Rabu, 05 Juni 2013

IMD (INISIASI MENYUSU DINI)


1.      Inisiasi Menyusu Dini (IMD)
a.       Pengertian
Dalam buku Paket Modul Kegiatan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI Ekslusif 6 Bulan terbitan Departemen Kesehatan Republik Indonesia tahun 2008 pengertian Inisiasi Menyusu Dini adalah proses bayi menyusu segera setelah dilahirkan, dimana bayi dibiarkan mencari putting susu ibunya sendiri (tidak disodorkan ke puting susu). Inisiasi menyusu dini (early initiation) atau permulaan menyusu dini adalah bayi mulai menyusu sendiri segera setelah lahir. Jadi, sebenarnya bayi manusia seperti juga halnya bayi mamalia lain mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri. Dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya, setidaknya selama satu jam segera setelah lahir (Roesli, 2008: 3)
            Jika bayi baru lahir segera dikeringkan dan diletakkan diperut ibu dengan kontak kulit ke kulit dan tidak dipisahkan dari ibunya setidaknya satu jam, semua bayi akan melalui lima tahapan perilaku (pre – feeding behavior) sebelum ia berhasil menyusu. Berikut ini lima tahap perilaku bayi tersebut:
1)        Dalam 30 menit pertama, stadium istirahat/diam dalam keadaan siaga (rest quite alert stage). Sesekali matanya terbuka lebar melihat ibunya. Masa tenang yang istemewa ini merupakan penyesuaian peralihan dari keadaan dalam kandungan ke keadaan di luar kandungan. Bonding (hubungan kasih sayang) ini merupakan dasar pertumbuhan bayi dalam suasana dalam aman. Hal ini meningkatkan kepercayaan diri ibu terhadap kemampuan menyusui dan mendidik anak.
2)        Antara 30-40 menit : mengeluarkan suara, gerakan mulut seperti mau minum, mencium, dan menjilat tangan. Bayi mencium dan merasakan cairan ketuban yang ada ditangannya. Bau ini sama dengan bau yang dikeluarkan payudara ibu. Bau ini membimbing bayi untuk menemukan payudara dan puting susu.
3)        Mengeluarkan air liur : Saat menyadari bahwa ada makanan disekitarnya, bayi mulai mengeluarkan air liurnya.
4)        Bayi mulai bergerak ke arah payudara. Areola (kalang payudara) sebagai sasaran, dengan kaki menekan perut ibu. Menghentak-hentak kepala ke dada ibu, menoleh ke kanan dan kiri serta menyentuh dan meremas daerah puting susu dan sekitarnya dengan tangannya.
5)        Menemukan, menjilat, mengulum putting, membuka mulut lebar, dan melekat dengan baik ( Roesli,2008:17)
Berkaitan dengan kontak kulit antara ibu dan bayi, kegiatan ini sangat besar manfaatnya bagi bayi dan ibu itu sendiri. Manfaat kontak kulit bayi ke kulit ibu:
1)        Dada ibu  menghangatkan bayi dengan tepat. Kulit ibu akan menyesuaikan suhunya dengan kebutuhan bayi. Kehangatan saat menyusu menurunkan resiko kematian karena hypothermia (kedinginan).
2)        Ibu dan bayi merasa lebih tenang, sehingga membantu pernafasan dan detak jantung bayi stabil. Dengan demikian, bayi akan lebih jarang rewel sehingga mengurangi pemakaian energi.
3)        Bayi memperoleh bakteri tak berbahaya (bakteri baik) yang ada antinya di ASI ibu. Bakteri baik ini akan membuat koloni usus dan kulit bayi untuk menyaingi bakteri yang lebih ganas dari lingkungan.
4)        Bayi mendapatkan kolostrum (ASI pertama), cairan berharga yang kaya akan antibody (zat kekebalan tubuh) dan zat penting lainnya yang penting untuk pertumbuhan usus, usus bayi ketika dilahirkan masih sangat muda, tidak siap untuk mengelola asupan makanan. Antibody dalam ASI penting demi ketahanan terhadap infeksi, sehingga menjamin kelangsungan hidup sang bayi.
5)        Bayi memperoleh ASI (makanan awal) yang tidak mengganggu pertumbuhan, fungsi usus, dan alergi. Makanan lain selain ASI mengandung protein yang bukan protein manusia (misalnya susu hewan), yang tidak dapat dicerna dengan baik oleh usus bayi.
6)        Bayi yang diberikan mulai menyusu dini akan lebih berhasil menyusu ASI eksklusif dan mempertahankan menyusu setelah enam bulan.
7)        Sentuhan, kuluman, dan jilatan bayi pada puting susu akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting karena menyebabkan rahim berkontraksi membantu mengeluarkan plasenta dan mengurangi perdarahan ibu, merangsang hormon lain yang membuat ibu menjadi tenang, rileks, mencintai bayi, lebih kuat menahan sakit/nyeri, dan timbul rasa sukacita/bahagia, merangsang pengaliran ASI dari payudara, sehingga ASI matang (yang berwarna putih) dapat lebih cepat keluar. (Departemen Kesehatan RI, 2008: 28).
b.      Tatalaksana
Tahapan-tahapan yang perlu diperhatikan untuk menyukseskan terjadinya inisiasi menyusu dini. Utami Roesli (2008:20) mengkategorikan tahapan inisiasi menyusu dini dalam satu kategori yaitu tatalaksana inisiasi menyusu dini secara umum (untuk ibu yang melahirkan normal).
1)        Tata laksana Inisiasi Menyusu Dini Secara Umum
a)  Dianjurkan suami atau keluarga mendampingi ibu saat persalinan.
b)  Disarankan untuk tidak atau mengurangi penggunaan obat kimiawi saat persalinan. Dapat digantikan dengan cara non-kimiawi, misalnya pijat, aromaterapi, gerakan, atau hynobirthing.
c)  Biarkan ibu menentukan cara melahirkan yang diinginkan, misalnya melahirkan normal, di dalam air, atau dengan jongkok,
d) Seluruh badan dan kepala bayi dikeringkan secepatnya, kecuali kedua tangannya. Lemak putih (vernix) yang menyamakan kulit bayi sebaiknya dibiarkan.
e)  Bayi ditengkurapkan di dada atau perut ibu. Biarkan kulit bayi melekat dengan kulit ibu. Posisi kontak kulit dengan kulit ini dipertahankan minimum satu jam atau setelah menyusu awal selesai. Keduanya diselimuti. Jika perlu, gunakan topi bayi.
f)   Bayi dibiarkan mencari puting susu ibu. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut, tetapi tidak memaksakan bayi ke puting susu.
g)  Ayah didukung agar membantu ibu mengenali tanda-tanda atau perilaku bayi sebelum menyusu. Hal ini dapat berlangsung beberapa menit atau satu jam, bahkan lebih. Dukungan ayah akan meningkatkan rasa percaya diri ibu. Biarkan bayi dalam posisi kulit bersentuhan dengan kulit ibunya setidaknya selama satu jam, walaupun ia telah berhasil menyusu pertama sebelum satu jam. Jika belum menemukan puting payudara ibunya dalam waktu satu jam, biarkan kulit bayi tetap bersentuhan dengan kulit ibunya sampai berhasil menyusu pertama.
h)  Dianjurkan untuk memberikan kesempatan kontak kulit dengan kulit pada ibu yang melahirkan dengan tindakan, misalnya operasi Caesar.
i)    Bayi dipisahkan dari ibu untuk ditimbang, diukur dan dicap setelah satu jam atau menyusu awal selesai. Prosedur yang invasive, misalnya suntikan vitamin K dan tetesan mata bayi dapat ditunda.
j)    Rawat gabung-ibu dan bayi dirawat dalam satu kamar. Selam 24 jam ibu-bayi tetap tidak dipisahkan dan bayi selalu dalam jangkauan ibu. Pemberian minuman pre-laktal (cairan yang diberikan sebelum ASI “keluar”) dihindarkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar