Rabu, 05 Juni 2013

IMUNISASI


Imunisasi
a.     Definisi Imunisasi
Imunisasi adalah pemberian vaksin kepada seseorang untuk melindunginya dari beberapa penyakit tertentu. Imunisasi merupakan upaya untuk mencegah penyakit lewat peningkatan kekebalan tubuh seseorang (Achmadi, 2006). Vaksin adalah suatu produk biologik yang terbuat dari kuman (bakteri maupun virus), komponen kuman, atau racun kuman yang telah  dilemahkan atau dimatikan, atau tiruan kuman dan berguna untuk  merangsang pembentukan kekebalan tubuh seseorang (Achmadi, 2006).
                       b.     Tujuan Imunisasi
                                   1)    Untuk memberikan kekebalan kepada bayi agar dapat mencegah penyakit dan kematian bayi serta anak yang disebabkan oleh penyakit yang sering terjangkit.
                                   2)    Untuk mencegah meluasnya penyakit tertentu dan menghindari resiko kematian yang diakibatkan (Atikah Proverawati, Citra Setyo Dwi Andhini 2010).
                       c.     Jenis Imunisasi
Ada dua jenis imunisasi yaitu imunisasi aktif dan imunisasi pasif.
                                   1)      Imunisasi aktif
Imunisasi aktif adalah pemberian kuman atau racun atau racun kuman yang sudah dilemahkan atau dimatikan dengan tujuan untuk merangsang tubuh memproduksi antibodi sendiri. Misalnya rangsangan virus yang telah dilemahkan pada imunisasi polio dan campak (Atikah Proverawati, Citra Setyo Dwi Andhini 2010).
                                   2)      Imunisasi pasif
Imunisasi pasif adalah penyuntikan sejumlah antibodi  sehingga kadar antibodi dalam tubuh meningkat. Misalnya pemberian anti tetanus serum (ATS) atau anak tersebut mendapat zat anti dari ibunya semasa dalam kandungan (Atikah Proverawati, Citra Setyo Dwi Andhini 2010)
                      d.     Macam-macam imunisasi
                                   1)      Imunisasi  BCG
Imunisasi BCG adalah vaksin untuk mencegah penyakit tuberkulosis  atau lebih dikenal dengan istilah TBC. Penyakit TBC merupakan  penyakit infeksi yang oleh sejenis bakteri  yang berbentuk batang yang disebut Mycobacterium tuberculosis. (Achmadi, 2006).
Vaksin BCG merupakan bakteri tuberculosis bacillus yang telah dilemahkan. Cara pemberiannya melalui suntikan. Sebelum disuntikan vaksin BCG harus dilarutkan terlebih dahulu. Dosis 0,55 cc untuk bayi dan 0,1 cc untuk anak dan orang dewasa. Imunisasi BCG dilakukan pada bayi usia 0-2 bulan, akan tetapi biasanya diberikan pada bayi umur 2 atau 3 bulan. Dapat diberikan pada anak dan orang dewasa jika sudah melalui tes tuberculin dengan hasil negatif. Imunisasi BCG disuntikan secara intracutan di daerah lengan kanan atas (Atikah Proverawati, Citra Setyo Dwi Andhini 2010).
                                   2)      Imunisasi Hepatitis B
Imunisasi hepatitis B diberikan untuk mendapatkan kekebalan aktif terhadap penyakit hepatitis B. Vaksin terbuat dari bagian virus hepatitis B yang dinamakan HbsAg diberikan dengan suntikan secara Intramuskuler dengan dosis 0,5 cc. Kekebalan yang diperoleh dari vaksin hepatitis B cukup tinggi yaitu 94-96%, reaksi imunisasi yang terjadi biasanya nyeri pada bekas suntikan, yang disertai timbul rasa panas atau pembengkakan. Reaksi ini akan hilang dalam 2 hari, efek samping yang mungkin timbul adalah demam ringan (Ranuh, dkk 2005).
Cara penularan hepatitis B adalah dapat terjadi melalui mulut, trasfusi darah dan jarum suntik. Pada bayi hepatitis B dapat tertular dari ibu melalui placenta semasa bayi dalam kandungan atau pada saat kelahiran (Markum, 2002).
