Jumat, 31 Mei 2013

MTBS


MANAJEMEN TERPADU BALITA SAKIT (MTBS)

A.    PENDAHULUAN
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa angka kematian bayi dan balita Indonesia adalah tertinggi di Negara ASEAN. Menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) tahun 2007, terdapat beberapa penyakit utama yang menjadi penyebab kematian bayi dan balita tersebut. Pada kelompok bayi (0-12 bulan), penyebab kematian bayi terbanyak adalah penyakit diare sebesar 42% dan pneumonia sebesar 24%. Sedangkan pada kelompok balita, penyebab kematian balita terbanyak adalah akibat penyakit diare sebesar 25,2%, pneumonia sebesar 15,5%, demam berdarah dengue (DBD) 6,8% dan campak 5,8%, serta kejadian gizi pada balita sebesar 5,4% dan gizi kurang sebesar 13%. Apabila angka kematian nayi dan balita di Indonesia ditelusuri sejak dahulu, penyakit-penyakit yang menyerang bayi dan balita Indonesia masih berkisar penyakit-penyakit tersebut yaitu penyakit-penyakit infeksi dan masalah kekurangan gizi.
Penyakit-penyakit penyebab kematian seperti: diare, pneumonia, demam berdarah dan lain-lainnya tersebut pada umumnya dapat ditangani di tingkat rumah sakit, namun masih sulit untuk tingkat Puskesmas. Hal ini disebabkan antara lain karena masih minimnya sarana atau peralatan diagnostic dan obat-obatan di tingkat Puskesmas terutama Puskesmas di daerah terpencil yang tidak ada fasilitas perawatan. Selain itu, seringkali terdapat Puskesmas yang tidak memiliki tenaga dokter yang siap di tempat setiap saat. Yang ada biasanya tenaga bidan dan perawat. Padahal, Puskesmas merupakan ujung tombak fasilitas kesehatan yang paling diandalkan bagi masyarakat umum di Indonesia, terutama dalam pertolongan pertama balita yang sakit. Untuk itu, diperlukan suatu pendekatan yang sesuai untuk Puskesmas dalam upaya menurunkan kematian, kesakitan dan kecacatan pada bayi dan balita. Suatu pendekatan yang saat ini diterapkan pada sebagian besar Puskesmas di Indonesia tersebut dikenal dengan istilah Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).

B.     PENGERTIAN MTBS
Beberapa pengertian dari MTBS adalah sebagai berikut:
  1. MTBS, singkatan dari Manajemen Terpadu Balita Sakit atau dalam bahasa Inggris disebut Integrated Management of Childhood Illnes (IMCI) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi/ terpadu dalam tatalaksana balita sakit dengan fokus kepada masyarakat anak usia 0-5 tahun (balita) secara menyeluruh. MTBS bukan merupakan suatu program kesehatan tetapi suatu pendekatan atau cara menatalaksana balita sakit. Kegiatan MTBS merupakan upaya yang ditujukan untuk menurunkan kesakitan dan kematian sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan anak balita di unit rawat jalan kesehatan dasar seperti Puskesmas, Pustu (Puskesmas Pembantu), Polindes, Poskesdes, dan lain-lain. Bila dilaksanakan dengan baik, upaya ini tergolong lengkap untuk mengantisipasi penyakit-penyakit yang sering menyebabkan kematian bayi dan balita. Dikatakan lengkap karena meliputi upaya kuratif (pengobatan), preventif (pencegahan), perbaikan gizi, imunisasi dan konseling (promotif). Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui bahwa pendekatan MTBS sangat cocok diterapkan di Negara-negara berkembang dalam upaya menurunkan kematian, kesakitan dan kecacatan pada bayi dan balita.
  2. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan pendekatan keterpaduan dalam tatalaksana balita sakit yang datang berobat ke fasilitas rawat jalan pelayanan kesehatan dasar yang meliputi upaya kuratif terhadap penyakit pneumonia, diare, campak, malaria, dan kurang gizi.
  3. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) merupakan suatu pendekatan terhadap balita sakit yang dilakukan secara terpadu dengan memadukan pelayanan promosi, pencegahan serta pengobatan terhadap lima penyakit penyebab utama kematian bayi dan balita di Negara berkembang, yaitu pneumonia, diare, campak dan malaria, serta malnutrisi.
  4. Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) adalah suatu pendekatan yang digagas oleh WHO dan UNICEF untuk menyiapkan petugas kesehatan melakukan penilaian, membuat klasifikasi serta memberikan tindakan kepada anak terhadap penyakit-penyakit yang umumnya mengancam jiwa.

C.    KOMPONEN MTBS
Tiga komponen dalam kegiatan MTBS berikut ini menguntungkan atau sangat berguna, yaitu:
  1. Meningkatkan ketrampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana kasus balita sakit (dimana selain dokter, petugas kesehatan non-dokter seperti bidan atau perawat dapat pula memeriksa dan menangani pasien (balita sakut) asalkan sudah dilatih).
  2. Memperbaiki dan memperkuat system kesehatan (perwujudan terintegrasinya banyak program keesehatan dalam satu kali pemeriksaan MTBS).
  3. Memperbaiki praktik keluarga dan masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (hal ini meningkatkan pemberdayaan masyarakat ddalam pelayanan kesehatan).

D.    SEJARAH MTBS
Telah diketahui bahwa Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) Intergrated Management of Childhood Illness (IMCI) adalah suatu pendekatan pelayanan terhadap balita sakit yang dikembangkan oleh WHO. Pendekatan MTBS mulai diluncurkan oleh WHO pada tahun 1994 yang merupakan hasil kerjasama WHO dengan UNICEF serta lembaga lainnya. Pendekatan tersebut timbul untuk membantu memberika solusi dalm tatalaksana balita sakit di Negara-negara berkembang. Selain itu, MTBS dirancang untuk menurunkan angka kematian balita di Negara sedang berkembang. Menurut laporan Bank Dunia (1993), MTBS merupakan jenis intervensi yang paling cost effective untuk mengatasi masalah kematian balita yang disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan akut, diare, campak, malaria, kurang gizim yang sering merupakan kombinasi dari keadaan tersebut.pada umumnya, sebagian besar balita sakit yang dibawa berobat oleh ibunya ke tingkat pelayanan dasar sperti Puskesmas, jarang yang datang hanya dengan keluhan tunggal.Menurut data WHO, tiga dari empat balita sakit seringkali memiliki beberapa keluhan lain yang menyertai dan sedikitnya menderita 1 dari 5 penyakit tersering pada balita yang menjadi focus MTBS.karena dalam setiap pemeriksaan MTBS, semua aspek/kondisi yang sering menyebabkan keluhan anak akan ditanyakan dan diperiksa.Oleh karena itu, Indonesia termasuk salah satu pengguna dini dari ppendekatan MTBS ini dan telah mengapdosinya sejak tahun 1996 dan implementasinya dimulai tahun 1997. Saat ini Indonesia sudah sampai tahap pemantapan implementasi MTBS.
Sebelum pendekatan MTBS ini dipakai setiap negara, WHO menganjurkan untuk melakukan adaptasi tehadap bahan dan metode pelatihan. WHO telah menerbitkan pentunjuk pelaksanaan adaptasi agar negara pelaksana lebih mudah melaksanakannya. Secara umum digariskan oleh WHO agar adaptasi dilakukan menjamin semua penyakit yang paling sering diderita balita, maka petugas kesehatan terdepan (termasuk bidan) harus dapat menanganinya. Adapptasi ini harus sejalan dengan kebijakan nasional dan kebijakan program, serta dapat diimplementasikan pada system kesehatan yang telah tersedia. Perlu diketahui, pendekatan MTBS ini telah terstandarisasi mulai dari bahan, metode, perangkat pelatihan serta cara, alat, monitoring dan evaluasi. Namun, demi efektifitas sampai tingkat tertentu, negara pengguna pendekatan MTBS dibolehkan untuk melakukan asaptasi local.
Secara garis besar, dengan MTBS diharapkan kondisi kesehatan balita pada tingkat pelayanan kesehatan dasar, seperti Puskesmas dapat ditangani secara lengkap. MTBS memfokuskan secara terpadu seluruh aspek kuratif (pengobatan), preventif(pencegahan) dan promotif termasuk pemberian nasihat kepada ibu sebagai bagaian dari pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kesehatan anak. Pemberian antibiotika sangat selektif sesuai klasifikasi dan dapat membatasi beberapa klasifikasi yang akhirnya dapat menekan biaya pengobatan.

E.     TUJUAN PENDEKATAN MTBS
Tujuan dari pendekatan MTBS adalah mengajarkan manajemen kasus kepada bidan, perawat, dokter dan tenaga kesehatan lain yang menangani balita sakit dan bayi muda di fasilitasi kesehatan dasar seperti Puskesmas, Puskesmas pembantu, Pondok Bersalin, Balai Pengobatan, maupun melalui kunjungan rumah. Petugas kesehatan akan belajar cara menangani balita sakit dan bayi muda, dengan:
1.      Menilai tanda-tanda dan gejala penyakit, status imunisasi, status gizi dan pemberian vitamin A.
2.      Membuat klasifikasi.
3.      Menentukan tindakan sesuai dengan klasifikasi anak dan menentukan apakah seorang anak perlu dirujuk.
4.      Memberi pengobatan pra-rujukan yang penting, seperti dosis pertama antibiotik, vitamin A, dan perawatan anak untuk mencegah menurunnya gula darah dengan pemberian air gula, mencegah hipotermia serta merujuk anak.
5.      Melakukan tindakan di fasilitas kesehatan (kuratif dan preventif) seperti pemberian oralit, tablet zinc, vitamin A, dan imunisasi.
6.      Mengajari ibu cara memberi obat dirumah (seperti antibiotic oral) dan asuhan dasar bayi muda.
7.      Memberi konseling kepadanibu mengenai pemberian makanan pada anak, pemberian ASI dan kapan harus kembali ke fasilitas kesehatan.
8.      Melakukan penilaian ulang dan member perawatan yang langsung pada saat anak tersebut kembali untuk pelayanan tindak lanjut.

  Gambaran Singkat Tatalaksana Balita Sakit Dengan Pendekatan MTBS
Seorang balita sakit dapat ditangani dengan pendekatan MTBS oleh petugas kesehatan yang telah dilatih. Petugas memakai tool yang disebut Algoritma MTBS untuk melakukan penilaian/pemeriksaan dengan cara menanyakan kepada orang tua/wali, apa saja keluhan-keluhan/masalah anak kemudian memeriksa dengan cara 'lihat dan dengar' atau 'lihat dan raba'. Setelah itu petugas akan mengklasifikasikan semua gejala berdasarkan hasil tanya-jawab dan pemeriksaan. Berdasarkan hasil klasifikasi penyakit, petugas akan menentukan tindakan/pengobatan, misalnya anak dengan klasifikasi Pneumonia Berat atau Penyakit Sangat Berat akan dirujuk ke dokter Puskesmas.
Contoh begitu sistematis dan terintegrasinya pendekatan MTBS, ketika anak sakit datang berobat, petugas kesehatan akan menanyakan kepada orang tua/wali secara berurutan, dimulai dengan memeriksa tanda-tanda bahaya umum seperti:
a.       Apakah anak bisa minum/menyusu?
b.      Apakah anak selalu memuntahkan semuanya?
c.       Apakah anak menderita kejang ?
Kemudian petugas akan melihat/memeriksa apakah anak tampak letargis/tidak sadar?
Setelah itu petugas kesehatan akan menanyakan keluhan utama lain:
a.       Apakah anak menderita batuk atau sukar bernafas?
b.      Apakah anak menderita diare?
c.       Apakah anak demam?
d.      Apakah anak mempunyai masalah telinga?
e.       Memeriksa status gizi
f.       Memeriksa anemia
g.      Memeriksa status imunisasi
h.      Memeriksa status pemberian vitamin A
i.        Menilai masalah/keluhan-keluhan lain
Berdasarkan hasil penilaian hal-hal tersebut di atas, petugas akan mengklasifikasi keluhan/penyakit anak, setelah itu petugas melakukan langkah-langkah tindakan/pengobatan yang telah ditetapkan dalam penilaian/klasifikasi. Tindakan yang dilakukan dapat berupa:
a.       Mengajari ibu cara pemberian obat oral di rumah
b.      Mengajari ibu cara mengobati infeksi lokal di rumah
c.       Menjelaskan kepada ibu tentang aturan-aturan perawatan anak sakit di rumah, misal aturan penanganan diare di rumah
d.      Memberikan konseling bagi ibu, misal: anjuran pemberian makanan selama anak sakit maupun dalam keadaan sehat
e.       Menasihati ibu kapan harus kembali kepada petugas kesehatan
f.       dan lain-lain

G.  Petunjuk Penilaian Pada MTBS Umur 2 Bulan  Sampai  5 Tahun

1.      Tanyakan pada ibu mengenai masalah anaknya
2.      Memeriksa tanda-tanda bahaya umum
a.       Apakah anak bisa minum/menyusu?
b.      Apakah anak selalu memuntahkan semuanya?
c.       Apakah anak menderita kejang ?
Kemudian petugas akan melihat/memeriksa apakah anak tampak letargis/tidak sadar

3.      Tanyakan keluhan utama
Apakah anak menderita batuk atau sukar bernafas
a.       Jika ya, tanyakan berapa lama?
b.      Lihat, dengar::
1)      Hitung pernafasan dalam 1 menit
2)      Perhatikan, adakah tarikan diding dada ke dalam
3)      Lihat dan dengar adanya stidor.

Apakah anak diare
a.       Jika ya, tanyakan:
1)      Sudah berapa lama?
2)      Apakah beraknya berdarah (apakah ada darah dalam tinja)?

b.      Lihat dan raba:
1)      Lihat keadaan umum anak:
a)      Apakah anak letargis atau tidak sadar
b)      Gelisah, rewel atau mudah marah
2)      Lihat apakah matanya cekung
3)      Beri anak minum:
a)      Apakah anak tidak bisa minum atau malas minum?
b)      Haus, minum dengan lahap?
4)       Cubit kulit prut untuk mngetzhui tugor, apakah kembalinya sangat lambat ( lebih dari 2 detik ) atau lambat?

Apakah anak demam
a.       Jika ya :
1)      Temukan daerah risiko malaria
2)      Jika daerah risiko rendah atau tanpa risiko malaria, tanyakan:
a)      Apakah anak dibawa berkunjung keluar
b)      Jika ya, apakah dari daerah risiko tinggi atau rendah malaria.
b.      Kemudian tanyakan:
1)      Sudah berapa lama anak demam
2)      Jika > 7 hari, apakah demem terjadi setiap hari
3)      Apakah prnah mendapatkan klorokuin dalam 2 minggu terakhir
4)      Apakah anak menderita campak dalam 3 bulan terakhir
c.       Lihat dan raba
1)   Lihat dan raba adanya kaku kuduk
2)   Lihat adanya pilek
d.      Lihat adanya tanda  campak
1)      Ruam merah di kulit yang menyeluruh
2)      Terdapat salah satu geja berikut:batuk pilek, atu mata merah
Klasifikasi demam untuk demam berdarah dengue(hanya jika demam kurang dari 7 hari)
a.       Tanyakan:
1)      Apakah anak mengallami perdarahan dari hidunng atau gusi yang berat
2)      Apakah anak muntah
3)      Apakah berak berwarna hitam
Apakah ada nyeri ulu hati atau anak gelisah
b.      Lihat dan raba
Perdarahan dari hidumg atau gusi yang berat
Bintik perdarahan di kulit (petekie), jika ya dan tidak ada tanda lain dari DBD, lakukan uji tornikuet, jika mungkin.
c.       Periksa tanda-tanda syok
Ujung ekstremitas teraba dingin dan nadi sangat lemah atau tidak teraba

Apakah anak mempunyai masalah telinga
Jika ya, tanyakan
1)      Apakah telinganya sakit
2)      Adakah cairan/nanah keluar dari telinga? Jika ya, berapa lama?
Lihat dan raba:
1)      Lihat, adakah cairan,nanah keluar dari telinga?
2)      Raba, adakah pembengkakan yang nyeri
Memeriksa status imunisasi anak
Lihat dan raba :
1)      Lihat apakah apakah anak tampak sangat kurus?
2)      Lihat tanda kpucatan pada teapak tangan, apakah sangat pucat, agak pucat?
3)      Lihat dan raba adanya pembekalan di kdua kaki?
4)      Bandingkan berat badan menurut umur

JADWAL IMUNISASI
Umur
Jenis Imunisasi
1bulan
BCG     
2 bulan
                  POLIO 1       DPT1
3 bulan
                 POLIO 2       DPT2
4 bulan
                 POLIO 3       DPT3
9 bulan
Campak   POLIO 4

Memeriksa status pemberian Vit A

JADWAL Pemberian Vit A
DOSIS
UMUR
Dosis pertama : 100.000 IU
6 bulan – 1 tahun
Dosis berikutnya : 200.000 IU
Jjika seorang anak belum mendapatkannya dalam 6 bulan terakhir, berikan satu dosis
1 tahun – 5 tahun



PENGOBATAN
Melakukan langkah-langkah dalam tindakan / pengobatan yang telah ditetapkan dalam bagan klasifikasi
a.       Beri antibiotk oral yang sesuai
1.      Untuk smua klasifikasi yang membutuhkan antibiotic yang sesuai
a)      Antibiotic pilihan pertama : kotrimoksazoi (trimetroprim+salfametktazol)
2.      Untuk disentri : beri antibiotic yang dianjurkan untuk shigela selama 5 hari..
a)      Antibiotika pilihan utama : kotrimoksazol ( trimetroprim + Salfametoksazol)
b)      Antibiotik pilihan kedua : Asam Nolidiksat
3.      Untuk kolera : beri Antibiotik yang dianjurkan untuk kolera selama 3 hari
4.      Antibiotik pilihan pertama : kotrimoksazol ( Trimetroprim + Salfametoksazol)
a)      Antibiotik pilihan kedua : Tetrasiklin
b)  Mengajari Ibu cara pemberian obat oral di rumah
1)      Tentukan obat – obatan dosis yang sesuai dengan umur dan berat badan
2)      Jelaskan kepada ibu alasan pemberian obat tersebut
3)      Peragakan cara, mengukur / membuat satu dosis
4)      Perhatikan cara Ibu menyiapkan sendiri satu dosis
5)      Mintalah Ibu memberikan dosis pertama pada anak
6)      Terangkan dengan jelas cara memberikan obat beri label dan bungkus obat
7)      Jelaskan bahwa semua obat – obatan tablet / sirup harus diberikan sesuai waktu yang di anjurkan, walaupun anak menunjukan perbaikan
8)      Cek pemahaman ibu sebelum meninggalkan klinik
c) Demam mungkin bukan malaria, jika demam sudah 2 hari
1)      Lihat bagan penilaian dan klasifikasi
2)      Cari penyebab lain dari demam
3)      Lakukan penilaian untuk gejala utama
4)      Tindakan :
a.          Jika ada tanda bahaya umum atau kakukuduk, perlakukan sebagai penyakit berat dengan demam
b.         Jika ada penyebab lain dari demam selain malaria beri pengobatan
c.          Jika malaria merupakan satu – satunya penyebab demam :
                                           i.               Ambil sediaan darah
                                         ii.               Beri obat anti malaria oral pilihan tanpa menunggu hasil sediaan darah
                                       iii.               Nasihati ibu untuk kembali dalam 2 hari jika tetap demam
                                       iv.               Jika anak tetap demam selama 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut
d) Demam bukan malaria ( daerah resiko tanpa malaria dan tidak ada kunjungan ke daerah dengan resiko malaria), jika demam sesudah 2 hari
1)      Lihat dengan penilaian dan klasifikasi
2)      Cari penyebab lain dari demam
3)      Lakukan penilaian  untuk gejala utama
4)      Tindakan :
                                   I.            Tidak ada tanda bahaya umum atau kakukuduk, perlakukan sebagai penyakit berat dengan demam
                                II.            Jika ada penyebab lain dari demam selain malaria beri pengobatan
                             III.            Jika anak tetap demam selama 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut
                             IV.            Jika tidak diketahui penyebab demam anjurkan ibu untuk kembali lagi dalam 2 hari jika tetap demam, pastikan anak mendapat tambahan caira dan mau makan
e) Demam mingkin bukan demam berdarah degue jika tetap demam sesudah 2 hari :
1)      Lihat bagan penilaian dan klasifikaisi
2)      Cari penyebab lain dari demam
3)      Lakukan penilaian ulang secara lengkap
4)      Tindakan :
                           i.            Tidak ada tanda bahaya umum atau kakukuduk, perlakukan sebagai penyakit berat dengan demam
                         ii.            Jika ada penyebab lain dari demam selain DBD, berikan pengobatan
                       iii.            Jika ada tanda – tanda DBD, perlakukan sebagai DBD
                       iv.            Jika anak tetap demam selama 7 hari, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut
f) Infeksi telinga, sesudah 5 hari :
1)      Lihat bagan penilaian dan klasifikasi
2)      Ukur suhu tubuh anak
3)      Lakukan penilaian ulang masalah telinga
4)      Tindakan :
                            I.               Jika ada pembekakan yang nyeri dibelakang telinga atau demam tinggi (38,5oC atau lebih ), rujuk segera .
                         II.               Infeksi telinga akut : jika masih ada nyeri atau keluar cairan / nanah, obati dengan antibiotic yang sama selama 5 hari
5)      Lanjutkan mengeringkan telinga kunjungan ulang selama 5 hari
                               I.            Infeksi telinga kronis : perhatikan apakah cara ibu mengeringkan telinga sudah benar, anjurkan ibu untuk melanjutkan
                            II.            Jika tidak ada nyeri telinga atau keluar cairan/nanah, dan ibu belum menyelesaikan pemberian antibiotic selama 5 hari, anjurkan untuk melanjutkanya sampai habis
g) Campak dengan komplikasi pada mata atau mulut, setelah 2 hari
1)      Perhatikan apakah matanya merah atau bernanah
2)      Perhatikan apakah ada luka di mulut, ciumlah bau mulutnya
3)      Pengobatan infeksi mata :
-           Jika mata masih bernanah, Ibu diminta menjelaskan cara mengobati infeksi mata anaknya. Jika belum benar, ajari Ibu cara mengobati dengan benar
-           Jika mata tidak bernanah dan merah hentikan pengobatan
4)      Pengobatan luka di mulut
-           Jika luka dimulut makin memburuk atau tercium bau busuk dari mulut rujuk.
-           Jika luka di mulut tetap atau membaik, lajutkanpengobatan  0,25 % gentian violet hingga seluruhnya 5 hari
h) Masalah pemberian makan, sesudah 5 hari :
1)      Lakukan : lihat pertanyaan pada penilaian ulang tentang cara pemberian makan ( bagan konseling bagi Ibu )
2)      Tanyakan masalah pemberian makan yang ditemukan pada kunjungan pertama
3)      Nasihati ibu tentang semua masalah dalam pemberian makan yang masih ada atau yang baru dijumpai
4)      Jika berat badan anak menurut umur sangat rendah (BGM), Ibu diminta untuk kembali 4 minggu sesudah kunjungan pertama, guna mengukur penambahan berat anak
i)     Anemia, sesudah 4 minggu
1)      Beri zat besi untuk 4 minggu berikutnya
2)      Nasihati ibu untuk kembali 4 mnggu kemudian
3)      Jika anak masih agak pucat sesudah 8 minggu, rujuk untuk pemeriksaan lebih lanjut
4)      Jika telapak tangan sudah tidak pucat sesudah 8 minggu, tak ada pengobatan tambahan
j) Berat badan menurut umur sangat rendah  (BGM=Bawah Garis Merah), sesudah 4 minggu:
1)      Timbanglah anak dan tentukan apakah berat  badanya masih sangat rendah
2)      Lakukan : lihat pertanyaan pada penilaian ulang tentang cara pemberian makan (bagan konseling bagi ibu)
3)      Tindakan :
a.       Jika berat badan menurut umur sudah tidak BGM, Pujilah ibu dan bangkitkan semangatnya untuk elanjutkan
b.      Jika berat badan anak menurut umur masih BGM, nasihati ibu tentang setiap masalah pemberian makan yang di jumpai
c.       Anjurkan ibu untuk kembali bersama anaknya setiap bulan sampai makanannya baik dan berat badanya meningkat dan tidak BGM
d.      Jika masih diperlukan kunjungan ulang berdasarkan kunjungan pertama atau kunjungan saat  ini nasihati ibu untuk kunjungan berikutnya, juga nasihati ibu tentang kapan harus kembali segera
k) Konseling bagi Ibu
konseling yang diberikan pada ibu antara lain mengenai :
a)      Makanan
1)      Menilai cara pemberian makanan
2)      Tanyakan :
a.       Apakah ibu meneteki anak ini?
                                          I.               Berapa kali sehari?
                                       II.               Apakah ibu juga meneteki pada malam hari?
b.      Apakah anak mendapat makanan atau minuman lain?
1)      Makanan atau minuman apa?
2)      Berapa kali sehari ?
3)      Alat apakah yang di gunakan untuk member makan / mnum anak?
4)      Jika berat badan menurut umur sangat rendah / BGM :
Berapa banyak makan dan minum yang diberikan kepada anak?


 
                           Apakah anak mendapat porsi sendiri ?
                          
                           Siapa yang memberi makan anak dan bagaimana caranya?

                           Selama sakit ini, apakah pemberian makan anak di ubah? Bila ya, bagaimana?

b)      Anjuran makanan selama anak sakit maupun dalam keadaan sehat
1)      Sampai umur 4 bulan
a.          Beri ASI sesuai keinginan anak, paling sedikit 8 kali sehari
b.         Jangan diberi makan dan minuman lain selain ASI (jika mungkin beri ASI eksklusif sampai anak umur 6 bulan).
2)      Umur  4 sampai 6 bulan
a.          Beri ASI sesuai keinginan anak, paling sedikit 8 kali sehari
b.         Beri makanan pendamping ASI 2 kali sehari, tiap kali 2 sendok makan


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar