Minggu, 09 Juni 2013

KEHAMILAN DENGAN LUPUS


BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Lupus adalah salah satu penyakit autoimun yang bersifat akut kronis yang disebabkan adanya kelebihan aktivitas sistem imunitas dan sistem itu menyerang tubuh sendiri. Lupus dapat menyerang beberapa jaringan dan organ tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh dan kematian. Penyebab lupus saat ini belum diketahui dengan pasti. Faktor lingkungan dan genetik memiliki peranan penting dalam timbulnya penyakit itu. Faktor lingkungan yang berpengaruh antara lain infeksi, antibiotik khususnya golongan sulva dan penicillin, sinar ultraviolet, stres berat, beberapa jenis obat-obatan, dan hormon.
Gejala lupus antara lain nyeri sendi, pembengkakan sendi, demam lebih dari 38 derajat Celcius, kelelahan berlebihan, anemia, kelainan ginjal, nyeri dada saat bernapas, sensitif sinar matahari, rambut rontok, kelainan pembekuan darah, dan perubahan jari menjadi putih kebiruan saat dingin. Akibat dari penyakit itu tidak hanya dialami oleh penderita, tetapi juga mempengaruhi keluarga, teman, dan rekan kerja. Namun demikian, penyakit itu kurang diakui sebagai masalah kesehatan global oleh masyarakat, tenaga kesehatan profesional, dan pemerintah, sehingga perlu mendorong kesadaran yang lebih besar tentang lupus.
Secara epidemiologi, 90% penyakit lupus menyerang perempuan serta 10% anak-anak dan laki-laki. Rasio penderita lupus di AS adalah 1:2.000 orang, China 1:1.000 orang, dan keturunan Afro-Karibia 1:500 orang. Angka harapan hidup 5 tahun untuk penderita lupus berkisar 75%-98%. Angka harapan hidup itu meningkat seiring dengan semakin baiknya terapi pada penderita lupus. Saat ini, ada sekitar 5 juta pasien lupus di seluruh dunia dan setiap tahun ditemukan lebih dari 100.000 pasien baru, baik usia anak, dewasa, laki-laki, dan perempuan. Bangsa Asia dan Afrika lebih rentan terkena penyakit in dibandingkan dengan kulit putih. Data di Amerika menunjukkan angka kejadian penyakit Lupus Ras Asia lebih tinggi dibandingkan Ras Kaukasia.
Di Indonesia jumlah penderita Lupus yang tercatat sebagai anggota YLI 789 orang, tetapi bila kita melakukan pendataan lebih seksama jumlah pasien Lupus di Indonesia akan lebih besar dari Amerika ( 1.500.000 orang).Di Jawa Barat jumlah penderita lupus terdata mencapai 700 orang. Setiap bulan misalnya di RSHS selalu ada 10 pasien lupus baru. Lupus juga dikenal sebagai penyakit seribu wajah karena menyerang semua sistem organ dan gejalanya bervariasi. Penyakit lupus dapat diderita siapa saja tanpa kecuali. Namun wanita lebih beresiko 6 hingga 10 kali dibandingkan pria, terutama pada usia 15 hingga 50 tahun. Karenanya, lupus seringkali menimbulkan berbagai masalah kesehatan, contohnya saja keguguran (jika seorang wanita sedang hamil terkena penyakit lupus), gangguan perkembangan janin, atau dapat menyebabkan bayi meninggal saat dilahirkan.
Kehamilan pada ibu dengan penyakit Sistemik Lupus Erithematosus (SLE) sangat berhubungan dengan tingkat kesakitan dan kematian ibu serta janin. Resiko kematian ibu hamil yang menderita SLE memiliki dampak 20 kali lebih tinggi karena komplikasi yang disebabkan oleh preeklamsi, trombosis, infeksi dan kelainan darah (Varghese, Crocker, Bruce & Tower, 2011). Diperkiranan penderita SLE mencapai 5 juta orang diseluruh dunia. Prevalensi SLE di India sangat kecil ditemukan 3 kasus per 100.000 populasi yang dilaporkan. Kejadian SLE di UK dilaporkan 49,6 kasus per 100.000 populasi ( Roy, Das & Datta, 2010).
Penyakit SLE menyerang hampir pada 90% wanita yang terjadi pada rentang usia reproduksi antara usia 15-40 tahun dengan rasio wanita dan laki-laki adalah 5 : 1 (Kusuma, 2007). Penyakit SLE yang kebanyakan terjadi pada wanita di usia reproduksi seringkali menimbulkan masalah kesehatan terutama pada masa kehamilan yang dapat membahayakan kondisi ibu dan janin. Dilaporkan wanita hamil yang menderita SLE memiliki komplikasi yang buruk terhadap kondisi ibu dan janin. Oleh karena itu penyakit SLE sangat beresiko tinggi pada kehamilan


B. Tujuan Umum
            Mahasiswa dapat memahami penjabaran tentang penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) pada kehamilan.
C. Tujuan Khusus
1. Agar mahasiswa mampu menjelaskan tentang definisi penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE).
2.  Agar mahasiswa mampu menjelaskan tentang eriologi dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
3.  Agara mahasiswa mampu menyebutkan gejala dan penyebab penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
4.  Agar mahasiswa mampu menyebutkan klasifikasi dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
5.  Agar mahasiswa mampu menjelaskan tentang patofisiologi dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
6. Agar mahasiswa mampu menjelaskan tentang diagnosa dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
7.  Agar mahasiswa mampu menjelaskan resiko dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) terhadap kehamilan
8.  Agar mahasiswa mampu menjelaskan tentang perawatan kehamilan dengan penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE)






BAB II
PEMBAHASAN
A.       Definisi
Penyakit LUPUS adalah penyakit baru yang mematikan setara dengan kanker. Tidak sedikit pengindap penyakit ini tidak tertolong lagi, di dunia terdeteksi penyandang penyakit Lupus mencapai 5 juta orang, lebih dari 100 ribu kasus baru terjadi setiap tahunnya. Arti kata lupus sendiri dalam bahasa Latin berarti “anjing hutan”. Istilah ini mulai dikenal sekitar satu abad lalu. Awalnya, penderita penyakit ini dikira mempunyai kelainan kulit, berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian kerap bengkak dan timbul sariawan. Penyakit ini tidak hanya menyerang kulit, tetapi juga dapat menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh. Penyakit Lupus dalam ilmu kedokteran disebut dengan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) adalah penyakit radang yang menyerang banyak sistem dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan disertai adanya antibodi yang menyerang tubuhnya sendiri.
B.     Etiologi
Faktor penyebab terserangnya seseorang terhadap penyakit Lupus hingga kini belum diketahui, tetapi pengaruh lingkungan dan faktor genetik, hormon diduga sebagai penyebabnya.
1.      Faktor Genetik : Tidak diketahui gen atau gen – gen apa yang menjadi penyebab penyakit tersebut, 10% dalam keluarga Lupus mempunyai keluarga dekat orang tua atau kaka adik) yang juga menderita lupus, 5% bayi yang dilahirkan dari penderita lupus terkena lupus juga, bila kembar identik, kemungkinan yang terkena Lupus hanya salah satu dari kembar tersebut.

2. Faktor lingkungan sangat berperan sebagai pemicu Lupus, misalnya : infeksi, stress, makanan, antibiotik (khususnya kelompok sulfa dan penisilin), cahaya ultra violet (matahari) dan penggunaan obat – obat tertentu.
3.  Faktor hormon, dapat menjelaskan mengapa kaum perempuan lebih sering terkena penyakit lupus dibandingkan dengan laki-laki. Meningkatnya angka pertumbuhan penyakit Lupus sebelum periode menstruasi atau selama masa kehamilan mendukung keyakinan bahwa hormon, khususnya ekstrogen menjadi penyebab pencetus penyakit Lupus. Akan tetapi hingga kini belum diketahui jenis hormon apa yang menjadi penyebab besarnya prevalensi lupus pada perempuan pada periode tertentu yang menyebabkan meningkatnya gejala Lupus masih belum diketahui.
4. Faktor sinar matahari adalah salah satu kondisi yang dapat memperburuk gejala Lupus. Diduga oleh para dokter bahwa sinar matahari memiliki banyak ekstrogen sehingga mempermudah terjadinya reaksi autoimmun. Tetapi bukan berarti bahwa penderita hanya bisa keluar pada malam hari. Pasien Lupus bisa saja keluar rumah sebelum pukul 09.00 atau sesudah pukul 16.00 WIB dan disarankan agar memakai krim pelindung dari sengatan matahari. Teriknya sinar matahari di negara tropis seperti Indonesia, merupakan faktor pencetus kekambuhan bagi para pasien yang peka terhadap sinar matahari dapat menimbulkan bercak-bercak kemerahan di bagian muka.kepekaan terhadap sinar matahari (photosensitivity) sebagai reaksi kulit yang tidak normal terhadap sinar matahari.

C.     Gejala dan penyebab penyakit lupus
Gejala-gejala yang sering dijumpai pada penderita penyakit Lupus adalah sebagai berikut :
1.      Ruam kemerahan pada wajah dan tubuh pada penderita Lupus biasanya timbul ruam kemerahan pada bagian hidung dan pipi mirip kupu-kupu atau disebut butterfly rush. Ruam tersebut bisa timbul pada tubuh menyerupai cakram, timbul dan bersisik.
  1. Sariawan
    Timbul sariawan pada mulut dan tenggorokan
  2. Nyeri Sendi, nyeri  pada sendi disertai dengan pembengkakan dan penumpukan cairan
  3. Anemia
    Sel-sel darah merah diserang oleh penyakit Lupus ini sehingga menyebabkan anemia.
  4. Kulit yang peka, pada penderita penyakit Lupus kulit semakin peka terhadap paparan sinar matahari sehingga kulit mudah sekali menjadi gosong
  5. Kelainan Ginjal, didalam urin terdapat protein, berbusa atau berdarah
  6. Demam dan kelelahan yang berlebihan
  7. Serositis
    Terdapat cairan dirongga jantung sehingga nyeri saat menarik nafas
  8. Kelainan imunologi, ada antibodi lain yangtidak seharusnya ada didalam tubuh
  9. Kelainan Saraf, tiba-tiba kejang  tanpa penyebab yang jelas
  10. Panas dan demam berkepanjangan.
Penyebab penyakit Lupus  itu sendiri merupakan kombinasi faktor keturunan, faktor lingkungan dan faktor hormon. Paparan sinar matahari, penggunaan obat-obatan, infeksi dan stres juga merupakan sumber pencetus penyakit Lupus. Walaupun demikian penyakit Lupus tidak menular seperti layaknya penyakit lain.
D. Klasifikasi
Ada tiga jenis lupus, yaitu :
1.    Lupus Eritematosus Sistemik (LES), dapat menimbulkan komplikasi seperti lupus otak, lupus paru-paru, lupus pembuluh darah jari-Jari tangan atau kaki, lupus kulit, lupus ginjal, lupus jantung, lupus darah, lupus otot, lupus retina, lupus sendi, dan lain-lain.
2.   Lupus Diskoid, lupus kulit dengan manifestasi beberapa jenis kelainan kulit. Termasuk paling banyak menyerang.
3.   Lupus Obat, yang timbul akibat efek samping obat dan akan sembuh sendiri dengan memberhentikan obat terkait. Umumnya berkaitan dengan pemakaian obat hydralazine (obat hipertensi) dan procainamide (untuk mengobati detak jantung yang tidak teratur).

E.  Patofisiologi
Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang menyebabkan peningkatan autoantibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal (sebagaimana terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi selama usia reproduktif) dan lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal). Obat-obat tertentu seperti hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan di samping makanan seperti kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE- akibat senyawa kimia atau obat-obatan. Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat fungsi sel T-supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya serangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang kembali. Uniknya, penyakit Lupus ini antibodi yang terbentuk dalam tubuh muncul berlebihan. Hasilnya, antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat. Kelainan ini disebut autoimunitas. Antibodi yang berlebihan ini, bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua cara yaitu :Pertama, antibodi aneh ini bisa langsung menyerang jaringan sel tubuh, seperti pada sel-sel darah merah yang menyebabkan selnya akan hancur. Inilah yang mengakibatkan penderitanya kekurangan sel darah merah atau anemia., Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pembentukan antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks imun.Gabungan antibodi dan antigen mengalir bersama darah, sampai tersangkut di pembuluh darah kapiler akan menimbulkan peradangan. Dalam keadaan normal, kompleks ini akan dibatasi oleh sel-sel radang (fagosit). Tetapi, dalam keadaan abnormal, kompleks ini tidak dapat dibatasi dengan baik. Malah sel-sel radang tadi bertambah banyak sambil mengeluarkan enzim, yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks. Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak organ tubuh dan mengganggu fungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat sebagai gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang fungsi organ tubuh akan terganggu

F.      Diagnosa
Diagnosis SLE seringkali sulit ditegakkan karena gejala klinis penyakitnya sangat beraneka ragam. Untuk menegakkan diagnosis SLE umumnya harus dilakukan melalui dua tahapan. Pertama, menyingkirkan kemungkinan diagnosis penyakit lain. Kedua, mencari tanda dan gejala penyakit yang memiliki nilai diagnosis tinggi untuk SLE. Berdasarkan kriteria American College of Rheumatology (ACR) 1982, diagnosis lupus dapat ditegakkan secara pasti jika dijumpai 4 kriteria atau lebih dari 11 kriteria, yaitu:
1.       Bercak-bercak merah pada hidung dan kedua pipi yang memberi gambaran seperti kupu-kupu (butterfly rash).
2.      Kulit sangat sensitif terhadap sinar matahari (photohypersensitivity).
3.      Luka di langit-langit mulut yang tidak nyeri..
4.      Radang sendi ditandai adanya pembengkakan serta nyeri tekan sendi.
5.      Kelainan paru.
6.      Kelainan jantung..
7.      Kelainan ginjal.,
8.      Kejang tanpa adanya pengaruh obat atau kelainan metabolic,
9.      Kelainan darah (berkurangnya jumlah sel darah merah, sel darah putih, dan keping darah),
10.  Kelainan sistem kekebalan (sel LE positif atau titer anti-ds-DNA abnormal atau antibodi anti SM positif atau uji serologis positif palsu sifilis),
11.  Antibodi antinuklear (ANA) positif.
Kelainan yang paling sering adalah kelainan sendi dan kelainan kulit. Sendi yang sering terkena adalah sendi jari-jari tangan, sendi lutut, sendi pergelangan tangan dan sendi pergelangan kaki. Kelainan kulit berupa butterfly rash dianggap khas dan banyak menolong dalam mengarahkan diagnosis lupus.

G. Resiko Penyakit Lupus terhadap kehamilan
Pada kehamilan dari perempuan yang menderita lupus, sering diduga berkaitan dengan kehamilan yang menyebabkan abortus, gangguan perkembangan janin atau pun bayi meninggal saat lahir. Tetapi hal yang berkebalikan juga mungkin atau bahkan memperburuk gejala lupus. Sering dijumpai gejala Lupus muncul sewaktu hamil atau setelah melahirkan.
Dalam kehamilan sering terjadi kelainan kulit sehingga kambuhnya lupus dapat tidak diketahui, namun pada umumnya tetap dapat diobati dengan obat yang terseleksi. Lebih baik apabila ibu dengan lupus tidak mendapat obat-obatan selama hamil, namun belum ada laporan bahwa obat-obat untuk lupus (kecuali cyclophosphamide atau golongan kortikosteroid selain prednison) menyebabkan cacat janin meskipun jumlah kasus belum banyak.
Risiko terhadap bayi: sekira 25% kehamilan pada ibu lupus akan berakhir dengan keguguran (pada ibu normal tanpa lupus keguguran sekira 8 – 10%), 25 – 50% dapat hamil cukup bulan, dan sekira 25 – 50% melahirkan pada usia kurang bulan. Sekira 3% bayi yang dilahirkan dapat mengalami neonatal lupus berupa kelainan pada kulit dan kelainan irama jantung. Tidak didapatkan peningkatan angka kejadian cacat fisik lainnya atau cacat mental pada bayi yang dilahirkan oleh ibu dengan penyakit lupus. Demikian juga perkembangan bayi dengan nenonatal lupus pada umumnya normal. Risiko pada ibu meningkat dalam hal terjadinya preeklamsi/eklamsi (kenaikan tekanan darah yang terjadi dalam kehamilan, dapat disertai kejang), turunnya trombosit dan terdapatnya protein dalam air kemih.
Masalah utama yang terjadi pada kehamilan dengan SLE yaitu meningkatnya komplikasi kehamilan terkait dengan penyakit SLE dan terjadinya flare akibat kehamilan. Kondisi penyakit SLE yang buruk pada wanita hamil atau penyakit aktif sebelum dan selama kehamilan akan berdampak terjadinya flare sehingga dapat mempengaruhi terhadap kondisi ibu maupun janin. Flare menurut Arfaj dan Khail (2010) dapat didefinisikan sebagai serangan yang tidak terduga dari penyakit setelah periode remisi. Flare penyakit SLE sering terjadi pada kehamilan dan berdampak terhadap meningkatnya resiko morbiditas, kelahiran prematur bahkan kematian janin.
Flare penyakit SLE pada kehamilan merupakan prediktor yang sangat kuat berhubungan dengan dampak buruk yang terjadi selama kehamilan seperti pengakhiran kehamilan, kelahiran prematur dan Intrauterine Growth Retardation 8 (IUGR). Komplikasi umum kehamilan pada wanita dengan SLE menurut Roy, Das dan Datta (2010) terkait dengan adanya faktor prediktor diantaranya hipertensi, preeklamsi, eklamsi, perdarahan anterpartum, IUGR, prematuritas, abortus dan still birth dan diabetes dalam kehamilan. Komplikasi lainnya yang terjadi pada wanita hamil akibat penyakit SLE diantaranya infeksi, hipertensi pulmonal, stroke, emboli paru, trombosis vena dan lupus neonatal.
Komplikasi lanjut ini terjadi karena kehamilan dapat mempengaruhi perjalanan penyakit SLE. Plasenta dan fetus dapat menjadi target dari autoantibodi maternal sehingga dapat berakhir dengan kegagalan kehamilan dan terjadinya lupus eritematosus neonatal. Pada penderita SLE kematian janin dihubungkan dengan adanya antibodi antifosfolipid yang merupakan antikoagulan lupus (Varghese, Crocker, Bruce dan Tower, 2011). Antibodi antifosfolipid merupakan indikator yang paling sensitif untuk kematian janin, pada beberapa penelitian dikatakan bahwa adanya antibodi fosfolipid dan riwayat kematian janin memberikan angka 9.
H. Perawatan Kehamilan dengan SLE
Konseling kaitannya dengan kehamilan lebih ditekankan pada merencanaan kehamilan yang tepat.. Jika wanita hamil terdiagnosa SLE penting mengidentifikasi adanya flare penyakit pada awal kehamilan terhadap komplikasi terkait kehamilan pada wanita dengan penyakit SLE dan pemantauan kondisi janin serta ibu. Pemeriksaan laboratorium yang lengkap pada kunjungan pertama antenatal harus dilakukan dan diulang setiap trimester. Ibu yang menderita penyakit SLE aktif harus terus diobservasi secara rutin untuk mengurangi dampak buruk yang terjadi pada ibu dan janin sehingga menurunkan resiko morbiditas dan mortalitas, kemudian pemerian konseling menngenai pemilihan kontrasepsi yang efektif dan aman dalam penanganan penderita SLE pasca persalinan, kontrasepsi oral yang hanya mengandung progesteron merupakan alternatif yang lebih aman untuk penderita SLE pasca persalinan, karena kontrasepsi yang memiliki kandungan estrogen dapat mencetuskan SLE.
Terkait dengan penanganan serta pemantauan pada ibu hamil dengan SLE dalam hal ini perawat perlu melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan lain seperti kerjasama yang baik antara perawat dengan bagian obstetri dan bahkan ahli penyakit dalam untuk merawat penderita SLE yang hamil sehingga dapat memberikan penanganan dan pemantauan yang tepat agar kondisi ibu dan janin selama kehamilan dalam kondisi yang baik. prediksi kematian janin diatas 85% pada wanita SLE. Pada wanita hamil dengan penderita SLE dapat menderita preeklamsi, sindrom antifosfolipid atau keduanya, sehingga kemungkinan terjadi kelainan pertumbuhan janin sangat tinggi pada kasus ini. Prognosa ibu hamil yang menderita SLE ditentukan pada saat konsepsi, bila konsepsi terjadi pada masa remisi maka prognosanya akan lebih baik. Menurut Kwok, Tam, Zhu, Leung dan Li (2011) bila dalam waktu kurang dari 6 bulan sebelum konsepsi terdapat riwayat nefritis dan penyakit SLE aktif dengan skor SLEDAI 4 atau lebih akan beresiko berdampak buruk terhadap janin. Diperkuat oleh Roy, Das, Datta (2010) bahwa penderita SLE yang telah mengalami masa remisi lebih dari 6 bulan sebelum hamil mempunyai resiko 25% eksaserbasi pada masa hamil dibandingkan dengan bila masa remisi SLE sebelum hamil kurang dari 6 bulan maka resiko eksaserbasi SLE pada saat hamil menjadi 50% dengan dampak kehamilan yang buruk.
Hal ini menunjukan bahwa kehamilan pada penderita SLE sangat ditentukan dari aktifitas penyakitnya, konsepsi yang terjadi pada saat remisi mempunyai dampak kehamilan yang baik dibandingkan dengan sebelum mencapai remisi. Dengan penyakit yang stabil atau menderita flare yang relatif jarang atau hanya sedikit dalam kehamilan akan melahirkan bayi yang sehat.


























BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari penjelasan dalam makalah ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa SLE (Sistemik Lupus Eritematosus) merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan interaksi kompleks antar faktor genetik, hormonal dan faktor lingkungan, yang semuanya dianggap ikut memainkan peran untuk menimbulkan aktivitasi hebat sel B, sehingga menghasilkan pembuatan berbagai autoantibody polispesifik. Kemudian dari penjelasan diatas mahasiswa mampu :
1.      Menjelaskan tentang definisi penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE).
2.      Menjelaskan tentang eriologi dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE),
3.      Menyebutkan gejala dan penyebab penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE),
4.      Menyebutkan klasifikasi dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE),
5.      Menjelaskan tentang patofisiologi dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE),
6.      Menjelaskan tentang diagnosa dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE),
7.      Menjelaskan resiko dari penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE) terhadap kehamilan,
8.      Menjelaskan tentang perawatan kehamilan dengan penyakit Systemic Lupus Erythematosus (SLE)




B.  Saran
Disarankan Kepada mahasiswa agar lebih cermat dalam mendiagnosa adanya penyakit SLE pada ibu hamil, karena hal demikian dapat berpengaruh terhadap kesejahteraan janin.



















DAFTAR PUSTAKA

Charless d Forbes, 2004. Illustrated Pocket Guide to Clinical Medicine. Jurnal penyakit
Kusuma, 2007. Lupus Eritematosus Sistemik pada Kehamilan. Jurnal penyakit.
Manuaba, 2009. Patologi Obstetri untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta: EGC
Nyoman, 2007.The Lupus Book.Yogyakarta: IKAPI
Roy, 2010. SLE in Pregnancy. Jurnal BSMMV
Yuriawantini, 2007. Aspek Imunologi SLE. Jurnal penyakit



           



1 komentar:

  1. Kalau warna backgrounya diganti yang lebih soft mungkin akan lebih enak dibaca . .

    BalasHapus