Jenis vaksin hepatitis B :
a)        Vaksin yang berasal dari plasma.
b)        Vaksin yang terbuat dengan tekhnik rekombinan (rekayasa genetik) (Markum, 2002).
            Kedua vaksin ini aman dan imugenetik maupun diberikan pada saat lahir karena antibodi anti HbsAg  ibu tidak mengganggu respon terhadap vaksin (Markum, 2002). Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang menyebabkan kanker hati dan kematian. Dosis pertama diberikan segera setelah bayi lahir atau jika ibunya memiliki HbsAg negatif. Imunisasi dasar diberikan sebanyak 3 kali dengan selang waktu 1 bulan antara suntikan HBV I dngan HBV II, serta selang waktu 5 bulan antara suntikan HBV I dengan HBV II (Ranuh, dkk 2005).
                                   3)      DPT combo
Imunisasi DPT adalah suatu suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus (Achmadi, 2005). Dipteri adalah suatu infeksi yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius dan fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernafasan yang melengking. Pertusis berlangsung sampai beberapa minggu dan dapat menyebabkan serangan batuk hebat sehingga anak tidak dapat bernafas, makan atau minum. Ini juga dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, kejang dan kerusakan otak (Markum, 2002).
Tetanus merupakan penyakt yang disebabkan oleh infeksi kuman Clostridium tetani. Kuman ini bersifat anaerob, sehingga dapat hidup pada lingkungan yang tidak terdapat zat asam (oksigen). Tetanus dapat menyerang bayi, anak-anak bahkan orang dewasa (Atikah Proverawati, Citra Setyo Dwi Andhini 2010).
                                   4)      Imunisasi  Campak
Imunisasi  campak bermanfaat untuk mencegah penyakit campak (morbili) yang disebabkan jenis virus golongan paramiksopirus. Gejala skhasnya  timbulnya bintik-bintik merah  dikulit, 3-5 hari setelah anak menderita demam, batuk atau pilek. Bercak merah ini biasa timbul pada pipi dibawah telinga lalu menjalar kemuka, tubuh dan anggota gerak. Pada stadium berikutnya bercak merah tersebut berwarna  coklat kehitaman dan akan menghilang dalam waktu 7-10 hari (Achmadi, 2006).
Penyakit campak merupakan penyakit dapat sembuh  sendiri tapi sering diikuti oleh komplikasi yang cukup berat yaitu radang otak, radang paru, radang saluran kemih dan menurunnya keadaan gizi anak terutama  pada anak yang kurang gizi  sering terdapat komplikasi radang paru yang mungkin dapat mengakibatkan kematian (Achmadi, 2006).
5)   Imunisasi Polio
a)   Definisi Imunisasi Polio
Imunisasi  polio bermanfaat untuk mencegah penyakit polio (kelumpuhan) yang disebabkan oleh virus polio. Virus ini akan masuk merusak bagian anterior susunan saraf pusat tulang belakang. Kata polio (abu-abu) dan myelon (sumsum), berasal dari bahasa latin yang berarti medula spinalis. Penyakit ini disebabkan oleh virus poliomyelitis pada medulla spinalis yang secara klasik menimbulkan kelumpuhan  (Ranuh dkk, 2005).
Poliomeilitis adalah penyakit pada susunan saraf yang disebabkan oleh salah satu dari tiga virus yang berhubungan, yaitu polio type 1, 2 atau 3. Virus polio ini menjadi tidak akif apabila terkena panas, klorin dan sinar ultraviolet. Penyebab penyakit ini disebabkan oleh polio virus dan kurang terjaganya kebersihan diri dan lingkungan.
b)   Tanda dan gejala penyakit polio
Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kematian bisa terjadi jika otot- otot pernafasan terinfeksi dan tidak segera ditangani. Polio dapat menyebabkan gejala yang ringan atau penyakit yang sangat parah. Penyakit ini dapat menyerang sistem pencernaan dan sistem saraf. Polio dapat menyebabkan demam, muntah-muntah, dan mengakibatkan kelumpuhan permanen. Penyakit ini dapat melumpuhkan otot pernafasan dan otot yang mendukung proses menelan  menyebabkan kematian.
c)   Cara penularan Virus polio
(1)Fekal-oral (dari tinja ke mulut)
Yaitu melalui minuman atau makanan yang tercemar virus polio yang berasal dan tinja penderita lalu masuk ke mulut orang yang sehat.
(2)Oral-oral (dari mulut ke mulut)
Yaitu melalui percikan ludah atau air liur penderita yang masuk ke mulut orang sehat lainnya.
Sebenarnya kondisi suhu yang tinggi dapat cepat mematikan virus. Sebaliknya pada keadaan beku atau suhu yang rendah justru virus dapat bertahan hidup bertahun-tahun. Ketahanan virus ini di dalam tanah dan air sangat bergantung pada kelembapan suhu dan adanya mikroba lain. Virus ini dapat bertahan lama pada air limbah dan air permukaan, bahkan dapat sampai berkilo-kilometer dari sumber penularan.
d)  Masa Inkubasi Poliomielitis
Masa inkubasi poliomielitis umumnya berlangsung  6–10 hari dengan kisaran 3-35 hari. Respon terhadap infeksi virus polio sangat bervariasi dan tingkatannya tergantung pada bentuk manifestasi klinisnya. Sekitar 95% dari semua infeksi polio termasuk sub klinis tanpa gejala atau asimtomatic. Pasien yang terkena infeksi tanpa gejala mengeluarkan virus bersama tinja dapat menularkan virus ke orang lain. Sekitar 4-8% dari infeksi polio terdiri atas penyakit ringan yang non spesifik tanpa bukti klinis atau laboratorium dari invasi dalam sistem saraf pusat. Sindrom ini di kenal sebagai poliomielitis abortif dengan ciri khas penyembuhan sempurna dan berlangsung kurang dari seminggu                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                              
e)   Macam-Macam Imunisasi Polio
(1)      IPV (Inactivated Polio Vaccine, Vaksin Salk) mengandung virus polio yang telah dimatikan dan diberikan melalui suntikan
(2)      OPV (Oral Polio Vaccine, Vaksin Sabin) mengandung vaksin hidup yang telah dilemahkan dan diberikan dalam bentuk pil atau cairan. Bentuk trivalen (TOPV) efektif melawan semua bentuk polio, bentuk monovalen (MOPV) efektif melawan 1 jenis polio.
f)            Tahap Pemberian Imunisasi IPV
Imunisasi dasar polio diberikan 4 kali (polio I,II, III, dan IV) dengan interval tidak kurang dari 4 minggu. Imunisasi polio ulangan diberikan 1 tahun setelah imunisasi polio IV, kemudian pada saat masuk SD (5-6 tahun) dan pada saat meninggalkan SD (12 tahun).
g)        Kontra Indikasi Pemberian Imunisasi IPV
(1)      Diare berat.
(2)      Gangguan kekebalan (karena obat imunosupresan, kemoterapi, kortikosteroid)
(3)      Bayi yang terinfeksi immunodeficiency virus (HIV) baik simtomatik maupun asimtomatik bukan kontra indikasi IPV, harus diimunisasi dengan IPV menurut jadwal standar.
(4)      Bayi dengan riwayat hipersentisif terhadap salah satu dari komponen vaksin termasuk phenoxyethanol, formaldehid 0,02%, neomycin, streptomycin, polymyxin B.
h)        Jadwal Pemberian Imunisasi Polio dengan IPV 
(1)      Usia 2 bulan : IPV 1
(2)      Usia 3 bulan  : IPV 2
(3)      Usia 4 bulan  : IPV 3
(4)      Usia 5 bulan  : IPV 4
i)              Standar Teknis Imunisasi IPV
(1)      Deskripsi
IPV adalah Vaksin Polio trivalent suntikan yang terdiri dari suspensi steril virus polio tipe 1, 2 dan 3 yang diinaktivasi. Vaksin dibuat dalam biakan kultur VERO sel.
(2)      Indikasi
Memberikan kekebalan aktif terhadap poliomyelitis.
(3)      Komposisi
Tiap dosis (0,5 mL) mengandung:
(a)      Virus polio Tipe 1 : 40 D unit antigen .
(b)     Virus polio Tipe 2 : 8 D unit antigen .
(c)      Virus polio Tipe 3 : 32 D unit antigen .
(d)     2-phenoxyethanol 0,5% .
(e)      Formaldehid 0,02% .
(f)      Neomycin .
(g)     Streptomycin .
(h)     Polymyxin B .
j)              Dosis dan Cara Pemberian :
(1)      IPV harus diberikan sebanyak 0,5 mL secara intramuskular pada paha, sebaiknya paha kanan.
(2)      Menggunakan Autodisable Syringe (ADS) yang steril pada setiap penyuntikan.
(3)      Bayi harus menerima minimal 4 dosis IPV dengan interval minimal 4 (empat) minggu.
k)        Pemberian Dengan Vaksin Lain
(1)      IPV dapat diberikan dengan aman berbarengan dengan vaksin DPT, DT, TT.
(2)      Campak, Mumps, Rubella, BCG, Hepatitis B atau Hib dan tidak mempengaruhi pembentukan respon imunologik yang dihasilkan masingmasing vaksin.
l)     KIPI IPV
Kejadian ikutan dapat terjadi pasca imunisasi IPV tetapi reaksi ini jarang terjadi, antara lain :
(1)      Reaksi Lokal : reaksi eritema (kemerahan), pembengkakan pada bekas suntikan.
(2)      Reaksi Sistemik : demam, mual, iritabilitas, anoreksia, menangis yang menetap, keletihan.
Seperti halnya pada kegiatan imunisasi rutin lainnya KIPI perlu dipantau dan dilaporkan. Mekanisme pencatatan dan pelaporan KIPI IPV mengacu pada kegiatan surveilans KIPI yang telah rutin dilakukan.
m)      Penyimpanan
IPV merupakan vaksin yang freeze sensitive (tidak kuat terhadap suhu beku) sehingga harus disimpan dan ditransportasikan pada kondisi suhu 20-80 C.
(1)      Pada tingkat provinsi, vaksin harus disimpan di kamar dingin/ lemari es pada suhu 20-80 C.
(2)      Pada tingkat kabupaten/kota dan puskesmas, vaksin harus disimpan dilemari es pada suhu 20-80 C.
(3)      Pada pelayanan, vaksin dibawa dengan menggunakan vaccine carrier yang berisi cool pack (kotak air dingin).
(4)      Berbeda dengan OPV, IPV tidak boleh dibekukan.
n)        Tempat Pelayanan Imunisasi IPV
Imunisasi polio dengan suntik dapat dilayani antara lain : Puskesmas dan jaringannya, Rumah Sakit, Puskesmas dengan RB (Rumah Bersalin), Bidan praktek swasta, Dokter praktek swasta.
Dosis pertama dan kedua diperlukan untuk menimbulkan respon kekebalan primer, sedangkan dosis ketiga dan keempat diperlukan untuk meningkatkan kekuatan antibobi sampai pada tingkat yang tertingi. Setelah mendapatkan serangkaian imunisasi dasar, kepada orang dewasa tidak perlu dilakukan pemberian boster secara rutin, kecuali jika dia hendak bepergian ke daerah dimana polio masih banyak ditemukan. Kepada orang dewasa yang belum pernah mendapatkan imunisasi polio dan perlu menjalani imunisasi, sebaiknya hanya diberikan IPV. Kepada orang yang pernah mengalami reaksi alergi hebat (anafilaktik) setelah pemberian IPV, streptomisin, polimiksin B atau neomisin, tidak boleh diberikan IPV. Sebaiknya diberikan OPV. Kepada penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita AIDS, infeksi HIV, leukemia, kanker, limfoma), dianjurkan untuk diberikan IPV. IPV juga diberikan kepada orang yang sedang menjalani terapi penyinaran, terapi kanker, kortikosteroid atau obat imunosupresan lainnya. IPV bisa diberikan kepada anak yang menderita diare. Jika anak sedang menderita penyakit ringan atau berat, sebaiknya pelaksanaan imunisasi ditunda sampai mereka benar-benar pulih. IPV bisa menyebabkan nyeri dan kemerahan pada tempat penyuntikan, yang biasanya berlangsung hanya selama beberapa hari.
Umumnya anak yang telah imun itu bereaksi terhadap infeksi dalam bentuk : tidak sakit sama sekali atau sakit tetapi ringan sekali, sehingga tidak menimbulkan cacad atau meninggal dunia. Pemberian imunisasi merupakan upaya pencegahan primer yang mencakup upaya menghindari penyakit itu timbul. Upaya ini dapat dilaksanakan dapat tingkat komunitas maupun tingkat individu, prosedur pemberian imunisasi tepat/baik, sesuai dengan syarat tehnis pemberian imunisasi.
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan imunisasi polio dengan menggunakan jenis vaksin yang disuntikkan yaitu Inactivited Polio Vaccine, hal ini diberikan kepada DIY yang menunjukkan hasil sebagai berikut :
(1)      Survei Cakupan Imunisasi rutin Polio, cukup memuaskan >95%.
(2)      Hasil evaluasi terhadap pelaksanaan Survailans AFP, tidak ditemukan virus polio liar pada semua kasus kelumpuhan yang dilaporkan.
(3)      Survei limbah lingkungan di Sewon, di Bantul, menunjukkan adanya sirkulasi vaksin polio di lingkungan menunjukkan tingginya cakupan imunisasi polio.
(4)      Survei serologi antibodi polio pada anak usia balita menunjukkan bahwa semua anak telah mempunyai antibodi ketiga serotipe virus polio dengan titer yang tinggi
o)         Pelaksanaan Pemberian IPV
Pelaksanaan pemberian IPV dimulai pada bulan Mei 2007 hingga Mei 2011. Setelah tahun 2012 akan dilakukan evaluasi dan diskusi antara Tim ahli dan WHO, untuk langkah selanjutnya menetapkan. Target cakupan imunisasi IPV adalah 100%, baik untuk IPV 1, IPV 2 dan IPV 3. Penghitungan kebutuhan vaksin IPV menggunakan rumus : (Sasaran x Target cakupan IPV1) + (Sasaran x target IPV 2) + (Sasaran x target IPV 3).



p)        Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan Imunisasi       
(1).     Faktor predisposisi (predisposing factor)
Faktor predisposisi mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan, sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, pekerjaan,  pengalaman, usia dan sebagainya. Sebagai contoh dalam melakukan imunisasi pada bayinya seorang ibu diperlukan pengethuan dan kesadaran ibu tersebut tentang manfaat imunisasi polio. Disamping itu kadang – kadang kepercayaan, tradisi dapat mendorong atau menghambat ibu untuk melakukan imunisasi.
(2).     Faktor  Pendukung (enabling factor)
       Faktor ini mencakup sarana ketersediaan sarana dan prasarana, lokasi, jenis pelayanan yang tersedia, kualitas pelayanan. Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan terwujudnya perilaku kesehatan. Sebagai contoh ibu mau melakukan imunisasi polio pada bayinya, ibu tersebut tidak hanya tahu dan sadar manfaat imunisasi polio melainkan ibu tersebut dengan mudah harus dapat memperoleh fasilitas atau tempat pelayanan imunisasi misalnya puskesmas, BPS ataupun RS. Fasilitas ini pada hakekatnya mendukung atau faktor pemungkin.
(3).     Faktor Pendorong (reinforcing factor)
Faktor ini mencakup sikap dan perilaku tokoh masyarakat, sikap dan perilaku petugas kesehatan. Termasuk juga di sini undang-undang, peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Untuk melakukan kebiasaan sehat masyarakat kadang-kadang bukan hanya perlu pengetahuan dan sikap positifdan dukungan fasilitas kesehatan saja, melainkan diperlukan perilaku contoh (acuan) dari para tokoh masyarakat dan para petugas terutama petugas kesehatan. Di samping itu Undang-Undang dan peraturan yang mengharuskan seorang ibu melakukan imunisasi juga memperkuat perilaku kesehatan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar