Selasa, 04 Juni 2013

MAKALAH ASUHAN KEBIDANAN NEONATUS BAYI DAN BALITA BRONKOPNEUMONIA


BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar belakang masalah
            Penyakit infeksi paru merupakan penyakit infeksi yang paling sering ditemukan dimasyarakat maupun yang dirawat di rumah sakit, dan masih merupakan masalah kesehatan utama di seluruh dunia. Penyakit infeksi paru berkisar 60%-80% dari seruruh penyakit paru, sedangkan sisanya 20%-40% adalah penyakit non infeksi (Tjandra, 2001).
            Penyakit infeksi paru masih merupakan penyebab kematian yang amat penting di indonesia. Baik yang mengenai cabang-cabang pembuluh paru (bronkus, bronkiolus) atau yang mengenai jaringan paru-paru (pneumonia, TBC) (Tjandra, 2001). Penyakit infeksi paru sebagai penyebab kematian tertinggi adalah pneumonia (Hadiarto, 1992).
            Salah satu penyakit infeksi paru adalah pneumonia. Peneumonia adalah infeksi saluran pernafasan akut bagian bawah yang mengenai parenkim paru. Pneumonia pada anak dibedakan menjadi :
  1. Pneumonia lobaris
  2. Pneumonia intertisial (bronkiolitis0
  3. Bronkopneumonia
Pneumonia adalah salah satu penyakit yang menyerang saluran nafas bagian bawah yang terbanyak kasusnya didapatkan dipraktek-praktek dokter atau rumah sakit dan sering menyebabkan kematian terbesar bagi penyakit saluran nafas bawah yang menyerang anak-anak dan balita hampir diseluruh dunia. Diperkirakan pneumonia banyak terjadi pada bayi kurang dari 2 bulan, oleh karena itu pengobatan penderita pneumonia dapat menurunkan angka kematian anak.
Penegakan diagnosa secara cepat dan tepat serta pemilihan antibiotika berdasarkan uji kepekaan akan sangat membantu dalam pelaksanan dan terapi. Diperlukan pengetahuan dan pengalaman tentang kuman-kuman penyebab infeksi paru dan kepekaanya terhadap beberapa anti biotika. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran mikro organisme penyabab infeksi paru non tuberkolosis dan pola kepekaanya terhadap beberapa antibiotika.

B.Tujuan
1.      Tujuan Umum
Diharapkan setelah diskusi mahasiswa mampu memberikan asuhan kebidanan pada balita dengan bronkopneumonia dengan tujuh langkah varney.
2.      Tujuan Khusus
a)       Mahasiswa diharapkan mampu mengkaji balita dengan bronkopneumonia
b)      Mahasiswa diharapkan mampu melakukan interpretasi terhadap data yang diperoleh
c)      Mahasiswa diharapkan mampu melakukan diagnosa potensial terhadap balita dengan bronkopneumonia
d)     Mahasiswa diharapkan mampu mengantisipasi tindakan segera terhadap balita dengan bronkopneumonia
e)      Mahasiswa diharapkan mampu melakukan perencanaan  terhadap balita dengan bronkopneumonia
f)       Mahasiswa diharapkan mampu melakukan pelaksanaan terhadap balita dengan bronkopneumonia
g)      Mahasiswa diharapkan mampu melakukan evaluasi tindakan terhadap balita dengan bronkopneumonia




BAB II
TINJAUAN TEORI
A.    Pengertian
Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan bercak-bercak infiltrate (Whalley and Wong, 1996).
Bronkopneumonia adalah frekuensi komplikasi pulmonary, batuk produktif  yang lama, tanda dan gejalanya biasanya suhu meningakt, nadi meningkat, pernafasan meningkat
( Suzanne G.Bare.1993 ).
Bronchopneumonia disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru- paru yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan benda-benda asing ( Sylvia Anderson, 1994 )
Berdasarkan beberapa pengertian diatas maka dapat di simpulkan bahwa Bronchopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, dan benda asing.

B. Etiologi
Penyebab bronchopneumonia yang biasa dijumpai adalah :
a. Factor Infeksi
Ø  Pada Neonatus                  : Streptokokus grup B, Respiratory Sincytial Virus (RSV ).
Ø  Pada Bayi
Virus                              : Virus parainfluensa, virus influenza, adeno virus, RSV, cytomegalovirus.
Organisme atipikal       : Chlamidia trachomatis, Pneumocytis.
Bakteri                           : Streptokokus pneumoni, Haemofilus influenza, Mycobacterium tuberculosa, B.pertusis.
Ø  Pada Anak-Anak :
Virus                                 : Parainfluenza, Influenza virus, adeno virus, RSP.
Organisme Atipikal           : Mycoplasma pneumonia
Bakteri                              : Pneumokokus, mycobakterum tuberculosa.

Ø  Pada anak  besar – dewasa muda :
Organisme atipikal            : Mycoplasma pneumonia, C. Trachomatis
Bakteri                              : Pneumokokus, B pertusis, M. Tuberculosis.

b.      Faktor non infeksi
·         Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi :
    1. Bronkopneumonia hidrokarbon :
Terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau sonde lambung   (zat hidrokarbon seperti pelitur, minyk tanah dan bensin).
    1. Bronkopneumonia lipoid :
Terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap keadaan yang mengganggu mekanisme menelan seperti palatoskizis, pemberian makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit tergantung pada jenis minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung asam lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan.
·      Selain faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk terjadinya bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penserita-penderita penyakit yang berat seperti AIDS dan respon imunitas yang belum berkembang pada bayi dan anak merupakan faktor predisposisi terjadinya penyakit ini.
C. Patofisiologi
Bronkopneumonia merupakan infeksi sekunder yang biasanya disebabkan oleh virus penyabab bronkopneumonia yang masuk kesaluran pernafasan sehingga terjadi peradangan bronkus dan alveolus. Inflamasi bronkus ditandai adanya penumpukan sekret, sehingga terjadi demam, batuk produktif, ronchi positif dan mual. Bila penyebaran kuman sudah mencapai alveolus maka komplikasi yang terjadi adalah kolaps alveoli, fibrosis, emfisema dan atelektasis.
Kolaps alveoli akan mengakibatkan penyempitan jalan nafas, sesak nafas, dan nafas ronchi. Fibrosis bisa menyebabkan penurunan fungsi paru dan penurunan  produksi surfaktan sebagai pelumas yang berfungsi untuk melembabkan rongga pleura. Enfisema ( tertimbunnya cairan atau pus dalam rongga paru ) adalah tindak lanjut dari pembedahan. Atelektasis mengakibatkan peningkatan frekuensi napas, hipoksemia, acidosis respiratori, pada klien terjadi sianosis, dispnea  dan kelelahan yang akan mengakibatkan terjadinya gagal nafas.

D.    Tanda dan Gejala
Bronkopneumonia biasanya diahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas selama beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak sampai 39º-40ºC dan mungkin disertai kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis disekitar hidung dan mulut. Batuk biasanya tidak dijumpai pada awal penyakit, anak akan mendapat batuk setelah berapa hari, dimana pada awalnya berupa batuk kering kemudian menjadi produktif.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan :
a.                                                               Inspeksi   : pernapasan cuping hidung (+), sianosis sekitar mulut dan   hidung, retraksi sela iga.
b.      Palpasi                : stem fremitus yang meningkat pada sisi yang sakit
c.       Perkusi               : sonor memendek sampai beda
d.      Auskultasi          : suara pernapasan mengeras ( vesikuler mengeras ) disertai ronchi basah gelembung halus sampai sedang.

Pada bronkopneumonia, hasil pemeriksaan fisik tergantung pada luasnya daerah yang terkena. Pada perkusi thorak sering tidak dijumpai adanya kelainan. Pada auskultasi hanya terdengar ronchi basah gelembung halus sampai sedang.
Bila sarang bronkopneumonia jadi satu ( konfluens ) mungkin pada perkusi terdengar suara yang meredup dan suara pernapasan pada auskultasi terdengar mengeras.

E.     Penatalaksanaan
a.       Medik
Pengobatan diberikan berdasarkan etiologi dan uji resistensi. Tetapi karena hal itu perlu waktu, dan pasien perlu terapi secepatnya maka biasanya yang diberikan :
                                                              i.      Penisilin 50.000 U/kgBB/hari, ditambah dengan kloramfenikol 50-70 mg/kgBB/hari atau diberikan antibiotik yang mempunyai spektrum luas seperti ampicillin. Pengobatan ini diteruskan sampai bebas demam 4-5 hari.
                                                            ii.      Pemberian oksigen dan cairan intravena biasanya diperlukan campuran glukose 5% dan NaCl 0,9% dalam perbandingan 3 : 1 ditambah larutan KCl 10 mEq/500ml/botol infus.
                                                          iii.      Karena sebagian besar pasien jatuh ke dalam asidosis metabolik akibat kurang makan dan hipoksia, maka dapat diberikan koreksi sesuai dengan hasil analisis gas darah arteri. Pasien bronkopneumonia ringan tidak usah dirawat di rumah sakit.


b.      keperawatan
Seringkali pasien pneumonia yang dirawat dirumah sakit datang sudah dalam keadaan payah, sangat dispnea, pernapasan cuping hidung, sianosis, dan gelisah. Masalah pasien yang perlu diperhatikan adalah menjaga kelancaran pernapasan, kebutuhan istirahat, kebutuhan nutrisi atau cairan, mengontrol suhu tubuh, mencegah komplikasi, dan kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit.

1.menjaga kelancaran pernapasan
      Pasien pneumonia berada dalam keadaan dispnea dan sianosis karena adanya radang paru dan banyaknya lendir dalam bronkus atau paru. Agar pasien dapat bernapas dengan lancar lendir tersebut harus dikeluarkan dan untuk memenuhi kebutuhan O2 perlu dibantu dengan memberikan O2 2l/menit secara rumat. Pada anak yang agak besar ( sudah mengerti ) berikan sikap baring setengah duduk, longgrakan pakaian yang menyekat seperti ikat pinggang, kaos baju yang agak sempit. Ajarkan agar bila ia batuk lendirnya dikeluarkan dan katakan kalau lendir tersebut tidak dikeluarkan sesak nafasnya tidak akan hilang ( sediakan kertas tisue dan tempat penampung ). Beritahukan kepada anak agar ia tidak selalu berbaring ke arah dada yang sakit, boleh duduk atau miring ke bagian dada yang lain.
   Pada bayi, baringkan dengan letak kepala ekstensi dengan memberikan ganjal di bawah bahunya. Bukalah pakaian yang ketat seperti gurita, atau celana yang ada karetnya. Isaplah lendirnya dan berikan O2 secara rumat sampai 2 L / menit. Pengisapan lendir harus sering, yaitu pada saat terlihat lendir di dalam mulut, pada waktu akan memberi minum, mengubah sikap baring atau tindakan lain. Perhatikan dengan cermat pemberian infus; perhatikan apakah infus lancar.

2.      Kebutuhan istirahat
Pasien penumonia adalah pasien payah, suhu tubuhnya tinggi, sering hiperpireksia, maka pasien perlu cukup istirahat, semua kebutuhan harus ditolong di tempat tidur. Usahakan pemberian obat secara tepat. Pengambilan bahan pemeriksaan atau pemberian suntikan jangan dilakukan waktu pasien sedang tidur. Usahakan keadan tenang dan nyaman agar pasien dapat istirahat sebaik-baiknya.

3.      Kebutuhan nutrisi dan cairan
Pasien penumonia hampir selalu mengalami masukan makanan yang kurang. Suhu tubuh yang tinggi selama beberapa hari dan masukan yang kurang dapat menyebabkan dehidrasi. Untuk mencegah dehidrasi dan kekurangan kalori di pasang infus dengan cairan glukosa 5% dan NaCI 0,9% dalam perbandingan 3:1 di tambahkan KCI 10 mEq/500 ml / botol infus. Apabila sesak nafas telah berkurang pasien diberikan makanan lunak dan susu. Bujuklah agar anak mau makan, dan waktu menyuapi harus sabar karena keadaan sesak menyebabkan pasien cepat lelah lelah waktu mengunyah.
Pada bayi yang masih minum ASI, bila tidak terlalu sesak ia boleh menetek selain memperoleh infus. Beritahukan ibunya agar pada waktu bayi menetek puting susunya harus sering-sering dikeluarkan untuk memberikan kesempatan bayi bernapas. Bila bayi masih belum mau mengisap, ASI harus di pompa, dan diberikan pakai sendok. Jika bayi minum susu formula juga harus diberikan dengan sendok. Bila keadaan membaik dapat dicoba dengan dot, dan dot harus sering dicabut. Berikan susu 1 botol 2-3 kali dengan istirahat ¼ jam karena jika tidak, pasien akan kelelahan. Bila terpaksa memberikan susu sendok juga harus dibagi 2-3 kali karena jika lambung mendadak penuh menyebabkan sesak nafas.
4.      Mengontrol suhu tubuh
Pasien penumonia sewaktu-waktu dapat mengalami hiperpireksia. Untuk ini maka suhu harus dikontrol setiap jam selain diusahakan untuk menurunkan suhu dengan memberikan kompres dingin dan obat-obatan. Satu jam setelah dikompres dicek kembali apakah suhu telah turun.

5.      Mencegah komplikasi / gangguan rasa aman dan nyaman
Komplikasi yang terjadi terutama disebabkan oleh lendir yang tidak dapat dikeluarkan sehingga terjadi atelektasis atau bronkiektasis. Untuk menghindarkan terjadinya lendir yang menetap ( mucous plug) maka sikap baring pasien, terutama bayi, harus diubah posisinya tiap 2 jam dan pengisapan lendir sering di lakukan. Setiap mengubah sikap lakukan sambil menepuk-nepuk punggung pasien kemudian jika terlihat lendirnya meleleh segera di hisap.
Bila lendir tetap banyak, dapat dilakukan fisioterapi dengan postural drainage. Caranya, bayi dibaringkan tengkurap, didepannya letakkan handuk sebagai alas, di bawah perutnya di ganjal guling sehingga posisi kepala lebih rendah. Lakukan tepukan dengan kedua tangan yang dicekungkan di punggung bayi secara ritmik sambil sering diisap lendirnya dari hidung dan mulut. Lama tindakan ini 5-10 menit dan dapat dilakukan pagi dan sore. Jika lendir sudah berkurang maka fisioterapi dapat dilakukan sekali sehari, biasanya pagi saja.
Mengenai gangguan rasa aman dan nyaman seperti pasien lain yang dirawat dirumah sakit. Pemberian O2, pemerikasaan foto, dan pemasangan infus bagi anak akan menimbulkan rasa takut dan tidak menyenangkan. Hal ini hanya perlu pendekatan, jika ada orang tuanya jelaskan semua tindkan dan mintalah orang tua membujuknya. Tindakan sering mengubah sikap berbaring selain untuk mencegah pengendapan lendir juga memberikan rasa aman dan nyaman.

6.      Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit
Penyuluhan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya penyakit pneumonia ialah dengan memberikan pengertian jika anak batuk pilek disertai dengan demam sudah 2 hari tidak juga sembuh agar dibawa berobat ke pelayanan kesehatan.
Pada bayi dan anak kecil yang keadaan umumnya lemah, misalnya baru sembuh dari penyakit diare atau anak sering batuk pilek, janganlah dibawa keluar pada malam hari atau dibiarkan main diluar jika udara tidak baik karena hal tersebut dapat menjadi penyebab pneumonia. Selain hal itu perlu pemeliharaan kesehatan dan kebersihan lingkungan agar anak tetap sehat.














 ASKEB PADA BALITA SAKIT


Tanggal masuk            : 16-12-2008
Pukul                           : 11.15 WIB
No.MR                        : 56
1. PENGKAJIAN                                          tgl/jam : 16-12-2008 / 11.15 WIb
            A. Data Subyektif
                        1. Identitas      balita
                                    Nama               : An. G
                                    Umur               : 3 tahun
                                    Jenis kelamin   : perempuan
                                    Tanggal lahir   : 12-12-2005
                        2. Identitas penanggung jawab
                                    Nama               : Ny. S
                                    Umur               : 29 tahun
                                    Agama             : Islam
                                    Pendidikan      : SMP
                                    Pekerjaan         : IRT
                                    Suku/bangsa    : Jawa/Indonesia
                                    Alamat                        :Kauman
                                    Telp                 : 08175754260
                        3. Anamnesa
                                    a. Keadaan bayi
                                                Bayi tampak lemah, pucat
                                    b. Alasan pemeriksaan
                                                Ibu mengatakan sudah 2 hari anaknya demam dan batuk-batuk

                                    c. Riwayat obstetric
                                                P2 A0 Ah2
                                    d. Riwayat persalinan
NO
ANAK KE
JENIS PERSALINAN
PETUGAS
TEMPAT PERSALINAN
1.
An.T
Spontan
Bidan
Puskesmas
2.
An.G
Spontan
Lahir Tgl 12-12-08
BB : 3000 gr
PB : 48 cm
LD : 32 cm
LK : 33 cm
LILA : 8 cm
Bidan
Puskesmas
                                   
                                    e. Status imunisasi
IMUNISASI
TANGGAL I
TANGGAL II
TANGGAL III
TANGGAL IV
BCG




Hepatitis B




DPT




POLIO




Campak




MMR




Meningitis




Ibu mengatakan anaknya yang bernama An.G sudah lengkap mendapatkan imunisasi
f. Pola kebutuhan sehari-hari
1) Nutrisi
Porsi makan sehari-hari     :2x sehari setengah piring
Jenis                                  :Nasi dan lauk
Makanan pantang              :Tidak ada
Pola minum                       :4-5 gelas
Masalah                             :Susah makan dan susah minum
2) Eliminasi
a) BAK
Frekuensi   5-6 kali/hari jumlah                 warna kuning       jernih
Keluhan tidak ada
b) BAB
frekuensi 1 kali/hari jumlah           warna kuning             
Keluhan tidak ada
3) Istirahat
Siang 2 jam malam 8 jam 
Keluhan selalu terbangun pada saat tidur
4) Aktivitas                 : Bermain
5) Personal higiene      :
Anak mandi          : 2 kali/hari
Gosok gigi             : 2 kali/hari
Ganti pakaian        : Sesuai kebutuhan
                     B. Data Obyektif
                        1.Pemeriksaan umum
                                    KU                  : Lemah
                                    Kesadaran       : Composmentis
                                    PB                   : 78 cm
                                    BB                   : 10 kg
                                    LLA                : 13 cm
                                    LK                   : 40 cm
                                    LD                   : 42 cm
                                    Vital sighn       : T: -,                N: 84 kali/menit
 S:39° C           R:56 kali/menit
                        2. Pemeriksaan fisik
                                    Kepala             : Mesocepal, rambut hitam, lebat
                                    Muka               : Simetris, pucat
Mata                : Simetris, konjungtiva merah muda, sclera putih
                                    Hidung            : Berlubang, bersih, tidak ada polip
                                    Bibir                : Tidak ada stomatitis, lidah kotor
                                    Telinga            : Simetris bersih
Leher               : Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada bendungan vena jugularis
                                    Aksila              :Tidak ada benjolan
Dada               :Simetris, ada puting, ada tarikan dinding dada kedalam.
                                    Abdomen        :Tidak ada luka operasi
                                    Genetalia         :Bersih
                                    Ekstremitas     :Jari kaki dan tangan lengkap
                        3. Pemeriksaan penunjang

           
II. INTERPRESTASI DATA                        Tgl/jam 16-12-2008/11.30 WIB
  1. Diagnosa Kebidanan
Seorang balita sakit, umur  3 tahun, perempuan dengan bronkopneumonia.
Data dasar
DS : 
§  Ibu mengatakan anaknya sudah 2 hari batuk-batuk, demam tinggi.
§  Jenis kelamin anak perempuan
§  Tanggal lahir anak  12-12-2005, umur 3 tahun
DO :
§  Ku                   : lemah
§  Kesadaran       : composmentis
§  Pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis disekitar hidung dan mulut

  1. Diagnosa Masalah
 Ibu mengatakan selama 2 hari anaknya  demam tinggi dan lemah

III. DIAGNOSA POTENSIAL
Tidak ada

IV. ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Tidak ada

V. PERENCANAAN            tgl:16-12-2008    jam:11.35 WIB
§  Informasi hasil pemeriksaan
§  Pemberian obat oral
§  Berikan KIE untuk merangsang nafsu makan anak

VI. PELAKSANAAN
§  Menginformasikan hasil pemeriksaan ( mengukur suhu, respirasi dan nadi)
§  Telah memberikan obat paracetamol syrup dan amoxillin syrup
§  Telah memberikan KIE untuk merangsang nafsu makan anak dan menyarankan untuk istirahat



VII. EVALUASI
§  Ibu telah mengetahui hasil pemeriksaan ( S : 39º C, R : 56 x/menit, N : 84 x/menit )
§  Ibu bersedia meminumkan obat paracetamol  syrup dan amoxillin syrup dengan dosis ½ sendok teh 3 x/hari  
§  Ibu telah mengetahui dan mengerti cara merangsang nafsu makan anak salah satunya dengan memberikan multivitamin penambah nafsu makan dan berusaha agar anaknya mau istirahat





















DAFTAR PUSTAKA

. Http://augusfarly.Wordpress.com/2008/08/21/asuhan Keperawatan pada anak-anak               dengan broncopeneumoni/
Hasan rusepno dkk. Ilmu Kesehatan Anak. Infomedika . 1981.Jakarta.
Wiknjosastro hanifa dkk. Ilmu Kebidanan. Tridasa printer. 2006.Jakarta.
Ngastiah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta.
Staff Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 1985.Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar