      Gemeli





2.1.4  Diagnosa Presentasi Bokong
Menurut Rukiyah dan Yulianti (2010), untuk menegakkan diagnosa maka yang harus dilakukan adalah:
a.  Anamnesa
Pergerakan anak teraba oleh ibu di bagian perut bawah, ibu sering merasa ada benda keras yang mendesak tulang iga dan rasa nyeri pada tulang iga karena kepala janin.
b.   Palpasi
Teraba bagian keras, bundar dan melenting pada fundus. Punggung dapat teraba pada salah satu sisi perut, bagian kecil pada sisi yang berlawanan, di atas symphisis teraba bagian yang kurang bundar dan lunak.
c.   Auskultasi
Denyut Jantung Janin (DJJ) sepusat atau ditemukan paling jelas pada  tempat yang lebih tinggi (sejajar atau lebih tinggi dari pusat).
d.   Vagina Toucher
Terbagi 3 tonjolan tulang yaitu tubera os ischii dan ujung os sacrum, anus, genitalia anak jika edema tidak terlalu besar dan dapat diraba.
e.   Perbedaan antar letak sungsang dan kepala pada pemeriksaan.
Jika anus posisi terendah maka akan teraba lubang kecil, tidak ada tulang, tidak menghisap, keluar mekonium. Jika presentasi kaki maka akan teraba tumit dengan sudut 90° terasa jari-jari. Pada presentasi lutut akan terasa patella dan popliteal. Pada presentasi mulut maka akan terasa ada hisapan di jari, teraba rahang dan lidah. Presentasi tangan dan siku: terasa jari panjang, tidak rata, patella (-).
f.  Untuk menentukan perbedaan tangan dan kaki:
Pada kaki ada kalkaneus, sehingga terdapat tonjolan tulang yaitu mata kaki dan kalkaneus. Pada tangan ada mata di pergelangan tangan. Kaki tidak dapat diluruskan tehadap tungkai, jari kaki jauh lebih pendek dari telapak kaki.

2.1.5  Penatalaksanaan Presentasi Bokong
1.   Pertolongan Persalinan
Menurut Varney (2010), sebelum terjadi persalinan yang sesungguhnya hal-hal berikut harus sudah dilakukan :
1.  Pemerikasaan abdomen secara cermat, sonografi atau sinar X untuk menyingkirkan hiperekstensi kepala, hydrosefalus atau presentasi kaki atau mulut.
2.  Pembukaan lengkap.
3.  Keraguan tentang keadekuatan panggul ibu sudah terjawab.
4.  Pengosongan kandung kemih.
5.  Episiotomi jika diperlukan.
6.  Penentuan upaya mengejan yang baik.
7.  Persiapan upaya bayi baru lahir yang lengkap.
8.  Pengaturan posisi ibu pada tepi tempat tidur.
9.  Kolaborasi dengan dokter.
Menurut Winkjosastro (2007), penatalaksanaan persalinan presentasi bokong adalah sebagai berikut :
1. Ditentukan terlebih dahulu apakah ada indikasi untuk melakukan secsio sesaria seperti kesempitan panggul, plasenta previa,atau ada tumor dalam rongga panggul. Apabila tidak ada hendaknya dilakukan pengawasan kemajuan persalinan kristeller karena dapat membuat kedua lengan menjungkit ke atas dan kepala terdorong turun diantara lengan sehingga menyulitkan kelahiran lengan dan bahu.
2. Setelah bokong lahir, tidak boleh melakukan tarikan atau dorongan kristeller karena dapat membuat kedua lengan menjungkit ke atas dan kepala terdorong turun diantara lengan sehingga menyulitkan kelahiran lengan dan bahu.
3.  Pada saat kepala masuk ke dalam rongga panggul tali pusat tertekan antara kepala janin dan panggul ibu. Dengan demikian lahirnya kepala tidak boleh memakan waktu lebih dari 8 menit setelah umbilikus lahir. Setelah umbilikus lahir, tali pusat ditarik sedikit sehingga kendor untuk mencegah teregangnya tali pusat dan tali pusat terjepit antara kepala dan panggul.
4.Untuk melahirkan bahu dan kepala dapat dipilih beberapa tindakan
a. Prasat bracht   
Bokong dan pangkal paha janin dipegang dengan 2 tangan kemudian dilakukan hiperlordosis tubuh janin sehingga lambat laun badan bagian atas, bahu lengan dan kepala janin dapat dilahirkan. Pada prasat bracht ini, penolong tidak sama sekali melakukan tarikan dan hanya membantu melakukan proses persalinan sesuai dengan mekanisme persalinan presentasi bokong. Tatapi prasat bracht tidak selalu berhasil melahirkan bahu dan kepala sehingga untuk mempercepat kelahiran bahu dan kepala dilakukan manual haid atau manual hilfe.
b. Cara klasik               
Pada dasarnya lengan kiri janin dilahirkan oleh tangan kiri penolong, sedangkan lengan kanan janin dilahirkan dengan tangan kanan penolong, kedua lengan dilahirkan sebagai lengan belakang. Bokong dan pangkal paha yang telah lahir dipegang dengan kedua tangan, badan ditarik ke bawah sampai dengan ujung bawah scapula depan terlihat dibawah symphisis. Kedua kaki janin dipegang dengan tangan yang berlawanan dengan lengan yang akan dilahirkan, tubuh janin ditarik ke atas sehingga perut janin ke arah perut ibu tangan penolong yang satu dimasukkan kedalan jalan lahir  dengan menelusuri punggung janin menuju lengan belakang sampai ke fossa cubiti. Dua jari tangan tersebut ditempatkan sejajar dengan humerus dan lengan belakang janin dikeluarkan dengan bimbingan jari-jari tersebut.
Untuk melahirkan lengan depan, dada dan punggung janin dipegang dengan kedua tangan, tubuh janin diputar untuk merubah lengan depan supaya berada di belakang dengan arah putaran demikian rupa sehingga punggung melewati symphisis kemudian lengan yang sudah berada di belakang tersebut dilahirkan dengan cara yang sama. Cara klasik tersebut dilakukan apabila lengan depan menjungkit ke atas atau berada dibelakang leher janin. Karena memutar tubuh dapat membahayakan janin maka apabila letak bahu normal cara klasik dapat dilakukan tanpa memutar tubuh janin, sehingga lengan kedua dilahirkan tetap sebagai lengan depan. Kedua kaki dipegang dengan tangan yang bertentangan dengan lengan depan untuk menarik tubuh janin kebawah sehingga punggung janin mengarah ke bokong ibu. Tangan yang lain menelusuri punggung janin menuju ke lengan depan sampai fossa cubiti dan lengan depan dikeluarkan dengan kedua jari yang sejajar dengan humerus.
c.  Muller
Dengan kedua tangan pada bokong dan pangkal paha, tubuh janin ditarik ke bawah sampai bahu depan berada di bawah symphisis kemudian lengan depan dikeluarkan dengan cara yang kurang lebih sama dengan cara yang telah diuraikan di depan, sesudah itu baru lengan belakang dilahirkan.
d. Lovset
Dasar pemikirannya adalah bahu belakang janin selalu berada lebih rendah daripada bahu depan karena lengkungan jalan lahir, sehingga bila bahu belakang diputar ke depan dengan sendirinya akan lahir di bawah symphisis setelah sumbu bahu janin terletak dalam ukuran muka belakang, dengan kedua tangan pada bokong tubuh janin ditarik ke bawah sampai ujung bawah scapula depan terlihat di bawah symphisis. Kemudian tubuh janin diputar dengan cara memutar dada dan punggung oleh dua tangan sampai bahu belakang terdapat di depan dan tampak dibawah symphisis, dengan demikian lengan dapat dikeluarkan dengan mudah. Bahu yang lain yang sekarang menjadi bahu belakang, dilahirkan dengan memutar kembali tubuh janin kearah berlawanana sehingga bahu belakang menjadi bahu depan dan lengan dapat dilahirkan dengan mudah.

5.  Melahirkan kepala
a.  Cara Mauriceau (Viet Smillie)
Badan janin dengan perut ke bawah diletakkan pada lengan kiri penolong. Jari tengah dimasukkan kedalam mulut janin sedangkan jari telunjuk dan jari manis pada maksila, untuk mempertahankan supaya kepala janin tetap dalam keadaan fleksi. Tangan kanan memegang bahu janin dari belakang dengan jari telunjuk dan jari tengah berada di sebelah kiri dan kanan leher. Janin ditarik ke bawah dengan tangan kanan sampai suboksiput atau batas rambut di bawah symphisis. Kemudian tubuh janin digerakkan ke atas, sedangkan tangan kiri tetap mempertahankan fleksi kepala, sehingga muka lahir melewati perineum disususl oleh bagian kepala yang lain. Perlu ditekankan disini bahwa tangan kiri tidak boleh ikut menarik janin, karena dapat menyebabkan perlukaan pada mulut dan muka janin.
b.  Cunam Piper        
Cara ini dianggap lebih baik karena dengan cunam tarikan dilakukan terhadap kepala sedangkan dengan cara Mauriceau tarikan dilakukan pada leher. Kedua kaki janin dipegang oleh pembantu dan diangkat ke atas kemudian cunam dipasang melintang terhadap kepala dan melintang terhadap panggul. Cunam ditarik ke bawah sampai batas rambut dan suboksiput berada di bawah symphisis, dengan suboksiput sebagai tititk pemutaran, cunam diarahkan mendatar dan ke atas, sehingga muka janin dilahirkan melewati perineum disusul oleh bagian kepala yang lain.

Prosedur Persalinan Bayi Sungsang ( Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Neonatal,2002)

Langkah klinik
1.      Persetujuan tindakan medik
2.      Persiapan Pasien :
a.       Ibu dalam posisi litotomi pada tempat tidur persalinan
b.      Mengosongkan kandung kemih , rektum serta membersihkan daerah perenium dengan antiseptic

Instrumen :
a.       Perangkat untuk persalinan
b.      Perangkat untuk resusitasi bayi
c.       Uterotonika (Ergometrin maleat, Oksitosin)
d.      Anastesi lokal (Lidokain 2%)
e.       Cunam piper, jika tidak ada sediakan cunam panjang
f.       Semprit dan jarum no.23 (sekali pakai)
g.      Alat-alat infus
h.      Povidon Iodin 10%
i.        Perangkat episiotomi dan penjahitan luka episiotomi

Persiapan Penolong
a.       Pakai baju dan alas kaki ruang tindakan, masker dan kaca mata pelindung
b.      Cuci tangan hingga siku dengan di bawah air mengalir
c.       Keringkan tangan dengan handuk DTT
d.      Pakai sarung tangan DTT / steril
e.        Memasang duk (kain penutup)

Tindakan Pertolongan Partus Sungsang
a.       Lakukan periksa dalam untuk menilai besarnya pembukaan, selaput ketuban dan penurunan bokong serta kemungkinan adanya penyulit.
b.      Intruksikan pasien agar mengedan dengan benar selama ada his.
c.       Pimpin berulang kali hingga bokong turun ke dasar panggul, lakukan episiotomi saat bokong membuka vulva dan perineum sudah tipis.


Melahirkan bayi :
1.       Cara Bracht
a.       Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam secara bracht (kedua ibu jari penolong sejajar dengan panjang paha, jari-jari yang lain memegang daerah panggul).
b.      Jangan melakukan intervensi, ikuti saja proses keluarnya janin.
c.       Longgarkan tali pusat setelah lahirnya perut dan sebagian dada.
d.      Lakukan hiperlordosis janin pada saat anguluc skapula inferior tampak di bawah simfisis (dengan mengikuti gerak rotasi anterior yaitu punggung janin didekatkan ke arah perut ibu tanpa tarikan) disesuaikan dengan lahirnya badan bayi.
e.       Gerakkan ke atas hingga lahir dagu, mulut, hidung, dahi dan kepala.
f.       Letakkan bayi di perut ibu, bungkus bayi dengan handuk hangat, bersihkan jalan nafas bayi, tali pusat dipotong.

2.    Cara Klasik
Pengeluaran bahu dan tangan secara klasik dilakukan jika dengan Bracht bahu dan tangan tidak bisa lahir.
Prosedur :
a.       Segera setelah bokong lahir, bokong dicekam dan dilahirkan sehingga bokong dan kaki lahir.
b.      Tali pusat dikendorkan.
c.       Pegang kaki pada pergelangan kaki dengan satu tangan dan tarik ke atas
d.      Dengan tangan kiri dan menariknya ke arah kanan atas ibu untuk melahirkan bahu kiri bayi yang berada di belakang.
e.       Dengan tanggan kanan dan menariknya ke arah kiri atas ibu untuk melahirkan bahu kanan bayi yang berada di belakang.
f.       Masukkan dua jari tangan kanan atau kiri (sesuai letak bahu belakang) sejajar dengan lengan bayi, untuk melahirkan lengan belakang bayi.
g.      Setelah bahu dan lengan belakang lahir kedua kaki ditarik ke arah bawah kontra lateral dari langkah sebelumnya untuk melahirkan bahu dan lengan bayi depan dengan cara yang sama.

3.      Cara Muller
Pengeluaran bahu dan tangan secara Muller dilakukan jika dengan cara Bracht bahu dan tangan tidak bisa lahir.Melahirkan bahu depan terlebih dahulu dengan menarik kedua kaki dengan cara yang sama seperti klasik, ke arah belakang kontra lateral dari letak bahu depan.Setelah bahu dan lengan depan lahir dilanjutkan langkah yang sama untuk melahirkan bahu dan lengan belakang.

4.       Cara Lovset (Dilakukan bila ada lengan bayi yang terjungkit di belakang kepala / nuchal arm)
1.      Setelah bokong dan kaki bayi lahir memegang bayi dengan kedua tangan. Memutar bayi 180o dengan lengan bayi yang terjungkit ke arah penunjuk jari tangan yang muchal.
2.      Memutar kembali 180o ke arah yang berlawanan ke kiri atau ke kanan beberapa kali hingga kedua bahu dan lengan dilahirkan secara Klasik atau Muller.

5.         Ekstraksi Kaki
Dilakukan bila kala II tidak maju atau tampak gejala kegawatan ibu-bayi. Keadaan bayi / ibu mengharuskan bayi segera dilahirkan.
a.       Tangan kanan masuk secara obstetrik melahirkan bokong, pangkal paha sampai lutut, kemudian melakukan abduksi dan fleksi pada paha janin sehingga kaki bawah menjadi fleksi,tangan yang lain mendorong fundus ke bawah. Setelah kaki fleksi pergelangan kaki dipegang dengan dua jari dan dituntun keluar dari vagina sampai batas lutut.
b.      Kedua tangan penolong memegang betis janin, yaitu kedua ibu jari diletakkan di belakang betis sejajar sumbu panjang paha dan jari-jari lain di depan betis, kaki ditarik turun ke bawah sampai pangkal paha lahir.
c.       Pegangan dipindah ke pangkal paha sehingga mungkin dengan kedua ibu jari di belakang paha, sejajar sumbu panjang paha dan jari lain di depan paha.
d.       Pangkal paha ditarik curam ke bawah sampai trokhanter depan lahir kemudian pangkal paha dengan pegangan yang sama dievaluasi ke atas hingga trokhanter belakang lahir. Bila kedua trokhanter lahir berarti bokong telah lahir.
e.       Sebaliknya bila kaki belakang yang dilahirkan lebih dulu, maka yang akan lahir lebih dahulu ialah trokhanter belakang dan untuk melahirkan trokhanter depan maka pangkal paha ditarik terus cunam ke bawah.
f.       Setelah bokong lahir maka dilanjutkan cara Clasik , atau Muller atau Lovset.

6.      Teknik Ekstraksi Bokong
Dikerjakan bila presentasi bokong murni dan bokong sudah turun di dasar panggul, bila kala II tidak maju atau tampak keadaan janin lebih dari ibu yang mengharuskan bayi segera dilahirkan.
a.       Jari penunjuk penolong yang searah dengan bagian kecil janin, dimasukkan kedalam jalan lahir dan diletakkan dilipatan paha bagian depan. Dengan jari ini lipat paha atau krista iliaka dikait dan ditarik curam ke bawah. Untuk memperkuat tenaga tarikan ini, maka tangan penolong yang lain menekam pergelangan tadi dan turut menarik curam ke bawah.
b.      Bila dengan tarikan ini trokhanter depan mulai tampak di bawah simfisis, maka jari telujuk penolong yang lain mengkait lipatan paha ditarik curam ke bawah sampai bokong lahir.
c.       Setelah bokong lahir, bayi dilahirkan secara Clasik , atau Muller atau Lovset.

Cara Melahirkan Kepala Bayi
Cara Mauriceu (dilakukan bila bayi dilahirkan secara manual  aid bila dengan Bracht kepala belum lahir).
1.      Letakkan badan bayi di atas tangan kiri sehingga badan bayi seolah-olah memegang kuda (Untuk penolong kidal meletakkan badan bayi di atas tangan kanan).
2.      Satu jari dimasukkan di mulut dan dua jari di maksila.
3.      Tangan kanan memegang atau mencekam bahu tengkuk bayi
4.      Minta seorang asisten menekan fundus uteri.
5.    Bersama dengan adanya his, asisten menekan fundus uteri, penolong persalinan melakukan tarikan ke bawah sesuai arah sumbu jalan lahir dibimbing jari yang dimasukkan untuk menekan dagu atau mulut.
             
2.2 Tinjauan asuhan kebidanan
1. Pengertian asuhan kebidanan
Asuhan kebidanan adalah prosedur tindakan yang dilakukan oleh bidan sesuai wewenang dalam lingkup prateknya berdasarkan ilmu dan kiat kebidanan, dengan memperhatikan pengaruh-pengaruh social, budaya, psikologis, emosional, spiritual, fisik, etika dank ode etik serta hubungan interpersonal dan hal dalam mengambil keputusan dengan prinsip kemitraan dengan perempuan dan mengutamakan keamanan ibu, janin/bayi dan  penolong serta kepuasan perempuan dan keluarganya. Asuhan kebidanan dibidanan diberikan dengan mempratikan prinsip-prinsip bela rasa, kompetensi, suara hati, saling percaya dan komitment untuk memelihara serta meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin/ bayinya (varney, 1997).
2. Pengertian manajemen kebidanan
Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, ilmiah penemuan-penemuan, keterampilan dan rangkaian tahapan yang logis untuk pengambilan suatu yang berfokus pada klien (varney.1997).
3. Langkah-langkah asuhan kebidanan menurut varney (1997), yaitu :
a.      Pengkajian
Menurut muslihatun dkk (2009) pengkajian merupakan suatu langkah awal yang dipakai dalam menerapkan asuhan kebidanan pada pasien. Pada tahap ini semua data dasar dan informasi yang akurat dan lengkap tentang klien dikumpulkan dan dianalisis untuk mengevaluasi keadaan klien. Data yang dikumpulkan pada langkah ini adalah :
1.         Data subyektif
a)        Identitas pasien
Nama         : dalam pengkajian data nama merupakan informasi yang didapatkan dari pasien. Nama dikaji dengan tujuan agar dapat mengenal/memanggil penderita lain (Hidayat,2008).
Umur          : dalam pengkajian data umur merupakan informasi yang didapatkan dari pasien. Sehingga kita dapat mengetahui usia aman untuk kehamilan dan persalinan yaitu umur 20-30 tahun (wiksnjosastro, 2007)
Agama       : dengan mengetahui agama pasien maka kita dapat memberikan asuhan yang sesuai denmgan agama pasien dan juga untuk menuntun kesuatu diskusi tentang pentingnya agama dalam kehidupan pasien, tradisi keagamaan dalam kehamilan dan persalinan (Hidayat, 2008)
Suku/bangsa  :berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaaan sehari-hari, sehingga dalam memberikan pelayanan dapat disesuaikan dengsn suku/bangsa serta kebiasaaan yang ada (Hidayat, 2008).
Pendidikan    : berpengaruh pada tingkat penerimaan pasien terhadap konseling yang diberikan serta tingkat konseling yang diberikan serta tingkat kemampuan pengetahuan ibu terhadap keadaannya (Muslihatun dkk, 2009).
 Pekerjaan  : berkaitan dengan keadaan pasien maka pekerjaan perlu dikaji apakah keadaan terlalu berat sehingga dapat meningkatkan resiko terjadinya keadaan yang lebih parah (Muslihatun dkk, 2009).
Alamat       : untuk mengetahui ibu tinggal dimana dan diperlukan bila mengadakan kujungan pada penderita (Muslihatun dkk, 2009).
b)      Keluhan utama
Menurut Muslihatun dkk, (2009) keluhan utama berkaitan dengan kejadian yang dirasakan pasien.
c)      Riwayat kesehatan
1)      Riwayat kesehatan dahulu
Menurut Muslihatun dkk, (2009) riwayat kesehatan yang lalu ditunjukan pada pengkajian penyakit yang diderita pasien yang dapat menyebabkan terjadinya keadaan yang sekarang. Perlu dikaji juga ibu mempunyai penyakit jantung, asma, hipertensi, DM, karena jika penyakit-penyakit tersebut sudah ada sebelum ibu hamil maka akan diperberat dengan adanya kehamilan, dapat beresiko pada waktu persalinan.
2)      Riwayat kesehatan sekarang
Menurut Muslihatun dkk, (2009) riwayat kesehatan kesehatan ini dikaji untuk meengetahui adakah penyakit yang diderita pasien seperti penyakit jantung, asma, hipertensi, dan DM.
3)      Riwayat kesehatan keluarga
Menurut Muslihatun dkk, (2009) riwayat  kesehatan ini dikaji untuk mengetahui apakah ada riwayat kembar pada keluarga, selain itu juga dikaji adakah riwayat kecacatan pada keluarga. Dan juga riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita oleh keluarga seperti jantung, asma, hipertensi, TBC, HIV-AIDS, DM, dll.
d)     Riwayat obstetrik
1)      Riwayat menstruasi
Menurut Muslihatun dkk, (2009) riwayat mentruasi dikaji untuk mengetahui usia kandungan apakah sudah aterm atau belum, melalui HPHT karena bila dijumpai ibu bersalin dengan preterm (<37 minggu) merupakan kontraindikasi dilakukannya indikasi persalinan,selain itu untuk mengetahui apakah ibu ada riwayat patologis, maka ada kemungkinan terjadi infeksi.
2)      Riwayat kehamilan sekarang
Menurut Muslihatun dkk, (2009) perlu dikaji untuk menyatakan tentang keadaan kehamilan ibu yang sekarang ini.
e)      Pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari sebelum dan sewaktu hamil.
1)      Pola nutrisi
Menggambarkan tentang kebutuhan nutrisi ibu selama hamil, apakah sudah sesuai dengan gizi seimbang untuk ibu hamil, apakah sudah sesuai dengan gizi seimbang untuk ibu hamil (Muslihatun dkk, 2009). Bagaimana pola makan ibu sebelum hamil dan sewaktu hamil, jenis makanan apa saja yang ibu konsumsi sebelum dan selama hamil, porsi makan ibu sebelum dan sewaktu hamil apakah ada perbedaan atau tidak.
2)      Pola eliminasi
Menggambarkan pola fungsi ekskresi, kebiasaan BAB(frekuensi, jumlah, konsistensi, bau) dan kebiasaan BAK (warna, frekuensi, jumlah dan terakhir kali ibu BAB atau BAK), dilihat apakah ada perbedaan sebelum hamil dan selama hamil (Muslihatun dkk,2009).



3)      Pola istirahat
Menggambarkan tentang pola istirahat ibu, yaitu berapa jam ibu tidur siang dan berapa jam ibu tidur malam, karena berpengaruh terhadap kesehatan fisik ibu (Muslihatun dkk,2009)
4)      Personal hygine
Menggambarkan pola hygiene pasien, misalnya berapa kali ganti pakaian dalam, mandi, gosok gigi dalam sehari dan keramas dalam satu minggu. Pola ini perlu dikaji untuk mengetahui apakah pasien menjaga kebersihan dirinya (Muslihatun dkk, 2009)
5)      Pola seksual
Untuk mengetahui kapan ibu terakhir melakukan hubungan seksual dengan suami karena prostaglandin yang terkandung dalam sperma dapat merangsang terjadinya kontraksi (Muslihatun dkk, 2009).
6)      Pola aktivitas
Untuk mengetahui apakah pekerjaan ibu sehari-hari terlalu berat, sehingga dapat mempengaruhi kehamilan, kegiatan ibu dimasyarakat apakah ibu mengikuti kegiatan arisan, pengajian, dan kegiatan lain yang ada dimasyarakat (Muslihatun dkk, 2009)
7)      Psikososiospiritual
Hal ini perlu dikaji untuk mengetahui sejauh mana respon, tanggapan, dukungan yang diberikan suami dan keluarga, serta kecemasan pasien  dan keluarga dalam menghadapi masalah yang terjadi dalam kehamilan, bagaimana hubungan klien dengan masyarakat, apakah klien sering mengikuti kegiatan keagamaan yang ada dilingkungan sekitar (Muslihatun dkk, 2009)
2)   Data obyektif
Data obyektif dikumpulkan dengan cara melakukan pemeriksaan pada pasien untuk dapat menentukan interpretasi data. Data obyektif yang dikumpulkan adalah sebagai berikut :
a)    Keadaan umum dilakukan untuk mengetahui kemungkinan terjadi infeksi yang ditandai dengan suhu meningkat, nadi meningkat, untuk mendukung kondisi selama hamil berjalan baik, maka keadaan umum pasien dan tanda tanda fisik hendaknya tidak ada masalah (Muslihatun dkk, 2009)
b)   Pemeriksaan tanda vital
1)         Tekanan darah
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui tekanan sistolik dan tekanan diastolic darah. Dengan pemeriksaan ini kita bisa menilai adanya kelainan pada system kardiovaskuler. Tekanan darah normal pada orang dewasa yaitu tekanan sistolik kurang dari 130 Mmhg dan tekanan diastolic kurang dari 80 Mmhg (Manuaba, 2008)
2)         Pemeriksaan nadi
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi dan irama detak jantung. Frekuensi nadi normal pada orang dewasa 60-90 kali permenit (Hidayat, 2008)
3)         Pemeriksaan pernafasaan
Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai frekuensi pernafasan, irama, kedalaman, dan tipe atau pola pernafasan. Frekuensi pernafasan normal orang dewasa yaitu sekitar 16-20 kali permenit (Hidayat, 2008)
4)         Pemeriksaan suhu
Pemeriksaan ini untuk mengetahui keadaan suhu tubuh ibu, sehingga bisa digunakan untuk mendeteksi dini suatu penyakit. Pemeriksaan ini bisa dilakukan melalui oral, rectal, dan aksila. Suhu tubuh normal pada orang dewasa yaitu 36-37°C (Hidayat, 2008)
c)    Pemeriksaan Fisik Pasien
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui adanya kelainan pada organ tubuh pasien (Muslihatun dkk,2009).
Pemeriksaan fisik meliputi :
1)   Kepala          : bentuk kepala, simetris atau tidak, apakah ada luka atau tidak, apakah ada luka bekas operasi atau tidak, apakah ada benjolan atau tidak.
2)   Muka            : warna bersih atau tidak, simetris atau tidak, apakah ada cloasma atau tidak, apakah ada luka bekas operasi atau tidak.
3)   Mata             : bersih atau tidak, simetris atau tidak, konjungtiva pucat atau tidak, sclera ikterik atau tidak.
4)   Hidung         : simetris atau tidak, bersih atau tidak, apakah ada polip atau tidak.
5)   Mulut            : simetris atau tidak, ada stomatitis atau tidak, lidah pucat atau tidak.
6)   Telinga          : simetris atau tidak, bersih atau tidak.
7)   Leher            : apakah ada pembesaraan kelenjar typoid, vena jugularis, apakah ada pembengakakan kelenjar parotis dan kelenjar limfe
8)   Dada             : simetris atau tidak, bersih atau tidak, retraksi atau tidak.
9)   Payudara      : simetris atau tidak, hiperigmentasi pada areola atau tidak, putingg susu menonjol atau tidak, ada pengeluaran kolostrum atau tidak, nyeri tekan atau tidak.
10)    Abdomen : apakah ada linea nigra, strie gravidarum atau tidak, apakah ada luka bekas operasi atau tidak.
Palpasi Leopold     
Leopold I    : Untuk mengetahui bagian janin yang terletak dibagian atas perut ibu.
Leopold II  : untuk mengetahui bagian janin yang terletak sebelah kanan dan kiri perut ibu. Leopold II dilakukan umur kehamilan 24 minggu
Leopold III             : untuk mengetahui bagian janin yang terletak pada bagian bawah perut ibu. Leopold III dilakukan umur kehamilan 24 minggu
Leopold IV             : untuk mengetahui bagian terendah janin apakah sudah masuk panggul atau belum. Leopold IV dilakukan umur kehamilan 24 minggu
DJJ              : diperiksa untuk mengetahui denyut jantung  janin. Djj normal 120-160kali/menit. DJJ terdengar mulai umur kehamilan 18 minggu.
11)         Genetalia       : adanya oedem, varises atau tidak , apakah ada atau tidak pengeluaran lender darah atau cairan lain, apakah ada benjolan atau tidak
12)         Anus              : apakah ada hemoroid atau tidak
13)         Ekstremitas               :
a)         Atas                 : pergerakan aktif atau tidak, kuku pucat atau tidak.
b)        Bawah             : gerakan aktif atau tidak, normal atau tidak, apakah ada oedem dan varises atau tidak. Reflek patella kanan dan kiri positif atau tidak.
d)   Pemeriksaan penunjang      :
Data penunjang diperlukan untuk mengetahui apakah kehamilan normal apa tidak seperti laboratorium yaitu pemeriksaan HB. Apalagi HB ibu hamil <11gr% maka ibu hamil tersebut mengalami anemia. (soebroto, 2009). Pemeriksaan penunjang lainnya yaitu protein urin, urin reduksi, pemeriksaan panggul,pemeriksaan USG.
b.      Interprestasi Data
Menurut Muslihatun dkk (2009), pada langkah ini dilakukan identifikasi terhadap masalah atau diagnose berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Diagnosa kebidanan adalah diagnosis yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan dirumuskan secara spesifik. Interprestasi data terdiri dari diagnosa kebidanan, diagnosa masalah dan diagnosa kebutuhan.
c.       Diagnosa Potensial
Diagnosa atau masalah potensial didentifikasi berdasarkan diagnosis atau masalah yang telah teridentifikasi. Langkah ini penting dalam melakukan asuhan yang aman ( Muslihatun dkk, 2009)
d.      Antisipasi Tindakan Segera
Antisipasi Tindakan Segera dibuat berdasarkan hasil identifikasi pada diagnose potensial. Langkah ini digunakan untuk mengidentifikasi dan menetapkan penanganan segera untuk mengantisipasi dan bersiap-siap terhadap kemungkinan yang terjadi akibat presentasi bokong (Muslihatun dkk, 2009)
e.       Perencanaan
Menurut muslihatun dkk (2009) langkah ini direncanakan asuhan menyeluruh yang ditentukan oleh hasil kajian pada langkah sebelumnya. Rencana asuhan pada ibu dengan bersalin patologis dengan presentasi bokong yaitu :
1.      Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2.      Hadirkan orang terdekat
3.      Asuhan persalinan normal
f.       Pelaksanaan
Menurut Muslihatun dkk (2009), melaksanakan asuhan menyeluruh yang telah direncanakan secara efektif dan aman. Pelaksanaan asuhan ini sebagian dilakukan oleh bidan, sebagian oleh klien sendiri atau oleh petugas lainnya. Walau  bidan tidak melaksanakan seluruh asuhan sendiri, tetapi dia tetap memiliki tanggungjawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. Pelaksanaan asuhan pada ibu bersalin patologis dengan presentasi bokong antara lain :
1.                   Memberikan hasil pemeriksaan ibu
2.                   Menghadirkan orang terdekat dari ibu
3.                   Melakukan asuhan persalinan normal
g.      Evaluasi
Pada langkah ini dievaluasi keefektifan asuhan yang telah diberikan, apakah telah memenuhi kebutuhan asuhan yang telah teridentifikasi dalam diagnosis maupun masalah. Pelaksanaan rencana asuhan tersebut dapat dianggap efektif apalagi ibu mengalami perkembangan yang lebih baik. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut terlaksana dengan efektif dan mungkin sebagaian belum  efektif. Karena proses manajemen asuhan ini merupakan suatu kegiatan yang berkesinambungan  maka perlu evaluasi, kenapa asuhan yang diberikan belum efektif. Langakah-langkah proses manajemen umumnya merupakan pengajian yang memperjelas proses berfikir yang mempengaruhi tindakan serta berorentasi pada proses klinis, karena proses manajemen tersebut berlangsung di dalam situasi klinik (Muslihatun dkk, 2009).
Evaluasi yang diharapkan dari asuhan pada ibu bersalin patologis dengan kala II lama, antara lain : Ibu sudah mengerti bahwa pembukaan sudah lengkap dan ibu   mengerti cara merejan yang baik Ibu telah didampingi oleh suami dan ibu tampak lebih semangat,Telah dilakukan asuhan persalinan normal

C.      Aspek Hukum
Hukum kesehatan adalah rangkaian peraturan perundangan-undanagan dalam bidang kesehatan yang mgengatur tentang pelayanan medic dan sarana medic (Wahyuningsih, 2008). Bidan memiliki kewenangan dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu bersalin patologi berdasarkan
:
1.    Permenkes No. 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang ijin penyelenggara praktik Bidanbidan dapat memberikan pelayanan kegawatdaruratan dan rujukan.
2.    KepMenKes RI No.369/MENKES/SK/III/2007 tentang standar Profesi Bidan pada kompetensi ke-4 yaitu Bidan memberikan asuhan persalinan bermutu tinggi untuk mengoptimalkan kesehatan selama persalinan yang meliputi, deteksi dini,pengobatan atau rujukan dari komplikasi tertentu.





















BAB III
TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN PATOLOGIS TERHADAP Ny. ”T” G5 P4 A0 H4 DENGAN PRESENTASI BOKONG USIA KEHAMILAN 39+2 MINGGU  DI RSUD WONOSARI

I.         PENGKAJIAN                (tanggal 16 februari 2013, Jam 17.20.WIB)

A.  Data Subyektif

Nama Ibu        : Ny. T                                                 Nama Suami    : Tn. S
Umur               : 50 tahun                                            Umur            :55 tahun
Agama             : Islam                                                 Agama             : Islam
Pendidikan      : SD                                                     Pendidikan      : SD
Pekerjaan         : IRT                                                    Pekerjaan         : petani
Alamat             : Draman rt 02, srimartani                  
1.    Alasan Datang
Ibu mengatakan ingin melahirkan anaknya
2.    Keluhan Utama
Ibu mengatakan ini kehamilannya yang ke empat mengeluh perutnya mulas dan nyeri perut bagian bawah yang menjalar kepinggang bagian belakang sejak pukul 14.00 wib  16 februari 2013.
3.    Riwayat Kesehatan
a.         Riwayat Kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit Asma, Jantung, Hipertensi, Toksoplasmosis.
b.         Riwayat Kesehatan Sekarang
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit Asma, Jantung, Hipertensi, Toksoplasmosis.



c.         Riwayat Kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit Asma, Jantung, Hipertensi dan tidak memiliki riwayat keturunan kembar.
4.      Riwayat Perkawinan
Ibu menikah 1 kali umur 28 tahun dengan suami umur 33 tahun, lama pernikahan 22 tahun status syah.
5.      Riwayat Obstetri
a.       Riwayat Menstruasi
Menarche         : 14 tahun
Siklus               : 28 hari
Lama               : 7 hari
Banyaknya      : 2 x ganti pembalut / hari
Bau                  : khas
Warna              : Merah
Konsistensi      : Cair
Dismenorhoe   : Kadang-kadang
Flour Albus     : tidak ada
HPHT              : 14 – 05 – 2012
HPL                 : 21 – 02 – 2013
G.P.A              : G5 P4 A0 AH4
b.      Riwayat kehamilan persalinan dan nifas yang lalu
No
Tahun partus
Umur
Usia kehamilan
Jenis partus
Penolong
Penyulit
Anak
Ket
JK
BB
PB
1.

2.

3.

4.

1992

1996

2001

2010
21th

17 th

12 th

31 bln
39 mgg

38 mgg

39 mgg

38 mgg

Normal

Normal

Normal

Normal

Bidan

Bidan

Bidan

Bidan

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
PR

PR

lk

PR
3,1

3,0

2,8

3.0
49

47

48

48
-

-

-

-

c.       Riwayat Kehamilan Sekarang
1)         Ibu mengatakan hamil ke 5 melahirkan 4 kali dan tidak pernah keguguran
2)         HPL: 21 Februari 2013
3)         Umur kehamilan 39 minggu 2 hari
4)         ANC :
a)       
TM I
:
2x di bidan, keluhan tidak ada, therapy Fe 1x1 tablet, kalk 1x1 tablet
b)       
TM II
:
2x di bidan, keluhan tidak ada, therapy Fe 1x1 tablet, kalk 1x1 tablet
c)       
TM III
:
3x di bidan, keluhan tidak ada, therapy Fe 1x1 tablet, kalk 1x1 tablet
5)         Ibu mengatakan tidak mempunyai kebiasaan yang berpengaruh negatif terhadap kehamilan seperti merokok, minum-minuman beralkohol, dan minum jamu
6)         Ibu mengatakan selama hamil hanya mengkonsumsi obat-obatan dari bidan
7)         Ibu mengatakan rencana persalinan di bidan
d.      Riwayat Kontrasepsi
Ibu mengatakan tidak menggunakan alat kontrasepsi sebelumnya.
e.       Pola Kebutuhan Sehari-hari
Pola

TM III
Selama Persalinan
Nutrisi
:
Makan 3x / hari porsi 1piring habis. Menu : nasi, lauk, sayur kadang buah.
Minum 7-8 gelas / hari jenis : air putih, teh.
Makan terakhir jam 13.00 WIB Porsi 1 piring habis, menu : nasi, lauk, sayur
Minum 1 gelas air teh
Eliminasi
:
BAB 1x / hari, konsistensi lembek warna kuning, bau khas.
BAK 5-6x / hari, warna kuning jernih, bau khas amoniak
BAB : Ibu tidak BAB


BAK : 2x warna kuning jernih bau khas amoniak
Aktivitas
:
Ibu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyapu dan mencuci.
Ibu hanya berbaring di tempat tidur
Istirahat
:
Tidur siang 1-2 jam / hari
Tidur malam jam 21.00 – 05.00 WIB (8-9 jam / hari)
Ibu tidak tidur
Personal Hygiene
:
Mandi 2x / hari, gosok gigi 2x / hari, keramas2x / minggu
Ibu sudah mandi dan menggosok gigi
Sexual
:
Ibu melakukan hubungan sexual 2x / minggu
Ibu tidak ada melakukan hubungan seksual

6.      Data Psikososial
Ibu mengatakan cemas dengan persalinannya sekarang karena bersalin dengan presentasi bokong.
7.      Data Spiritual
Ibu beragama Islam dan menjalankan shalat 5 waktu


8.      Data Sosial budaya
Ibu mengatakan hubungannya dengan keluarga dan masyarakat sekitar terjalin dengan baik.
9.      Lingkungan yang berpengaruh
a.       Ibu mengatakan tinggal bersama suami dan 3  orang anaknya
b.      Ibu mengatakan tidak memiliki binatang peliharaan seperti anjing, kucing

B.     Data Obyektif
1.      Pemeriksaan Umum
a.       Keadaan Umum          : Baik
b.      Kesadaran                   : Composmentis
c.       Tanda-tanda Vital       : TD : 140 / 90 mmHg
N : 80 x / mnt
R : 20 x / mnt
S : 36,70C
d.      BB sebelum hamil       : 44 kg
BB sekarang                : 58 kg
e.       Tinggi Badan              : 156 cm
f.       LILA                           : 24  cm
2.      Pemeriksaan Fisik
a.         Kepala                    : Mesochepal, kulit kepala bersih, rambut tidak rontok
b.        Muka                      : Tidak Pucat, tidak bengkak
c.         Mata                       : Konjungtiva merah muda, sklera putih
d.        Hidung                   :Bersih, tidak ada sekret, tidak ada pembesaran polip
e.         Telinga                   : Bersih, tidak ada penumpukan serumen
f.         Mulut                     : Bibir tidak kering, tidak ada sariawan dan caries, lidah bersih
g.        Leher                      : Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
h.        Dada                      : Simetris, tidak ada retraksi Interkostalis
i.          Ketiak                    : Tidak ada pembesaran kelenjar limfe
j.          Abdomen               : Tidak ada luka bekas operasi
k.        Genetalia                : Tidak ada oedem
l.          Ekstrimitas Atas     : Perabaan tidak dingin, kuku tidak pucat, tidak ada odem
m.      Ekstrimitas Bawah : Tidak ada odem dan Varises, pergerakan aktif
n.        Anus                       : Bersih, tidak ada haemoroid
3.      Pemeriksaan Obstetri
a.       Inspeksi
Muka
:
Tidak terdapat cloasma gravidarum
Payudara
:
Membesar, areola menghitam, putting menonjol
Abdomen
:
Membesar sesuai umur kehamilan, ada striae gravidarum dan linea nigra
Genetalia
:
Terdapat pengeluaran lendir darah, tidak ada oedeme, tidak ada varices, tidak ada pembengkakan kelenjar bartolini

b.      Palpasi
 Payudara
:
tidak ada massa atau benjolan, kolostrum sudah keluar
Abdomen
L1        : TFU pertengahan prosessus xifoideus sampai pusat  bagian atas teraba bulat, keras, melenting yaitu kepala janin
L II     :           Perut bagian kiri teraba memanjang keras seperti ada tahanan yaitu punggung janin. Perut bagian kanan teraba bagian kecil-kecil yaitu extremitas janin (PUKI)
L III    :   Bagian bawah teraba bulat, lunak, tidak melenting yaitu bokong janin dan bagian terbawah tidak dapat digoyangkan (bokong)
L IV    :  Divergen
TBJ (25-11) x 155 : 2480 gram
c.       HIS 4 x dalam 10 menit lama  40-45 detik, kuat dan teratur.
d.      Auskultasi
DJJ + 140x / menit, terdengat paling keras di punctum maximum sebelah kiri 2 jari diatas pusat
e.       Perkusi
Reflek pattela + / +
f.       Pemeriksaan dalam / VT : Tanggal 16 februari 2013  jam 17.30 WIB
Tujuan : Untuk mengetahui apakah ibu sudah masuk dalam persalinan
Indikasi : Kenceng-kenceng teratur dan keluar lendir darah dari jalan lahir.
Hasil    : Vulva uretra tenang, dinding vagina licin, porsio tidak teraba, pembukaan 10 cm, presentasi bokong, penurunan presentasi ada di Hodge IV air ketuban bercampur mekonium, sarung tangan lendir darah (+)
4.      Pemeriksaan Penunjang
Hb 10 gr%

II.      Interpretasi Data

A. Diagnosa kebidanan

Seorang ibu Ny. “T” umur 50 tahun G5P4A0 AH4, hamil 39 minggu 2 hari, janin tunggal, hidup, intrauterin, letak memanjang, puki, presentasi bokong, sudah masuk panggul, dalam persalinanan kala II.
Data subyektif :
-          Ibu mengatakan ini kehamilan ke5, pernah melahirkan 4 kali dan berumur 50 tahun
-          Ibu mengatakan mengeluh kenceng-kenceng seperti ingin BAB dan mengeluarkan lendir darah dari jalan lahir
Data Objektif :  
1.      Pemeriksaan Umum
a.       Keadaan Umum       : Baik
b.      Kesadaran                : Composmentis
c.       Tanda-tanda Vital    : TD : 140 / 90 mmHg
N : 80 x / mnt
R : 20 x / mnt
S : 36,70C
2.      Pemeriksaan Fisik
a)    Palpasi leopold  :
Lleopold I
:
TFU pertengahan prosessus xifoideus sampai pusat  bagian atas teraba bulat, keras, melenting yaitu kepala janin
Lleopold II
:
Perut bagian kiri teraba memanjang keras seperti ada tahanan yaitu punggung janin
Perut bagian kanan teraba bagian kecil-kecil yaitu extremitas janin
Lleopold III
:
Bagian bawah teraba bulat, lunak,tidak melenting yaitu bokong janin dan bagian terbawah tidak dapat digoyangkan
Leopold IV
:
Divergen

b)   HIS 4x dalam 10 menit lama 45 detik
c)    Auskultasi
DJJ + 140x / menit, terdengat paling keras di punctum maximum sebelah kiri 2 jari dibawah pusat
d)   Pemeriksaan dalam / VT I : Tanggal 16 Februari 2013 jam 17.30 WIB
tujuan
:
Untuk mengetahui apakah ibu sudah masuk dalam persalinan
indikasi
:
Kenceng-kenceng teratur dan keluar lendir darah dari jalan lahir.
hasil 
:
Vulva uretra tenang, dinding vagina licin, porsio tidak teraba, pembukaan 10 cm, presentasi bokong, penurunan presentasi ada di Hodge IV air ketuban bercampur mekonium, sarung tangan lendir darah (+)
Terdapat tanda-tanda doran teknus perjol vulka
3.      Masalah
Ibu cemas menghadapi persalinan karena rasa sakit yang dirasakan
4.      Kebutuhan
Dukungan fisik psikologis pada ibu dari bidan keluarga

II.           Diagnosa Masalah Potensial
Asfiksia bayi baru lahir
After coming head

III.        Antisipasi Tindakan Segera
-        Mempersipakan peralatan seperti penghisap lendir, alat VTP, dan oksigen serta tempat yang hangat dan pencahayaan yg baik.
-        Pasang o2 3 liter/menit
-        Pasang infuse RL  drip oxyticin 1 ampul dengan 16 tpm
-        Pasang kateter
-        Kolaborasi dengan Dokter SPOG

IV.        Perencanaan                Tanggal / jam : 16 februari 2013 /17.33 Wib
1.      Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2.      Berikan dukungan moril pada ibu dan keluarga
3.      Berikan asupan nutrisi pada ibu
4.      Lakukan inform consent
5.      Lakukan kolaborasi dengan dokter SPOG
6.      Asuhan persalinan brach

V.           Pelaksanaan     Tanggal/jam : 16 februari 2013 /09.05 Wib
1.      Memberitahu ibu dan keluarga bahwa pembukaan sudah lengkap dan beritahu ibu bila ada his anjurkan ibu untuk meneran.
2.      Memberikan dukungan moril pada ibu dengan memotivasi keluarga untuk mendampingi ibu selama proses persalinan
3.      Motivasi pada ibu untuk tetap makan dan minum selama tidak ada his
4.      Melakukan inform consent pada ibu dan keluarga atas persetujuan akan dilakukan tindakan persalianan secara brach
5.      Melakukan kolaborasi dengan dokter SPOG
6.      Asuhan persalinan secara brach :
-       Mencuci tangan menggunakan air mengalir dan saabun serta keringkan dengan handuk pribadi.
-       Menggunakan pelindung diri;topi, masker, scort, sepatu dan sarung tangan.
-       Setelah bokong bayi membuka vulava dengan diameter 5-6 cm, letakan handuk bersih diatas perut ibu untuk mengeringkan bayi
-       Meletakan kain bersih yang telah dilipat 1/3 bagian, dibawah pantat ibu
-       Meletakan partus set diatas tempat tidur dan membuka bak partus set
-       Pake sarung tangan
-       Menolong kelahiran bokong :
-       Setelah bokong lahir maka tangan penolong mencekramnya secara bracht ini dilakukan dengan menggunakan duk streril
-       Pada setiap his ibu diminta meneran
-       Seteah lahirnya perut kendorkan tali pusat dengan salah satu jari tangan
-       Kemudian lakukan hiperlordosis pada badan janin secara perlahan (bokong kearah perut ibu) pada saat angulus skapula inferior tampak di bawah simpisis, penolong hanya mngikuti gerakan ini tanpa tarikan sampi kepala lahir dan bayi lahir secara keseluruhan.
-       Sementara itu meminta asisten melakukan penekanan kepala bayi di daerah untuk mempertahanan agar kepala anak tetap dalam keadaan fleksi.
-    Menilai apgar score bayi.
-    Meletakkan bayi diatas kain atau handuk yang telah disiapkan pada perut bawah ibu dan posisikan kepala bayi sedikit lebih rendah dari tubuhnya.
-    Memotong tali pusat : menggunakan klem DTT menjepit tali pusat dengan cara ± 3 cm dari dinding perut bayi,tekan tali pusat dengan 2 jari dengan cara ± 2 cm dari tempat jepitan pertama.Memegang tali pusat diantara kedua klem,satu tangan menjadi landasan tali pusat sambil melindungi bayi, tangan yang lain memotong tali pusat diantara kedua klem dengan gunting DTT.
-     Mengganti kain/ handuk basah dengan kain yang bersih dan menggedong bayi serta kepala bayi tertutup lanjutkan IMD.
-  Membereskan alat dan mencuci tangan dalam larutan klorin 0,5 %.Melepas sarung tangan secara terbalik dan merendam dalam larutan klorin.
-     Mencuci tangan.

VI.             Evaluasi                        Tanggal/jam : 16 Februari 2013/09.15 Wib
1.      Ibu sudah mengetahui tentang keadaannya bahwa ibu dalam persalinan dengan pembukaan
2.      Ibu lebih semangat karena didampingi oleh suami
3.      Ibu bersedia makan dan minum saat tidak ada his untuk menambah tenaga ibu.
4.      Ibu dan keluarga bersedia dilakukan pertolongan persalinan secara bracht dan telah menandatanganin  lembar inform concent
5.      Tlah dilakukan kolaborasi dengan dokter SPOG
6.      Telah dilakukan asuhan persalinan secara bracht
-       Bayi lahir spontan pervaginam, laki-laki,A/S: 7/8             Jk: laki – laki BB:2600            PB:67cm  LK/LD:33/34 LILA: 12 cm, Caput (-), cacat (-), anus (+) pada jam 18.00 wib
-       Keadaan ibu baik
-       TFU setinggi pusat, janin tunggal, plasenta belum lepas, ibu mengatakan perut terasa mules
-       Tali pusat memanjang didepan vulva.
-        Jumlah darah yang keluar ±50cc

PERKEMBANGAN KALA III ( tanggal / jam : 16 februari 2013 / 18.05 wib)

I.       PENGKAJIAN DATA (Tanggal/ jam : 16 februari 2013 /14.18 wib)
A.    Data subyektif
1.      Ibu mengatakan lelah
2.      Ibu mengatakan perutnya terasa mules
B.     Data Obyektif
1.      TD: 120/80 mmHg
2.      Kontraksi uterus baik
3.      TFU sepusat tidak ada bayi kedua
4.      Tanda-tanda pelepasan plasenta belum ada yaitu: semburan darah, tali pusat memanjang, bentuk uterus dari diskoid menjadi globular

II.    INTERPRESTASI DATA
A.    Diagnosa kebidanan
Seorang ibu Ny. T  umur 50 tahun P5 A0 AH5 dalam persalinan kala III
Dasar:
-          Bayi laki - laki lahir spontan pervaginam tanggal 16-02-2013/18.00 wib
-          Ibu mengatakan ini persalinan kelima, tidak pernah keguguran
-          Hasil palpasi tidak ada bayi kedua
-          Kontraksi uterus baik, TFU sepusat
B.     Masalah: Ibu kelihatan lelah
C.     Kebutuhan:
-          Dukungan kepada ibu
-          Asupan nutrusi
-          Managemen aktif kala III

III.       DIAGNOSA MASALAH POTENSIAL
Tidak ada

IV.       ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Tidak ada

V.          PERENCANAAN       (Tanggal / jam : 16 februari 2013 /14.20 wib)       
1.      Beritahu ibu tentang kondisi ibu dan bayi
2.      Lakukan managemen aktif kala III
3.      Observasi KU dan jumlah perdarahan


VI.       PELAKSANAAN        (Tanggal/ jam : 16 februari 2013 /18.10 wib)
1.      Memberitahu ibu bahwa keadaan ibu saat ini baik
2.      Melakukan mangemen aktif kala III
-       Meraba abdomen ibu  untuk memastikan tidak ada janin yang kedua.
-       Menjelaskan pada ibu hasil pemeriksaan dan mintalah ijin untuk menyuntik.
-       Memberi injeksi oksitoxin 10 IU pada bagian lateral paha ibu (1/3 atas paha )secara IM denan teknik one touch.
-       Menempatkan klem pada ujung tali pusat ± 5-10 cm dari vulva.
-       Letakkan tangan kiri di tepi atas simphisis, tangan kanan memegang klem dan tali pusat.
-       Pada saat ada kontraksi lakukan PTT sambil tangan kiri melakukan gorongan kearah dorso kranial.
-       Saat plasenta sebagian lepas keluar dari vulva,kedua tangan menerima dan menelungkupkan selaput plasenta sambil diputar searah jarum jam.
-       Setelah plasenta lahir seluruhnya segera lakukan masase hingga uterus berkontraksi keras.
-       Ajari ibu untuk masase uterus
-       Meletakan kain bersih pada perut ibu.
-       Memindahkan klem tali pusat pada 5-10 cm di depan vulva dengan menekan tali pusat dan memindahkan klem.
-       Setelah uterus berkontraksi baik regangkan tali pusat dengan tangan kanan,sedangkan tangan kiri melakukan dorso kranial agar tidak terjadi inversi uteri.
-       Apabila tali pusat tampak memanjang lakukan proses seperti diatas.
-       Setelah plasenta terlihat di introitus vagina,pegang plasenta dengan kedua telapak tangan dan pilin plasenta searah jarum jam hingga selaput plasenta terpilin.
-       Memeriksa plasenta pada sisi maternal dan neonatal.
-       Tempatkan plasenta pada tempatnya.
-       cek laserasi dan melakukan heeting
3.      Melakukan observasi jumlah perdarahan dan kontraksi uterus
.
VII.    EVALUASI      (Tanggal/ jam 16 februari 2013 /18.40 wib)
1.      Ibu mengerti akan kondisinya
2.     Telah dilakukan manajemen aktif kala III, plasenta lahir lengkap (selaput ketuban utuh)
3.     Kontraksi uterus baik, TFU 2 jari dibawah pusat
perdarahan ±70 cc.

KALA IV
I.                   PENGKAJIAN   tanggal : 16 februari 2013 jam  18.45 WIB
Ny. “T” umur 50 tahun, Islam
K/U           : baik
Kesadaran : Composmentis
V5 : T : 120 / 70 mmHg                S : 37o C
        N : 80 x/ I                              R : 20 x/ i

II.                INTERPRETASI DATA
      A.DIAGNOSA KEBIDANAN.
          Ny.’T” umur 50 tahun P5 Ab0 Ah5 dalam persalinan Kala IV.
DS :   - Ibu mengatakan lega karena plasenta telah lahir.
-  Ibu mengatakan perutnya masih mules
-  Ibu mengatakan perutnya teraba keras
DO : Placenta lahir lengkap
-       TFU : 2 jari di bawah pusat.
-       Kontraksi uterus baik
-       Pendarahan ±50 cc
-       Laserasi perineum derajad 2
-       VS  T : 120 / 70     mmHg            S: 37o C.
            N : 80 x/menit                        N: 20 x/menit.
            Masalah :
            Tidak ada.

III.             DIAGNOSA POTENSIAL
Tidak ada

IV.             ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Tidak ada

V.                PERENCANAAN  tanggal, 16 februari 2013    jam 18.50 WIB
1.      Jelaskan penyebab mules
2.      Lakukan heeting perinium
3.      Observasi TFU kontraksi uterus, pendarahan kandung kemih dan TFU.
4.      Bersihkan ibu dan bereskan alat
5.      Lakukan Antropometri pada bayi
6.      KIE tanda bahagia post parthem
7.      Berikan ucapan Selamat dan melengkapi patograf.

VI.       PELAKSANAAN tanggal 16 februari 2013 jam 18.55 WIB
1.      Menjelaskan pada ibu tentang terjadinya mules karena proses kembalinya uterus keukuran semula dan tanda-tanda kontraksi uterus baik karena bila kontraksi tidak baik akan menyebabkan pendarahan.
2.      Melakan heeting perinium dengan anastesi
3.      Mengobservasi TFU, kontraksi uterus, kandung kencing dan TFU dengan menggunakan partograf.
4.      Membersihkan ibu dengan washlap dan ganti baju ibu dengan yang bersih dan kering, bereskan alat-alat yang telah direndam larutan khlorin selama 10 menit cuci dan keringkan dan siap untuk disterilkan.
5.      Mengukur antropometri pada bayi
6.      Menjelaskan pada bayi tentang tanda bahaya post partum, yaitu :
-                Demam
-                Pendarahan yang terus menerus
-                Keluarnya cairan yang berbau tidak normal dari jalan lahir.
7.      Memberikan Ucapan Selamat atas kelahiran putranya dengan sehat dan selamat, melengkapi partograf.

VII.          EVALUASI         tanggal 16 Februari 2013  jam 18.00 WIB
1.      Ibu telah mengerti penyebab mules
2.      Tlah dilakukan heeting perinium
3.      Hasil observasi pada lembar partograf
4.      Ibu terlihat bersih dan rapi,alat-alat sudah dibereskan.
5.      Telah dilakukan Antropometri
6.      BB:2600          PB:46cm LK/LD:33/34 LILA: 12 cm, Caput (-), cacat (-), anus (+) pada jam 14.10 wib
7.      Ibu sudah mengerti tentang tanda bahaya post partum
8.      Ibu sudah diberikan Ucapan Selamat atas kelahiran putranya, dan Ibu tampak bahagia.
Partograf sudah dilengkapi.
Pemantauan persalinan kala IV
Jam ke
waktu
Tekanan
Darah
nadi
suhu
Tinggi
Fundus uteri
Kontraksi uterus
kandung kemih
Perdarahan
1
19.00
110/70
84
36,5
2jari↓pusat
Baik
Kosong


19.15
120/70
80

2jari↓pusat
Baik
Kosong


19.30
120/70
84

2jari↓pusat
Baik
Kosong
±10 cc

19.45
120/70
80

2jari↓pusat
Baik
kosong

2
20.15
120/70
80
37
2jari↓pusat
Baik
Kosong
±10 cc

20.45
120/70
80

2jari↓pusat
Baik
kosong


                                                             


























                                                              BAB IV
PEMBAHASAN

A.    Pengkajian
Penulis melaksanakan pengumpulan data secara mandiri, baik subyektif maupun obyektif.  Pada kasus ini didapatkan data subyektif  yaitu pada tanggal 16 februari 2013 pada pukul 17.20 WIB, Ibu mengatakan Ibu mengatakan ini kehamilan ke 5, dan  tidak pernah abortus, Kemudian dilakukann anamnesa, ibu mengatakan bernama “Ny. T berusia 50 tahun, HPM : 14-5-2012. Data obyektif yang didapat adalah: Keadaan umum : baik, kesadaran :composmentis, Tekanan darah 140/90mmHg, Nadi 80x./menit, Pernafasan 20x/menit, Suhu     36°cx/menit, BB 58 kg,TB 156cm.
Pada kasus ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan praktek, karena pada teori  Wafi (2009), dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap yang berkaitan dengan kondisi pasien dan pada lahan sudah dilakukan pengumpulan informasi tentang kondisi pasien.
B.     Interpretasi data
      Pada teori langkah kedua ini didapat dari pengkajian data dasar yang disimpulkan kemudian diinterpretasikan sehingga dapat dirumuskan menjadi diagnosa kebidanan dan diagnosa masalah.
Pada kasus ini ditegakkan diagnosa kebidanan yaitu Ny.TG5P4A0 H4 umur 50 tahun hamil 39+2  minggu janin dengan kala II .
 Pada saat pengkajian diperoleh data dasar yaitu :

Data subyektif:  - Ibu megatakan umurnya 50 tahun                 
-          Ibu mengatakan ini kehamilan ke 2 pernah melahirkan 4 kali
-          Ibu mengatakan ingin meneran
Data obyektif
Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum  : Baik
Kesadaran                        : Composmentis
Tanda-tanda Vital           : TD : 140 / 90 mmHg
N : 80 x / mnt
R : 20 x / mnt
S : 36,70C

Terdapat tanda-tanda doran teknus perjol vulka
HIS           : ada 4×10 menit lama 45 detik, intensitas kuat
DJJ            : 140 ×/menit

Hasil pemeriksaan dalam: Vulva uretra tenang, lender serviks(+),portio tidak teraba, cairan ketuban (J), pembukaan 10 cm, presentasi bokong, penurunan bokong  sudah di dasar panggul H IV (1/5)
C.    Identifikasi Diagnosa Potensial
Dalam kasus ini diagnose potensial asfisia pada bayi baru lahir.
Tindakan antisipasi sangat penting agar diagnosa potensial tidak terjadi komplikasi. Dalam kasus ini tindakan antisipasi mempersipakan peralatan seperti penghisap lendir, alat VTP, dan oksigen serta tempat yang hangat dan pencahayaan yg baik. Pada langkah ini tidak terjadi kesenjangan antara teori dan praktek.
1.        Perencanaan
1.      Beritahu ibu hasil pemeriksaan
2.      Berikan dukungan moril pada ibu dan keluarga
3.      Berikan asupan nutrisi pada ibu
4.      Asuhan persalinan brach
Pada perencanaan tidak terdapat kesenjangan antara teori dan praktek, karena Beritahu ibu hasil pemeriksaan, beri dukungan moril dan hadirkan orang terdekat,memberikan asupan nutrusi pada ibu, Asuhan persalinan secara bracht
.

2.        Pelaksanaan

Dalam pemberian asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan serotinus penulis telah melaksanakan tindakan kebidanan sesuai dengan rencana yang dibuat, seperti :
a)      Memberitahu hasil pemeriksaan bahsa sekarang sudah pembukaan lengkap dan ibu di perbolehkan untuk meneran
b)      , menghadirkan pendamping ibu saat bersalin
c)      Menganjurkan ibu untuk minum ketika tidak ada his
d)     Melakukan asuhan persalinan secara bracht

3.        Evaluasi

Langkah terakhir yang diambil dalam melaksanakan asuhan kebidanan dalam manejemen kebidanan menurut (Varney, 2007) adalah evaluasi. Dalam mengevaluasi hasil tindakan, bidan mengevaluasi hasil tindakan kebidanan yang telah diberikan. Dan pasien sudah merasa jelas tentang penjelasan yang telah diberikan oleh bidan. Evaluasi proses di lahan adalah setelah dilakukan pemeriksaan, ibu dan keluarga sudah tahu dan mengerti hasil pemeriksaan,ibu senang bersalin di damping oleh suami,ibu bersedia minum ketika tidak ada his, telah dilakukan auhan persalinan secara bracht












BAB V
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan tersebut dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.      Pengumpulan data dasar secara subyektif dan obyektif pada kasus persalinan dengan persentasi bokong sudah dilakukan dan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.
2.      Interpretasi data klien untuk kasus persalinan dengan persentasi bokong sudah dilakukan dan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.
3.      Penetapan diagnosa potensial dan antisipasi yang harus dilakukan bidan dalam kasus  persalinan dengan persentasi bokong sudah dilakukan dan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.
4.      Penetapan rencana asuhan kebidanan untuk kasus ibu bersalin dengan persentasi bokong sudah dilakukan dan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.
5.      Pelaksanaan tindakan untuk kasus ibu bersalin  dengan persentasi bokong sudah dilakukan dan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.
6.      Evaluasi efektivitas asuhan yang diberikan dan memperbaiki tindakan yang dipandang perlu sudah dilakukan dan tidak ada kesenjangan antara teori dan praktik.

B.  Saran
1.      Bagi RSUD Wonosari
Tenaga kesehatan dokter ataupun bidan dapat memberikan pelayanan yang komprehensif  pada ibu bersalin dengan masalah patologis sesuai dengan kewenangan dan dapat memberikan tindakan promotif dan tindakan preventif  mengenai presentasi bokong.



2.      Bagi pasien/ keluarga pasien
Pasien dapat meningkatkan kembali pengetahuan serta pemahaman mengenai masalah-masalah pada persalinan yang tidak normal sehingga dapat mencegah terjadinya masalah atau kasus yang lebih berat lagi.
3.      Bagi penulia dan mahasiswa
Menambah sumber-sumber pustaka dalam penulisan laporan terutama sumber tentang presentasi bokong serta dapat memberikan asuhan kebidanan secara menyeluruh pada ibu hamil dengan serotinus dan mampu memberikan penanganan yang tepat dan efisien















DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 2007. Meteri Ajar Penurunan Kematian Ibu Dan Bayi Baru Lahir. WHO-FKM UI. Jakarta.
Hidayat. 2008. Dokumentasi Kebidanan. Jakarta; Salemba Medika.
Jepmenkes RI No.369/MENKES/SK/III/2007.  Jakarta: Dekes RI
Kusmiat, Y. 2008, Perawatan Ibu Hamil. Yogyakarta: Fitramaya,
Manuaba, I. 2008. Pengkajian Kesehatan. Jakarta: EGC
Musliahtun, W.n, dkk .2009. Dokumentasi Pelayanan Kebidanan. Yogyakarta. Fitramaya
Permenkes.No.1464/Menkes/2010. Standar Pratik Kebidanan.jakarta: Depkes RI.
Saifuddin,B.A.2006. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirihardjo, Jakarta.
Sulistyawati, Ari. 2001.Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan, Jakarta : Salemba Medika.
Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia NO. 23/1992 Tentang Kesehatan. Jakarta: Depkes RI.
Wahyiningsih, 2008. Etika Profesii Kebidanan. Yogyakarta : fitramaya
Wiknjosatro, H. 2007, Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina Sarwono Prawirohardjo, Jakarta
Varney, H, 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar